Herd Immunity Jatim Kado HUT ke-76 RI: Belajar dari India

oleh
Agoes Aufiya dan keluarga saat ini tinggal di New Delhi India. (Foto: Dok. Agoes Aufiya)

WHO mengingatkan banyak yang salah paham dengan herd immunity. Pimpinan Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) Senin (12/10/2020) lalu mengingatkan bahwa membiarkan Covid-19 menyebar untuk mencapai herd immunity itu “tidak etis” dan orang-orang salah paham tentang pengertiannya.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, dalam konferensi pers virtual, ” Herd immunity adalah konsep yang digunakan untuk vaksinasi, di mana suatu populasi dapat dilindungi dari virus tertentu jika ambang batas vaksinasi tercapai.”

Dia mencontohkan untuk campak, diperkirakan jika 95% penduduk divaksinasi, 5% sisanya juga akan terlindung dari penyebaran virus. Untuk polio, ambang batasnya diperkirakan 80 persen, menurut Tedros.

“Herd immunity dicapai dengan melindungi orang dari virus, bukan dengan membuat mereka terpapar virus,” ucap Tedros dikutip dari AFP. “Dalam sejarah kesehatan masyarakat tidak pernah ada herd immunity digunakan sebagai strategi untuk menangani wabah, apalagi pandemi,” katanya.

Mengandalkan herd immunity secara alami dalam situasi seperti itu akan “bermasalah secara ilmiah dan etis,” kata pria asal Eritrea itu. “Membiarkan virus berbahaya yang tidak sepenuhnya kita pahami untuk bebas tidak etis. Ini bukan pilihan.” (ret/gas)

No More Posts Available.

No more pages to load.