MOJOKERTO| DutaIndonesia.com – Detasemen Polisi Militer (Den POM) Kabupaten Mojokerto Kamis malam (20/4/2023) bersilaturahim ke Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim MA, Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Pacet, Mojokerto.
Rombongan yang dipimpin langsung oleh Letkol CPM Minto, Danden POM V/2 Mojokerto, datang menjelang Maghrib, dan diterima langsung oleh Kiai Asep.
Ketika tiba waktu Maghrib, maka rombongan dan Kiai Asep menuju masjid Ponpes Amanatul Ummah, Masjid KH Abdul Chalim, yang berada di samping kediaman Kiai Asep.
Saat sholat dilaksanakan, turun hujan lebat, sekitar setengah jam. Sehingga acara berbuka bersama agak terlambat karena menunggu redanya hujan. Setelah hujan reda, Kiai Asep dan rombongan menuju kediaman, dan langsung berbuka bersama secara lesehan di ruang tamu.
Acara tampak kelihatan cukup akrab dan gayeng. Para perwira lesehan di ruang tamu, dan beberapa prajurit TNI duduk di teras rumah juga berbuka puasa bersama.
Pembicaraan pun masalah-masalah ringan, yakni seputar situasi dan kondisi selama bulan Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri, yang diprediksi bakal berjalan aman dan tertib, khususnya di Kabupaten Mojokerto.
Pembicaraan hangat lainnya adalah, para komandan mempertanyakan masalah penentuan 1 Syawal. Di sini Kiai Asep dengan fasihnya menjelaskan dasar-dasar penentuan 1 Syawal menurut Muhammadiyah dan juga menurut NU.
Sehingga, ketika cara penentuan berbeda, maka bisa jadi hasilnya berbeda atau sama. Dan itu menurut Kiai Asep, tak perlu dipertentangkan terlalu tajam. “Kami orang NU sangat menghargai sikap Muhammadiyah, demikian sebaliknya. Karena kita sama-sama Islam, hanya sedikit perbedaan,” kata Kiai Asep.
“Penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah merupakan wilayah ijtihadiyah yang membuka kemungkinan terjadinya perbedaan di kalangan fukaha. Secara keilmuan, memang dimungkinkan terjadinya perbedaan,” kata Kiai Asep.
“Terjadinya perbedaan pendapat pada masalah yang berada dalam majal al-ikhtilaf (wilayah dimungkinkannya terjadi perbedaan) harus mengedepankan toleransi,” tambahnya.
Manfaat Silaturahim
Kepada wartawan, Kiai Asep menjelaskan, bahwa dirinya merasa senang dan bahagia mendapat kunjungan aparat penegak hukum.
“Alhamdulillah, hal ini menandakan, telah terjalin silaturahim yang kuat antara petugas keamanan dengan ulama. Sehingga semakin menciptakan situasi yang aman dan kondusif di wilayah kerja TNI dan Polri,” katanya.
Silaturahim sendiri, merupakan anjuran dalam agama. “Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali persaudaraan, shalatlah di malam hari ketika manusia terlelap tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” (H.R Ibnu Majah).
Selain itu, silaturahim bisa menambah rezeqi pada yang melakukannya, memperpanjang umur, dan menghantarkannya ke surga.
Kiai Asep kemudian menukilkan hadits Rasulullah SAW: “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dikenang bekasnya (perjuangan atau jasanya), maka hendaklah ia menghubungkan silaturahmi.” (HR. Muslim).
Sebaliknya, kata Kiai Asep, orang yang suka memutus silaturahmi juga akan mendapatkan dosa berupa disegerakan azab dunia dan akhiratnya. Biasanya orang yang suka memutus silaturahmi merupakan orang yang memiliki penyakit iri dengki. Dalam istilah agama disebut dengan hasud yang artinya sungguh menyesak dalam dada.
Disebutkan pada ayat terakhir ini bahwa orang yang memutuskan silaturahmi akan dilaknat oleh Allah, dibutakan penglihatan mereka, dan dijadikan telinga mereka tuli sehingga tidak bermanfaat bagi mereka ayat-ayat Allah.
Hadir dalam acara tersebut, Para Pasi dan Danramil jajaran Kodim 0815/Mojokerto; Lettu Inf Muflik, Dantim BKI B Dendintel Dam V/Brw. Juga Lettu Eko Supriyo W, Dantim Intelrem 082/CPYJ; Lettu Inf Mohammad Riski Wicaksono, Pasi Intel Yonif PR 503/MK.
Dan Perwakilan Anggota Korem 082/CPYJ, Anggota Koramil jajaran Kodim 0815/Mojokerto, Deninteldam V/Brw dan Dempom V/2 Mojokerto serta Perwakilan Anggota Yonif PR 503/MK.
Setelah sholat Maghrib berjamaah, berbuka bersama, ramah tamah dengan gayeng, akhirnya rombongan pun berpamitan untuk kembali bertugas. Tak lupa Kiai Asep pun memberikan buah tangan, sebagai kenang-kenangan. (Moch. Nuruddin)













