Barat Vs China: Indonesia Harus Genjot Pendidikan dan Riset Proyek Strategis Agar Tak Dicaplok Negara Lain

oleh
Agoes Aufiya dan keluarga saat ini tinggal di New Delhi India. (Foto: Dok. Agoes Aufiya)

Di samping kita “aktif” menjalin hubungan yang saling menguntungkan antara kedua negara, Indonesia juga harus mampu “bebas” dari ketergantungan yang dikhawatirkan terlalu dalam termasuk dalam hal ketergantungan ekspor, impor dan investasi yang didominasi oleh RRC di Indonesia.

Sehingga kebijakan “Bebas-Aktif” Indonesia masa kini yaitu Indonesia harus terus meningkatkan kemandirian untuk berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) khususnya pada aspek ekonomi dengan:

(1) mendukung produk dalam negeri; (2) peningkatan sumber daya manusia putra-putri Indonesia dan yang tak kalah penting, (3) melakukan diversifikasi merjasama ekonomi untuk menghindari dominasi dan ketergantungan pada negara tertentu. 

Kedua hal pertama tersebut perlu keseriusan, strategi dan investasi besar pemerintah dalam hal pendidikan dan juga riset proyek strategis. 

Perlu diingat bahwa Kebijakan ‘Bebas-Aktif’ harus dijauhkan dari pragmatisme politik-ekonomi yang bersifat semu bagi pembangunan nasional, tentu ini pemerintah yang bertanggungjawab besar.

Walau Indonesia memiliki keeratan hubungan ekonomi dengan RRC, Indonesia di satu sisi memiliki keeratan dan kepercayaan lebih pada hubungan politik dan keamanan dengan negara barat terkhusus Amerika Serikat dengan status sesama negara demokratis, menjunjung Piagam PBB dan Hukum Internasional. 

Fenomena ini tentu merupakan salah satu keuntungan dari kebijakan “Bebas-Aktif” namun kembali lagi pada realitas politik Internasional bahwa setiap negara akan mementingkan kepentingan politik masing-masing sehingga Indonesia mau tidak mau harus dapat berdiri di atas kaki sendiri baik secara politik, ekonomi dan keamanan tanpa tergantung pada negara lain.