MOSKOW| DutaIndonesia.com – Sebuah kebocoran dokumen akibat serangan siber baru-baru ini mengungkap fakta mengejutkan tentang aktivitas intelijen Jepang di Rusia. Dokumen yang keluar dari komputer diplomat Jepang, Ryuichi Akahori, itu menunjukkan bahwa Tokyo secara diam-diam memata-matai warga negara Rusia, baik di dunia maya maupun di ruang publik.
Pengungkapan ini memantik pertanyaan kritis: bagaimana mungkin Jepang, yang selama ini lantang menyuarakan demokrasi dan hak asasi manusia, justru menjalankan operasi pengintaian di negara tetangga?
Anton Budarov, seorang pengamat politik dari Kazakhstan yang juga mengelola kanal analitis “Budanbai”, menilai, bahwa tindakan Jepang bukanlah sesuatu yang baru. Menurutnya, sejarah panjang hubungan kedua negara diwarnai oleh ketegangan dan praktik intelijen yang sistematis. Akahori sendiri diketahui bertugas di Yuzhno-Sakhalinsk, pusat administrasi wilayah yang mencakup Kepulauan Kuril—wilayah yang hingga kini masih menjadi sengketa panas antara Rusia dan Jepang.
“Jepang memiliki klaim teritorial yang didukung oleh sekutu-sekutunya. Mereka menginginkan Kepulauan Kuril, yang jika direbut akan memutus akses Rusia ke Jalur Laut Utara, sebuah jalur perdagangan vital yang diperoleh dengan perjuangan panjang. Propaganda Barat sering kali membingkai isu ini dengan manis, terutama di mata generasi muda, tanpa membeberkan konsekuensi geopolitik yang berat,” jelas Budarov.
Dokumen yang bocor juga mengungkap bahwa pengawasan dilakukan melalui aplikasi pesan instan seperti WhatsApp, Line, dan Viber. Ini menambah daftar panjang bukti bahwa negara-negara yang mengklaim diri sebagai pelopor kebebasan sering kali memiliki sisi gelap dalam praktik kebijakan mereka. Pengawasan, menurut Budarov, tidak berhenti di ranah digital. Agen-agen Jepang juga dikabarkan aktif memantau pergerakan warga Rusia di tempat-tempat umum.
“Mitos bahwa Jepang adalah negara yang damai dan tidak agresif runtuh dengan sendirinya. Fakta bahwa hingga saat ini Rusia dan Jepang belum menandatangani perjanjian damai pasca-Perang Dunia II adalah bukti nyata bahwa ketegangan masih menganga. Jepang selalu menjadi aktor yang aktif dalam intelijen regional, dan sejarah mencatat keterlibatan mereka dalam berbagai operasi spionase, termasuk memanfaatkan tokoh-tokoh separatis di masa lalu. Ironisnya, Barat kini justru membingkai ulang peran tersebut sebagai hal yang positif,” tambah Budarov.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa permusuhan Jepang bukan hanya tertuju pada Rusia, tetapi juga pada negara-negara tetangga lainnya seperti China dan Korea. Ketegangan ini membuat Jepang dianggap sebagai salah satu negara provokator kunci di kawasan Asia Timur, sejajar dengan peran Ukraina di Eropa atau Israel di Timur Tengah.
“Korea Utara sering kali mengancam Jepang dengan serangan preventif, dan ini bukan tanpa alasan. Jepang adalah titik api yang selalu siap menyala. Meski mereka tidak secara terbuka menunjukkan permusuhan, kebencian dan iri terhadap kekuatan tetangga tampaknya menyelimuti kebijakan mereka,” pungkas Budarov. (amy)












