Banjir Meluas, Jatim Siaga Bencana

oleh

MADIUN|DutaIndonesia.com – Wilayah terdampak banjir di Jawa Timur (Jatim) meluas. Sriyono, Biro Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, mengatakan, selain banjir di Blitar, Malang Selatan, dan Banyuwangi, ada tiga kabupaten lain yang juga terdampak banjir, di antaranya Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ponorogo, dan Kabupaten Trenggalek.

Menurut dia, di Kabupaten Ponorogo dilaporkan ada banjir dengan ketinggian 20-30 cm.  “Kabupaten Pacitan yang hari Sabtu (15/10/2022) kebanjiran itu, sudah hilang, sudah surut, tapi sekarang datang lagi. Daerahnya sama sekitar alun-alun di kota juga,” tutur Sriyono dikutip dari suarasurabaya.net.

Sriyono mengatakan bahwa banjir yang paling parah terjadi di Kabupaten Trenggalek, dengan ketinggian sampai lebih dari 1 meter.  “Trenggalek lumayan tinggi. Di kota sampai lebih dari 1 meter. Dan tim dari provinsi sudah meluncur dengan membawa peralatan perahu karet, mobil tangki air untuk air bersih, selimut, sembako, dan sandang,” katanya.

Dia juga mendapatkan informasi terkait beberapa jembatan di Kabupaten Trenggalek putus karena banjir bandang tersebut.

Ahmad Budiharto, Plt. Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, menambahkan, ada 21 desa di 5 kecamatan terdampak banjir dan 5 kecamatan lain terkena tanah longsor.  Banjir yang datang dimulai dari arah barat. 

“Didahului dari Kecamatan Karangan dan Kecamatan Gandusari, setelah itu masuk Kelutan, di wilayah timur, Kecamatan Pogalan dan Durenan,” jelasnya.

 Sedangkan untuk ketinggian banjir, dia menyebut, ada yang sampai 1 meter.  

Dalam kesempatan tersebut dia menyampaikan bahwa jaringan PLN, sarana, dan prasarana umum di sana masih normal. Kemudian untuk data wilayah yang terdampak longsor, ia menyebut masih dalam pendataan petugas.

Saat banjir Trenggalek mulai surut, air bah bergeser ke wilayah Tulungagung. Kapolsek Bandung, Iptu Dadang Triyanto mengatakan, banjir kiriman dari Trenggalek telah menggenangi 5 desa di Kecamatan Bandung, Tulungagung. Di antaranya Desa Sukoharjo, Sooko, Gandong, Bandung, dan Suruhanlor.

“Kondisi saat ini semakin meluas banjirnya. Kalau kemarin hanya di Sukoharjo, Sooko dan Gandong, saat ini sudah ke Bandung dan Suruhanlor,” kata Dadang, Rabu (19/10/2022).

Menurutnya, ketinggian banjir bervariasi dengan titik terparah mencapai satu meter. Akibatnya, sebagian rumah warga terendam. Sementara itu di Kecamatan Durenan, Trenggalek, banjir masih tersisa di beberapa titik. Salah satunya di Desa Ngadisuko.

“Di Ngadisuko itu ada yang sudah surut, tapi ada juga yang masih tergenang. Seperti di rumah saya ini air masih lumayan deras di depan. Ada yang masuk rumah juga,” kata salah seorang warga Ngadisuko, Trenggalek, Bambang.

Menurutnya, kondisi air berangsur-angsur surut. Pihaknya berharap banjir bisa segera surut sehingga aktivitas masyarakat kembali normal.

Siaga Bencana

Melihat curah hujan yang tinggi, sejumlah kabupaten / kota di Jatim melakukan siaga bencana antisipasi banjir. Misalnya curah hujan di wilayah Madiun (Kabupaten dan Kota) saat ini intensitasnya cukup tinggi dan terjadi hampir setiap hari.

Karena itu Pemerintah Kabupaten dan Kota Madiun siap siaga untuk mengantisipasi terjadinya bencana, khususnya banjir.

Walikota Madiun, H. Maidi, mengungkapkan, Pemkot Madiun sudah mengantisipasi terjadinya bencana baik petugas maupun sarana prasarananya. Sebanyak 300 personel disiagakan dan peralatan ringan hingga berat disiapkan. Juga, memasang early warning system (EWS) di posko Pilangbango dan Taman Bantaran mengingat daerah tersebut rawan dan berpotensi banjir.

“Bencana tidak bisa diprediksi. Kita harus waspada. Jangan sampai sudah terjadi baru bertindak. Langkah-langkah antisipasi harus digencarkan. Maka semua kita siapkan,” ungkap Walikota Maidi.

Kapolres Madiun, AKBP Antin Prasetyo, mengatakan Polres Madiun juga dalam keadaan siaga bencana. Setiap personel Polri harus memiliki kapabilitas untuk menangani bencana di daerah masing-masing. Untuk itu, dia menginstruksikan kepada seluruh jajaran untuk selalu siap dalam mengantisipasi terjadinya bencana. 

“Lebih bagus siap tapi tidak digunakan daripada saat digunakan kita tidak siap,” tandas Kapolres Madiun.

Sementara Bupati Madiun melalui  Kepala Pelaksana BPBD Kab. Madiun, Muhamad Zahrowi menegaskan bahwa bencana adalah urusan bersama. Maka penanganan dan pengendalian dilakukan bersama baik personel struktural maupun non struktural. “Semua unsur pemangku komponen terlibat baik pentahelix maupun multihelix,” tegas Zahrowi.

Bila terjadi darurat bencana, lanjut dia, BPBD telah membentuk beberapa cluster antara lain peringatan dini dan alkom, penanganan pertama gawat darurat (PPGD), evakuasi, pengungsian dan perlindungan, dapur umum dan logistik, dan kani cepat dan jitupasna.

” Pergerakan cluster tersebut di bawah komando langsung Pusdalops BPBD Kabupaten Madiun,” katanya.

Zahrowi mengimbau agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Jangan panik bila terjadi bencana dan laporkan apabila terjadi kegawatdaruratan ke Posko di Mako BPBD Kabupaten Madiun.

“Yang tak kalah pentingnya, guna pencegahan bencana banjir, tingkatkan perilaku peduli lingkungan. Buanglah sampah pada tempatnya,” pungkasnya.

Begitu pula Kabupaten Sampang yang dikenal rawan bencana banjir.  Untuk itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Sampang bersama BPBD Provinsi Jawa Timur serta Siap Siaga yang merupakan Partnership Pemerintah Indonesia dengan Australia, melakukan antisipasi bencana. Untuk itu, mereka membentuk Tim Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana (Jitupasna) Kab. Sampang di Hotel Bahagia Sampang kemarin.

Bagian Program Police Officer Provinsi Jawa Timur, Estu Widyawati mengatakan bahwa Siap Siaga di Jawa Timur ada empat lokasi yang dijadikan prioritas, di antaranya Kabupaten Sampang, Pasuruan, Banyuwangi dan Kabupaten Pacitan. “Fokus kami di provinsi ada empat kabupaten tersebut,” katanya. * (her/wis/isn)

Keterangan Foto:

WALIKOTA Madiun H. Maidi bersama jajaran Forkopimda saat Apel Bersama Siaga Bencana.

No More Posts Available.

No more pages to load.