Oleh Ulul Albab,
Ketua ICMI Jawa Timur
RESHUFFLE kabinet selalu membawa drama. Tapi kali ini, drama itu terasa lebih kental. Bukan hanya karena Sri Mulyani turun, bukan sekadar karena ada kementerian baru bernama Haji dan Umrah. Melainkan karena terselip aroma lain: rumor bahwa Presiden Prabowo mulai melakukan “bersih-bersih geng Solo.”
Dari Siang ke Sore
Sejak siang hari isu reshuffle sudah ramai. Nama-nama yang digeser beredar di grup WhatsApp politisi, wartawan, sampai tukang ojek langganan. Dan benar saja, Senin sore itu, jam empat, di Istana Negara, Sri Mulyani resmi turun. Bersama beberapa nama lain, kursinya berpindah.
Namun yang lebih menarik justru bukan siapa yang masuk, melainkan siapa yang keluar.
Geng Solo dan Kekuasaan
Dalam lima tahun terakhir, kita sering mendengar istilah “geng Solo.” Sebutan itu lahir karena banyak figur penting di pemerintahan sebelumnya berasal dari lingkaran dekat Presiden Jokowi. Ada yang lahir di Solo, ada yang berkarir di sana, ada pula yang sekadar ikut terbawa arus.
Kini, satu per satu dari mereka mulai kehilangan kursi. Ada yang digeser ke posisi lain, ada yang dibiarkan kosong, ada pula yang pelan-pelan dipinggirkan. Publik pun menafsirkan: Prabowo sedang merapikan rumahnya.
Satire Politik
Dalam politik, tak ada istilah “teman abadi.” Yang ada hanyalah kepentingan abadi. Maka tak heran bila rumor “bersih-bersih” ini makin ramai. Prabowo mungkin tak akan pernah mengakuinya. Tapi publik bisa membaca bahasa tubuh kekuasaan.
Kursi Menko Polhukam yang ditinggalkan Budi Gunawan? Kosong. Kursi Menpora? Kosong. Publik bertanya-tanya: kosong sementara, atau memang sengaja dikosongkan untuk menandai babak baru?
Ekonomi dan Simbol
Pencopotan Sri Mulyani punya bobot lebih dari sekadar ganti menteri. Ia adalah simbol. Di dalam negeri, ia sering dipandang “penjaga kas” yang kerap bikin politisi frustasi karena tak mau menuruti permintaan dana. Di luar negeri, ia simbol kredibilitas.
Maka ketika Sri turun, publik tak hanya melihat sisi ekonomi. Mereka juga membaca sisi politik: apakah ini tanda bahwa Prabowo ingin memutus rantai lama, termasuk rantai geng Solo?
Reshuffle sebagai Pesan
Reshuffle senin sore itu terasa bukan sekadar administrasi. Tetapi pesan politik yang terang-benderang: Presiden ingin kabinetnya bersih dari bayangan masa lalu, dan lebih berwajah Prabowo sendiri.
Pertanyaannya: apakah ini langkah awal menuju konsolidasi penuh? Ataukah hanya penyesuaian sesaat untuk meredam tekanan pasar dan publik?
Penutup
Senin sore itu, Sri Mulyani turun. Tapi yang naik bukan sekadar Purbaya di kursi Menkeu, atau Irfan Yusuf di kursi Menteri Haji dan Umrah. Yang naik adalah sinyal bahwa Prabowo mulai membersihkan kabinet dari jejak lama.
Entah benar entah hanya rumor, publik sudah lebih dulu percaya: era geng Solo di kabinet mulai redup, dan babak baru di bawah komando penuh Prabowo sedang dimulai. (*)
Video Reshuffle Kabinet:















