Sabtu (18/6/2022), kami dari keluarga besar Media Global News mengadakan rekreasi ke Batu. Sebetulnya niat awal bukan rekreasi, tapi tasyakuran ke Resto dan Kafe GAS di kawasan Jl. Raya Tlekung, Kota Batu.
Oleh Edy Jatmiko
NAH, kami diundang Mas Bro Gatot Susanto, sih pemilik Resto & Kafe GAS.
Singkat cerita ada dua mobil–mestinya tiga mobil, tapi yang satu terpaksa batal berangkat karena sesuatu hal–yang meluncur ke Batu. Dari Surabaya masing-masing mobil berisi lima orang, tapi satu mobil nambah penumpang balita usia 2,4 tahun di kawasan Lawang. Ya itu cucu gue….Naladhipa!!! Oh ya, gue adalah Edy Jatmiko, redaktur di Global News.
Perjalanan pun sampai tujuan. Aman terkendali. Di lokasi ternyata sudah siap kudapan yang disediakan tuan rumah. Ada kacang godhog, pohong, mbothe, tales, risoles, sosis solo, dan lain lain. Itu belum menu makanan berat lo ya…seperti rawon, soto, bandeng bakar dan lain lain. Minuman ada aneka jus, susu soda, teh telang, dan lainnya Pokoke dijamin sip lah!!
Semuanya ludes…! Lha wong ya dibungkus juga ketika nggak habis. Bekal saat perjalanan balik ke Surabaya dan Sidoarjo. Itu belakangan ketika senja sudah beranjak ke kegelapan malam.
Nah, ceritanya ternyata lokasi kafe GAS ini tidak jauh dari beberapa objek wisata, seperti Coban Puteri, Coban Rais, Predator, BNS dan lain lain. Benar-benar strategis. Jadi wajar jika Kota Batu fullbook, tempatnya Pak Gas ini pas untuk menginap, ada beberapa vila yang disewakan lo. Tarifnya sangat terjangkau, satu vila dengan empat kamar 1,5 K untuk tiga hari. Kata Gas, boleh juga sewa sehari atau dua hari.
“Vila iku duweke Pak Mad o…pemilik kawasan sini. Bukan milik saya. Saya juga salah satu ‘penyewa’ di situ,” kata Gas–sapaan Gatot Susanto.
Setelah peroleh berbagai info dari Gas, kami pun memilih Coban Rais dan Batu Garden Flowers sekitar 3 Km dari kafe GAS. Semuanya lancar, tanpa kendala hingga lokasi wisata.
Kami juga memilih paket hemat Rp 50 ribu untuk ke lokasi dengan spot-spot foto menarik, ya tentu masih bisa kita pakai kamera H P masing-masing sekadar jeprat-jepret ber-swafoto. Spot-spot bagus dan Instagramable. Cobalah datang ke sana….aja hape-an thok ae nang omah…!!!
Dari parkiran, kami naik ojek dulu–kecuali yang kuat jalan–Rp 10 ribu sekali antar hingga titik atas. Paket hemat Rp 50 ribu pun berjalan relatif lancar.
Ya, katakan relatif lancar, karena sebenarnya ada ‘sedikit’ kendala. Atau apa ya? Semacam gangguan. Klilip mungwing mripat!! Ya itu dua bocil, cucuku Naladipa dan si Thul Kayla, anaknya teman saya yang masih kelas 2 SD. Putrinya Mbak Febri, Bagian Keuangan Global News.
Di spot foto pertama dan kedua aman. Namun menuju spot foto ketiga, sepeda onthel gantung, nah di situlah mulai terasa. Si Thul ngambeg minta naik sepeda onthel gantung. Begitu juga si bocil Naladhipa, si cucuku itu. Wuih..jiiian amoh tenan!!
Sepeda onthel gantung, meski sudah terkondisikan safety-nya, tapi bukan untuk bocil.
“Wah.. belum boleh pak, nanti kalau ada apa-apa bisa masuk tayangan media sosial…dah,” kata salah satu petugas yang disebut-sebut rekannya ‘Pak Manajer’ itu.
Si Thul ngambek tapi juga sempat nangis. Cucu saya lebih parah lagi, nangis sejadi-jadinya. Full power!! Apalagi saat kami ampiri di Lawang tadi, saya ambil dari ayah dan amanya, dia membawa dua mainan–yang selalu dibawa ke mana pun. Apa itu ??? Sendok susu plastik dan kancing baju yang warna-warni. Ya itulah ajimat Naladhipa.
