SURABAYA| DutaIndonesia.com – Setiap manusia pasti mendambakan hidup yang mulia, terhormat, dan bermartabat.
Namun, kemuliaan bukanlah sesuatu yang datang begitu saja tanpa usaha.
Kemuliaan hidup harus diupayakan dengan perjuangan, kesungguhan, dan pengorbanan.
Hal ini dikatakan oleh Prof Dr KH Asep Syaifuddin Chalim MA, saat pengajian pada para santrinya di Ponpes Amanatul Ummah Siwalan Kerto, Wonocolo, Surabaya, Senin, 25 September 2025.
Salah satu kunci penting untuk meraih kemuliaan adalah dengan riyadhoh (latihan spiritual) dan melek malam (menghidupkan malam) dengan belajar serta sholat malam.
Riyadhoh
Dijelaskan Kiai Asep, Riyadhoh adalah upaya melatih dan menempa diri, baik lahir maupun batin, agar terbebas dari sifat-sifat tercela seperti malas, sombong, rakus, iri, dengki, dan cinta berlebihan kepada dunia.
Riyadhoh bukan sekadar menahan lapar atau bangun malam, melainkan sebuah proses mendidik jiwa agar tunduk kepada Allah SWT dan terbiasa dengan kebaikan.
Orang yang menjalani riyadhoh akan terbiasa menahan hawa nafsunya, membentuk akhlak mulia, dan memperkuat iman.
Dengan riyadhoh, hati menjadi lembut, pikiran jernih, dan langkah hidup lebih terarah.
Inilah fondasi utama bagi siapa saja yang ingin hidup mulia di dunia maupun di akhirat.
Belajar
Selain riyadhoh, salah satu bentuk perjuangan yang sangat dianjurkan adalah belajar di malam hari atau pagi hari. Di saat suasana hening, jauh dari hiruk pikuk dunia, pikiran menjadi lebih fokus dan jernih. Banyak ulama besar dan cendekiawan terdahulu yang terbiasa belajar pada malam hari. Mereka menyadari bahwa otak lebih cepat menangkap dan menyerap ilmu ketika tidak ada gangguan.
Belajar di malam hari bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga melatih kesungguhan dan kesabaran.
Hal ini akan membentuk pribadi yang berdisiplin, berwawasan luas, dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan ilmu yang bermanfaat.
Sholat Malam
Sedang sholat malam adalah salah satu Ibadah yang dicintai Allah
Puncak dari kemuliaan malam adalah sholat malam (qiyamul lail atau tahajjud).
Sholat malam merupakan ibadah sunnah yang paling utama setelah sholat fardhu.
Dalam Al-Qur’an, Allah memuji hamba-hamba yang bangun di sepertiga malam terakhir untuk berdoa, beristighfar, dan mengadukan segala isi hati kepada-Nya.
Doa di malam hari, terutama menjelang Subuh, lebih dekat untuk dikabulkan.
Rasulullah SAW pun mencontohkan dengan rutin sholat malam hingga kaki Beliau bengkak, padahal Beliau adalah manusia yang sudah diampuni dosanya.
Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam, bahwa kemuliaan hidup tidak mungkin diraih tanpa kedekatan yang mendalam kepada Allah SWT.
Sebagai gambaran, Kiai Asep mengajukan pertanyaan. “Siapa yang bisa mendapatkan mutiara?” Para santri terdiam tak menjawab.
“Tentu mereka-mereka yang dengan niat yang kuat, dan keahliannya, menyelam ke dasar laut untuk mencari hingga menemukan mutiara,” jawab Kiai Asep.
“Sama dengan mereka-mereka yang mau melek malam, yang diisi dengan belajar dan sholat malam,” jelas Kiai Asep lagi.
Menggabungkan Riyadhoh, Belajar, dan Sholat Malam
Apabila seseorang mampu memadukan riyadhoh untuk menempa jiwa, belajar malam untuk memperkaya ilmu, dan sholat malam untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka ia akan meraih dua kemuliaan sekaligus: kemuliaan di hadapan manusia karena berilmu dan berakhlak mulia, serta kemuliaan di hadapan Allah karena taat dan ikhlas beribadah.
Dengan demikian, barang siapa yang benar-benar menginginkan hidup mulia, hendaknya ia tidak malas untuk bangun di malam hari, menundukkan hawa nafsunya, mengisi pikirannya dengan ilmu, dan menundukkan hatinya di hadapan Allah SWT.
Begadang
Trend yang dilakukan para remaja saat ini adalah melek malam hanya untuk bersenang-senang (mengunjungi tempat-tempat hiburan), begadang ngobrol ke sana-kemari tanpa guna.
“Hindari melek malam hanya untuk begadang. Setan senang, membujuk untuk melakukan keburukan secara bertahap. Pertama dibujuk untuk ngobrol, menggibah, terus merokok dan minum, lalu mencuri, berbuat kejahatan, berzina dan seterusnya,” kata Kiai Asep.
“Kalau seperti itu, lebih baik berdiam di rumah atau tidur saja,” kata Kiai Asep.
“Tapi kamu tidak akan menemui kemuliaan hidup nantinya,” pungkas Kiai Asep. (Moch Nuruddin)












