Dimas Harris Sean Keefe, akademisi muda Indonesia yang juga menjabat sebagai dosen di Graduate School of International Studies (GSIS), Pusan National University, Korea Selatan, menyambut positif Program Magang Nasional 2025 bagi fresh graduate. Dimas baru saja sukses menggelar Indonesia—Korea Higher Education Forum (IKHEF) 2025 pada 13 Agustus 2025 lalu di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Oleh Gatot Susanto
DIMAS menilai Program Magang Nasional merupakan langkah strategis pemerintah RI untuk menjembatani kesenjangan antara dunia kampus dan dunia kerja. Pendaftaran magang ini sudah dibuka Selasa (7/10/2025) sampai 12 Oktober 2025 dan pelaksanaan magang dimulai 15 Oktober sampai enam bulan ke depan.
Tantangan utama kita selama ini bukan hanya pada ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga pada kesiapan kompetensi dan pengalaman praktis lulusan baru.
Karena itu, inisiatif ini bisa menjadi jembatan penting, asal dijalankan dengan prinsip mutual growth, yaitu memberi manfaat nyata bagi peserta magang sekaligus meningkatkan produktivitas industri.
“Di Korea Selatan, sistem magang sudah menjadi bagian integral dari ekosistem pendidikan dan ketenagakerjaan. Mahasiswa di sini menjalani magang bukan sekadar latihan kerja, melainkan proses pembelajaran berbasis industri yang terukur dan menjadi indikator penting akreditasi universitas.
Kolaborasi antara pemerintah, kampus, dan perusahaan diatur secara sistematis sehingga lulusan memiliki job readiness dan career mindset yang kuat,” kata Dimas kepada DutaIndonesia.com, Rabu (8/10/2025).
Pelajaran yang bisa diambil dari Korea Selatan, kata Dimas, adalah pentingnya desain program magang yang berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberlanjutan. Magang seharusnya tidak berhenti pada pengalaman sementara, tetapi menjadi bagian dari strategi pembentukan talenta nasional yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing global.
“Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari berapa banyak peserta yang diterjunkan, tapi dari seberapa besar dampaknya dalam membentuk mentalitas dan kapasitas kerja generasi muda Indonesia,” katanya.
Sebagai tambahan soal magang internasional di Korea Selatan, sistemnya memang sudah sangat terbuka untuk mahasiswa asing, termasuk dari Indonesia.
Banyak universitas di Korea menjadikan magang sebagai bagian kurikulum resmi, dan beberapa juga menyediakan program riset serta industry internship bagi mahasiswa internasional, seperti di KAIST, GIST, dan Korea University.
Tujuannya bukan hanya memberi pengalaman kerja, tapi juga memperkenalkan budaya profesional dan standar industri Korea yang disiplin dan inovatif.
“Kalau ekosistem seperti ini bisa diadaptasi dalam Magang Nasional, Indonesia punya peluang besar membangun generasi muda yang tidak hanya siap kerja, tapi juga siap bersaing di level global,” katanya. (*)














