MELBOURNE |DutaIndonesia.com – Masyarakat Australia biasanya menyambut perayaan Australia Day setiap tanggal 26 Januari. Salah satunya dengan pawai Australia Day yang digelar pada Kamis (26/1/2023) hari ini.
Ajang ini juga menjadi kesempatan bagi diaspora Indonesia di negeri Kanguru untuk mempromosikan seni-budaya Indonesia di hadapan publik Australia.
Namun kali ini Australia Day bukan momen yang wajib dirayakan sehingga suasananya pun tidak semeriah sebelumnya. Hal ini disambut beragam oleh diaspora Indonesia di Australia. Bagi mereka yang biasanya ikut tampil merayakan Australia Day tentu kecewa, tapi secara umum diaspora tidak mempermasalahkan peniadaan acara tersebut.
“Sebenarnya bukan ditiadakan. Perusahaan diberi kebebasan mau menawarkan hari libur (Public Holiday) atau karyawan mau kerja Australia Day dan public holiday diganti hari lain untuk yang bersangkutan. Beberapa councils (setara pemda kecamatan) ada yang merayakan ada yang tidak,” kata Vera Segoh, diaspora Indonesia di Melbourne, kepada DutaIndonesia.com, Rabu (25/1/2023).
Salah satu yang meniadakan acara itu adalah Pemerintahan Victoria yang tahun ini tidak menggelar pawai di momen tersebut. Sementara Pemkot Adelaide tetap mengadakan pawai.
Lalu apa dampaknya bagi diaspora Indonesia? “Tidak ada dampak buat masyarakat Indonesia di sini. Orang Indonesia lebih mementingkan makan-makan bersama kalau kumpul-kumpul daripada bicara politik,” kata mantan wartawan Harian Sore Surabaya Post ini.
Vera Segoh mengatakan, Australia sangat luas. Councilsnya juga banyak. Tiap-tiap perayaan Australia Day oleh Council acaranya juga bermacam-macam. “Mungkin saja ada penari Indonesia kehilangan order karena perayaan Australia Day di Councilnya dibatalkan,” katanya.
Keberagaman Budaya
Rini Handayani, warga Indonesia di Geelong, misalnya. Dia bersama penari lain yang tergabung dalam Widya Luvtari Indonesian Dance Group biasanya sudah mempersiapkan diri untuk tampil dalam pawai Australia Day di pusat kota Melbourne.
Tapi tahun ini mereka tidak akan tampil, karena pemerintah negara bagian Victoria, dengan ibu kota Melbourne, dilaporkan telah “diam-diam” meniadakan pawai Australia Day. Rini pun mengaku menyayangkan hal itu.
Dalam pawai Australia Day komunitas migran biasanya menampilkan tarian dan busana dari negara asal mereka, termasuk dari Indonesia.
“Australia Day parade itu sebenarnya untuk mempromosikan keberagaman budaya di Australia ya,” ujar Rini dikutip detik.com dari ABC Australia.
Rini mengatakan, secara pribadi, sebagai seorang migran, dia tetap berharap ada satu hari di Australia yang bisa mengakui eksistensi dan budaya asalnya. “Semua yang hidup di tanah Australia yang kita sayangi dan banggakan ini berasal dari berbagai negara dan budaya. Tapi untungnya masih ada Moomba parade di bulan Maret dan bisa menjadi ajang untuk memperkenalkan budaya Indonesia juga,” ujar Rini.
Menghormati Aborigin
Keputusan Pemerintahan Victoria meniadakan pawai juga mendapat tanggapan dari First Peoples’ Assembly of Victoria. Lembaga untuk merepresentasikan warga Pribumi Australia itu menyatakan acara tahunan tersebut seperti “tamparan di muka” mereka.
Australia Day menjadi sebuah kontroversial karena jatuh di tanggal 26, saat pertama kali bangsa Eropa datang ke benua Australia dan dianggap menandai dimulainya perampasan hak-hak hidup dan tanah warga Pribumi Aborigin. Tak heran jika di tahun-tahun sebelumnya, ribuan warga juga melakukan aksi unjuk rasa ke pusat kota Melbourne untuk memperingati “Invasion Day”.
Menurut catatan City of Melbourne, penonton pawai Australia Day menurun drastis dari 72 ribu orang di tahun 2018 menjadi 12 ribu orang di tahun 2019. Sementara di tahun 2020, sebelum pandemi COVID-19, hanya dihadiri 2.000 orang.
Tahun ini, Melbourne tetap akan menggelar pengibaran bendera di Government House, diikuti dengan penembakan meriam di Shire of Remembrance, dan acara di Federation Square dengan tema refleksi, menghormati, dan perayaan.
Sementara di negara bagian Australia Selatan, pawai Australia Day masih tetap digelar. Duapuluh empat warga Indonesia, termasuk para mahasiswa, dari beragam komunitas daerah turun ke jalanan pusat kota Adelaide.
Julia Wanane, Presiden Australia Indonesia Association (AIA) SA Inc. mengatakan mereka akan mengenakan pakaian daerah dengan beberapa membawa alat musik tradisional.
“Saya pikir Australia Day adalah momen yang baik untuk bersama merayakan keberagaman di Australia, meski pun mungkin bagi masyarakat Pribumi itu adalah hari di mana orang kulit putih datang dan mengambil tanah mereka,” kata Julia.
Secara pribadi, Julia berpendapat Pemerintah Australia sudah berusaha untuk merangkul masyarakat Pribumi melalui kebijakan-kebijakan yang ada. Dalam acara Australia Day tahun ini, dia mengatakan pihak penyelenggara meminta dua perwakilan dari setiap kelompok budaya untuk mengikuti upacara asap tradisional warga Pribumi, dikenal dengan sebutan “Welcome to Country”.
“Di sana mereka akan diajarkan gerakan secara langsung oleh Indigenous elder (pemimpin penduduk Pribumi),” katanya.
“Jadi kita diajari untuk menunjukkan bahwa kita menghormati dan menghargai penduduk Pribumi, kebudayaan mereka dan mau belajar budaya mereka meski dari latar belakang kebudayaan berbeda.”
Selain acara tradisional penduduk Pribumi, perayaan Australia Day yang bertema “Rekonsiliasi” di Adelaide juga akan diwarnai dengan pertunjukan kembang api dan musik, pengibaran bendera, hingga beragam makanan. (gas)
Keterangan Foto:
Warga merayakan Australia Day.














