SURABAYA | DutaIndonesia.com – SIAPA saja yang selalu bersyukur dan bersabar atas segala takdir dan ketentuan dari Allah, akan mendapatkan hidayah (petunjuk) dari Allah SWT.
Rasulullah bersabda, “Syukur dan sabar adalah dua kendaraan menuju Allah, dan tidak ada perjalanan tanpa keduanya.” (Ibnul Qayyim).
Hal ini ditegaskan oleh Prof DR KH Asep Syaifuddin Chalim MA, Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, saat memberikan pengajian kitab kuning pagi tadi di Siwalankerto, Wonocolo, Surabaya.
Dijelaskan oleh Kiai Asep, bahwa rasa bersyukur atas semua karunia Allah, harus benar-benar diresapi, diamalkan. Dalam arti hatinya bersyukur, lisannya berucap “Alhamdulillah…. alhamdulillah wa syukurillah,,,”
Demikian juga dengan tindakan (perilaku) harus mencerminkan rasa syukur tersebut.
“Ingat Allah maha tahu, apa yang ada di hatimu dan apa niat dan maksud setiap perilakumu,” kata Kiai Asep mengingatkan.
Dalam hal ini, Allah berjanji dalam Qur’an Surat Ibrahim ayat 7. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu”.
“Jadi rasa Syukur itu akan mengundang atau mendatangkan tambahan nikmat yang baru lagi,” katanya.
Secara psikologis, rasa Syukur akan membawa ketenangan dan kebahagiaan.
Sebaliknya, orang yang selalu merasa kurang dan tidak puas, dengan mengeluh selalu, maka itu artinya mengingkari nikmat Allah. Maka Allah tidak akan menambah nikmat baru, dan jiwanya akan merasa gundah gulana, tidak tenang.
BERSABAR
Selain bersyukur, maka orang itu juga harus bersabar. Bersabar atas kondisi yang ada. Tanamkan pemahaman dalam jiwa, bahwa segala ketentuan Allah yang berlaku pada diri kita itu, itu pasti yang terbaik.
Karena Allah maha menskenario, dan setiap skenario Allah memiliki hikmah yang terbaik. Bagi yang sabar, ia akan mendapatkan kebaikan. Sebaliknya bagi yang tak sabar, ia akan mendapatkan masalah baru.
Bagaimana cara bersabar ? Kiai Asep mengatakan “Jagalah kepala dan perutmu dengan baik”.
Dijelaskan oleh Kiai Asep, kita harus ‘menjaga kepala’, karena di kepala terdapat otak, mata, hidung, telinga dan mulut. Semuanya harus dijaga, dikendalikan, sehingga menuju dalan satu arah, yakni kebaikan.
Sebaliknya harus dijaga dari keburukan dan kemudhorotan. Otak harus dikondisikan pada pikiran-pikiran yang baik, yang positif. Mata dipakai untuk melihat yang baik-baik, hidung untuk mencium hal-hal yang baik, mulut dipakai bicara untuk hal-hal yang baik, demikian pula telinga, dipakai mendengar hal-hal yang baik pula.
Sedangkan perut, adalah sumber dari nafsu. Maka isilah dengan makanan-makanan yang baik, yang halal, dan jangan banyak-banyak, secukupnya. Sehingga nafsu kita tidak liar, dapat dikendalikan.
“Syukur dan sabar itu, ibarat dua sayap yang mengantar kita ke pada keridhoan Allah. Bila kita dalam koridor ridho Allah, maka dunia hingga akherat akan kita dapatkan penuh ketenangan, kenikmatan dan kebahagiaan” kata Kiai Asep mengakhiri.
Hikmah yang nyata, dan sudah dirasakan Kiai Asep, bila kita banyak berdzikir, ‘Alhamadulillah ya syukurillah….’, hati bersyukur, perilakunya juga sabar, semua masalah yang sebelumnya ruwet, maka Allah akan memberikan kejelasan satu persatu berikut jalan keluarnya.(Moch. Nuruddin)












