Alfina Rahma Mawaddah, “Sarjana NU Inspiratif”

oleh

Beberapa Titik Kesamaan

Dari jejak digitalnya ternyata saya menemukan beberapa kesamaan dengan sejarah hidup saya. Pertama, kali pertama ia diajarkan qira’ah dari ibunya yang juga qari’ah dan vokalis qashidah. Ibu saya juga seorang qori’ah di kampung. 

Bahkan sebelum sakit pasca purna dari Guru PAI SD, ibu masih membina qira’ah di kampung. Saya termasuk pernah menerima tempaan beliau ketika masih kecil, kali pertama mengenal qira’ah.

Kedua, pernah mendapat tempaan dari guru yang sama, Alm. Ustd. H. M. Fuad. Alfina merupakan salah satu kader terbaik Ustd. Fuad. Saya pernah belajar kepada beliau selama hampir 7 tahun. Beliau inilah yang menajamkan ilmu irama dalam qiraah yang sebelumnya cuma bisa menirukan dan melagukan, tapi tidak bisa menyebutkan. 

Saya baru bisa membedakan mana bayyati, Shaba, Hijaz, Rasyt, Sika, Nahawan, hingga Jiharkar dari sang maestro pembina qira’ah itu, meski prestasi saya tidak semoncer Alfina, ‘podo tarangane, bedo dadine’. 

Dialah yang mengingatkan guru saya yang kali terakhir bertemu beliau pada saat bertugas khutbah di Masjid Al Bahri Pasmar Gedangan, beliau menjadi imam. Saya ditakdirkan bertemu setahun sebelum beliau wafat sepulang dari juri MTQ Nasional di Padang beberapa waktu lalu.

Padahal sudah beberapa tahun khotib di masjid tersebut saya tidak pernah bertemu beliau. Seolah saat itu saya di’pamiti’ beliau Allahu Yarham. 

Ketiga, meniti karir dari guru qira’ah dan ekstra qira’ah di sekolah. Saya menjadi pembina qiraah sejak Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga kuliah. Bahkan, hingga kini masih saja ada yang minta saya mengajar qira’ah di sebuah masjid, meski harus menolak secara halus karena saya merasa kurang ilmunya.

Tapi sebagai qari’ saya tetap bertahan karena pernah dipesan seorang ustdz agar tidak meninggalkan ‘profesi’ ini. Beberapa event di Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo, salah satu tempat khidmah, saya beberapa kali diminta menjadi qori’. 

No More Posts Available.

No more pages to load.