Ketika keinginan naik sepeda onthel gantung tak terpenuhi, Nala si cucuku, menanyakan kancing dan sendok. Saya benar-benar lupa, apa saat tak gendong mainan itu jatuh atau dibuang, tapi yang jelas dia makin kencang nangisnya!
Pegangan kancing dan sendok plastik itu seperti pengganti ‘menthil’. You know? Ya, seperti pengantar tidur. Andai jimat itu ada, mungkin dia langsung diam, meski masih kesel karena tak boleh naik sepeda onthel gantung. Minimal meredam kekecewaannya.
Ternyata…e..ternyata, kancing dan sendoknya tak jelas rimbanya. Padahal teman-teman yang lain sudah harus bergeser spot foto berlambang ‘I love you’. Saya terpaksa turun mencari dari titik awal saat tak gendong tadi. Tidak ketemu, balik naik tetap tak ada. Istri saya kepothokan giliran nggendong–karena saya gendong sudah tidak mau–sambil bergeser menyusul teman-teman ke spot foto ‘I Love You’.
Hingga sampai TKP, tetap menangis dan belum ketemu juga jimat kancing dan sendok ajaibnya. Ditenangkan nggak bisa. Dia tetap menangis sambil menyebut ‘kancing Nala mana….kancing Nala mana…!!’
Lihat si cucu nggak ada tanda mau reda tangisnya, saya pun mengorbankan diri. Tidak ikut foto-foto dan menikmati lokasi wisata ‘I Love You’. Saya bujuk cucu agar diam, akung mau cari lagi ke lokasi sepeda gantung.
Ya, terpaksa. Mau nggak mau, yang penting saya mencoba dan si cucu mulai mereda, karena saya berusaha mencari lagi dan balik ke lokasi spot foto ‘sepeda onthel gantung’. Dengan tertatih-tatih, karena sudah letih. Terseok-seok seolah mau mogok. Termehek-mehek karena napas seperti kena bengek!!! Saya jelajahi. Napak tilas dari titik naik ke lokasi sepeda gantung.
Bahkan di TKP sempat ikut dibantu mencari ajimat yang hilang oleh mas-mas petugas. Dilihat kanan, kiri, depan, balik lihat belakang. Tetap tidak ada. Tetap tidak ketemu.
Saya pun thenger-thenger. Seperti lazimnya orang capek, saya pun pijit-pijit kaki, lutut. E.., sebentar ya, saat pijit kaki paha, tangan kanan menyenggol sesuatu di saku kanan. Saya rogoh, apa itu yang agak menonjol di saku. Saya tarik keluar. Dan ternyata, sendok dan kancing, ajimat yang diminta cucuku tadi, ada di sakuku.
Bajigur….!!! Diamput…!!! Siapa ya yang menaruh di sakuku? Wis….wis…ajuurrr jum….!!!! ‘Mas…pak…ini sudah ketemu, maaf ya merepotkan….,” teriak saya pada mas-mas dan bapak-bapak yang ikut membantu di lokasi sepeda gantung.
Dalam kecapaian saat menggendong sang cucu dari titik awal naik ke lokasi sepeda gantung, kancing dan sendok ajaib masih digenggam putuku. Mungkin waktu menurunkan atau di tengah perjalanan menanjak itu saya minta dan saya masukkan saku. Saya sama sekali tak ingat. Blas….!!! Maklum sudah uzur.
Jadi, tidak mungkin dan muskil, mustahil ada orang lain yang memasukkan ajimat itu ke saku kanan celana saya. Tidak masuk akal. Yang jelas, ajimat itu sudah ketemu, tapi anaknya sudah tidur dalam gendongan nenek. Kancing diselipkan di tangan cucu, biar bobonya lebih nyenyak. Beberapa saat malah bangun, dan si cucu seperti tidak ada apa-apa, normal. Mulai ngoceh-ngoceh. Akhirnya turun dan mau jalan.
Saya pun njarem. Dua hari masih terasa linu-linu. Dan ini tangan juga mulai pegal, ngetik di H P yang hurufnya kecil-kecil. Dah ya, lain kali ada cerita lagi. Dijamin Live!!! Salam sehat dan bahagia selalu. Amin. (*)
IKLAN: Kunjungi Resto & Kafe GAS Bukit Tlekung, Jl. Raya Desa Tlekung Kec. Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur. Resto murah meriah di dekat lokasi wisata Kota Batu.

TONTON JUGA VIDEO INI:













