Prestasi Non Akademik, Bukan Sekadar Alternatif
Paradigma lama, orang masih memandang Indeks Prestasi Akademik (IPK) sebagai primadona. Sementara non akademik kurang diperhatikan. Saya pernah mengalami lomba Tartil tanpa dikawal dari sekolah.
Padahal saat itu juara 1 se Kota Surabaya dan sekitarnya. Saya bawa trophy besar hampir setinggi badan, naik angkot dua kali lagi. Pengalaman inilah yang tidak boleh terjadi pada diri peserta didik.
Sekarang paradigma itu berubah. Keduanya menjadi bagian integral yang tidak terpisahkan. Saya pun sudah mengalami prestasi akademik meski mengalami fluktuatif. Terakhir pada pendidikan, S.3. IPK saya (maaf), 3.98, dan tentu dinobatkan sebagai wisudawan terbaik.
Maka, sejatinya prestasi akademik maupun non akademik itu bagian dari Sunnatullah, sesuai ‘cetakan-Nya, tetapi harus tetap diasah sebagai bentuk kesyukuran.
Alfina menjadi salah satu yang mendapatkan anugerah Sunnah-Nya berupa suara yang luar biasa indahnya.
Menjadikannya sebagai modal untuk mendapatkan prestasi non akademik bidang tilawah, artinya tidak lagi menjadi alternatif, tapi sudah menjadi takdirnya, asal mampu mengikhtiarinya.
Dengan segudang prestasi, dedikasi, dan budi pekerti yang rendah hati, tidak silau akan prestasi, maka tidak salah jika ia dinobatkan sebagai “Sarjana NU Inspiratif” oleh PC ISNU Sidoarjo. Semoga manfaat dan tetap menjadi inspirasi. (*)
Keterangan Foto:
Sholehuddin menyerahkan Piagam Penghargaan kepada Alfina Rahma Mawaddah, “Sarjana NU Inspiratif” pada Konfercab III PC ISNU Sidoarjo Sabtu (16/10).
*Dr. H. Sholehuddin, M, Pd.I adalah Ketua Terpilih pada Konfercab III Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Sidoarjo 2021.














