Ketauladanan Ibrahim AS dalam Pengabdian dan Kepemimpinan

oleh
Imam Shamsi Ali

Oleh Imam Shamsi Ali*

Di hari-hari yang mulia dan penuh keberkahan saat ini, di mana jamaah haji sedang berbondong-bondong menuju tanah suci untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, kewajiban sekali seumur hidup atas semua Muslim yang memenuhi persyaratan kewajibannya. Mari kita semua menundukkan wajah kita, merendahkan hati kita yang hanif, merenungkan “azhomatullah” (keagungan Allah) seraya mensyukuri segala nikmatNya yang tiada batas yang dikaruniakan kepada kita semua.

Kebesaran Ilahi yang kita tinggikan di hari-hari ini dengan alunan “takbir, tasbih, tahmid, dan tahlil” adalah ekspresi iman, sekaligus bentuk komitmen kita untuk menjadikan Allah subhanahu wataa ala sebagai “sentra kehidupan” kita. Bahwa dalam hidup ini semuanya bermuara dari satu sumber, Allahus Shomad. Kita ada atau tiada, kita memiliki atau tidak memiliki, kita kuat atau lemah, menguasai atau dikuasai, bahkan kita hidup dan mati sekalipun, semuanya karena kuasa Allah SWT.

Esensi filsafat hidup yang seperti inilah yang tersimpulkan dalam ikrar iman kita لا اله الا الله. Bahwa tiada yang punya hak kekuasaan, kenikmatan dan pujian kecuali Allah yang memiliki dan mengontrol langit dan bumi.

Ini janji sejati yang akan diikrarkan oleh serial jamaah haji ketika memulai niat manasiknya (ihram):

لبيك اللهم لبيك لا شريك لك ان الحمد والنعمة لك والملك لإشراك لك

”Kami datang ya Tuhan memenuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu. Sesungguhnya seluruh pujian, kenikmatan dan kekuasaan adalah milikMu. Tiada sekutu bagiMu”.

Tauhid itu Landasan Hidup

Pengakuan iman seperti inilah yang menjadi pegangan hidup yang solid bagi insan-insan Mukmin:

العروة الوثقي (Al-Quran: 2: 256), pegangan kuat yang tak goyah oleh apapun.

Tauhid menghadirkan rasa “Ma’iyatullah” (kebersamaan dengan Allah), yang dengannya memberikan ketenangan hidup, bahkan di saat-saat genting sekalipun. Pengalaman baginda Rasul direkam dalam Al-Quran:

اذ هما في الغار اذ يقول لصاحبه لاتحزن ان الله معنا فانزل الله سكينته عليه وايده بجنود لم تروها

“Ketika mereka berdua berada di dalam gua, dan dia berkata kepada sahabatnya: janganlah engkau bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita. Maka Allah menurunkan ketentraman kepadanya, dan menguatkannya dengan bala tentara yang belum pernah kamu saksikan”.

Penciptaan manusia dan Keagungan Tuhan

Keagungan Allah itu terpancar dalam keagungan ciptaanNya. Penciptaan kita sebagai manusia sendiri sungguh sebuah karunia yang luar biasa. Penciptaan yang disebut “ahsanu taqwiim” atau penciptaan dengan tatanan yang terbaik (Al-Quran: At-Tiin: 2).

Keindahan, kenyamanan dan kesempurnaan penciptaan kita sebagai manusia, sungguh karunia kenikmatan dan kemuliaan yang mutlak disyukuri.

Manusia diciptakan dan dilengkapi akal pikiran (al-aql) menjadikannya mampu mengemban tugas-tugas kekhilafahan dalam membangun dan memakmurkan bumi ini. Dengan akal fikiran yang dibangun dengan ketajaman hati menjadikan umat Islam berkarakter “khaeriyah” (excellence) sehingga mampu mewujudkan peradaban dunia.

Nikmat Iman adalah fondasi

Namun di atas semua nikmat-nikmat Allah tiada batas itu, nikmat iman dan Islamlah yang menjadi kunci sekaligus fondasi segala kenikmatan. Tanpa iman dan Islam, nikmat boleh jadi berubah menjadi “niqmah”, bencana yang membinasakan.

Dunia Barat dengan segala kemajuan material, dengan perkembangan sains dan teknologi, gagal memberikan ketenangan dan kebahagiaan hidup. Hal ini membuktikan bahwa hidup tanpa iman dan Islam adalah hidup yang gagal walau bergelimang materi.

Matthew, seorang Amerika asli menerima Islam sebagai jalan hidupnya karena dalam Islamlah dia menemukan ketenangan itu. Dan Matthew hanya satu dari sekian banyak orang di Barat yang sedang mengembara dalam pencarian setitik kebahagiaan itu.

Memaknai Idul Adha dan Ketauladanan Ibrahim AS

Idul Adha yang sebentar lagi akan rayakan itu penuh dengan makna dan nilai-nilai kehidupan yang sangat luar biasa. Ada makna hidup dan ujian, makna ketaatan dan pengorbanan, makna soliditas mental dan kekokohan iman, sekaligus mengajarkan nilai-nilai kehidupan kolektif sosial hingga ke kepemimpinan.

Dan yang teristimewa dari semua itu adalah bahwa semua rentetan perustiwa korban (dan haji) itu sangat erat dengan sejarah perjalanan Nabi Ibrahim AS.

Ibrahim AS di satu sisi menjadi simbol kesempurnaan (al-kamaliyah) dalam pengabdian dan pengorbanan. Sekaligus dikenal sebagai manusia pertama yang diperintahkan untuk mengumandangkan kewajiban haji kepada umat manusia. Sebagaimana firmanNya: “Dan kumandangkan kepada manusia (kewajiban) haji. Niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kali dan mengendarai onta, datang dari berbagai penjuru yang jauh”.

Ibrahim AS dan Pencarian Al-Haqq

Pelajaran pertama dari perjalanan hidup Ibrahim adalah bahwa proses untuk menemukan keyakinan atau keimanan bukan “taken for granted”. Tapi melalui proses panjang dengan berbagai ujian. Langkah awal dalam proses itu adalah maksimalilasi rasionalitas manusia untuk memenuhi tabiat kuriositashya (keingin tahuan).

Kisah pencarian Ibrahim untuk menemukan kebenaran Tuhan diceritakan secara gamblang oleh Al-Quran, Al-A’am: 76-78.

Dimulai dengan proses nalar tentang ciptaan Allah, bintang-bintang, bulan, matahari, yang pada berakhir kepada kesimpulan: “Sungguh aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang mencipatakan langit dan bumi, menerima agama yang lurus. Dan aku bukanlah orang yang mempersekutukan Allah” (Al-An’am: 76-79).

Keyakinan bukanlah sekedar perasaan emosi semata. Tapi sebuah kemantapan jiwa melalui pencarian akal yang tercerahkan. Keimanan yang dilandasi oleh rasa emosi semata akan melahirkan karakter keagamaan yang sempit, dan kerap kali melahirkan prilaku emosional yang destruktif, serta membawa kepada kebencian, keangkuhan dan perpecahan.

Inilah rahasianya kenapa ayat-ayat pertama Al-Quran yang diwahyukan kepada baginda Rasul adalah perintah untuk memaksimalkan daya nalar dengan perintah membaca اقرأ (bacalah).

Keimanan yang solid melahirkan kekuatan dan kematangan hidup. Rasionalitas berpikir melahirkan kedewasaan (maturity) dan karater bijak (wise) dalam berpikir dan bersikap.

Hanya dengan partautan akal dan hati, fikir dan dzikir, peradaban manusia (human civilization) dapat diwujudkan. Catatan tintah emas sejarah mencatat kontribusi Islam dalam mewujudkan peradaban tinggi manusia di masa lalu.

Perubahan adalah Esensi Hidup

Hikmah kedua dari perjalanan hidup Ibrahim AS adalah bahwa hidup itu merupakan “cicle” atau perputaran dari satu titik ke titik yang sama. Bagaikan tawaf di saat berhaji, berputar berkeliling dengan irama dan tujuan yang sama.

Dalam perputaran hidup itu terjadi goncangan yang sangat luar biasa. Hidup dunia ini bagaikan berlayar di tengah samudra luas. Hempasan tiada henti hingga masa berlabuh.

Untuk melalui “bumpy road” (perjalanan yang penuh tantangan) itu, Allah menempa hamba-hambaNya. Ujian demi ujian, ragam cobaan, akan terjadi dalam hidup. Dan dengan ujian itu manusia akan membangun kematangan dan soliditas mental untuk menjalani hidupnya.

Di sinilah Ibrahim AS tampil sebagai sosok tauladan yang sangat luar biasa. Ibrahim AS mengalami tempaan itu dari awal perjalanan hidupnya hingga mencapai tingkat kematangannya.

Ujian demi ujian, dari resistensi keluarga, sanak family, kerabat dan teman, hingga ujian dari kekuasaan pada masanya.

Al-Quran mengisahkan rentetan persitiwa-peristiwa dalam hidup Ibrahim itu secara gamblang dan rinci. Satu di antaranya adalah kisah perlawanan beliau kepada kemusyrikan. Kegigihan beliau dalam perjuangan menegakkan “tauhid”, dihadapkan kepada resistansi yang dahsyat. Ibrahim ditangkap dan dieksekusi (dibakar).

Namun Ibrahim AS yang memiliki kematangan iman, tegar menghadapinya. Tawaran bantuan para malaikat sekalipun ditampik karena dia yakin bahwa hidup semuanya ada dalam satu kendali, kendali Penguasa langit dan bumi.

Dengan keyakinan inilah Allah memerintahkan api yang menggunung itu menjadi dingin (badan) dan keselamatan (salaama) bagi Ibrahim: “Wahai api, dinginlah dan menjadilah keselamatan bagi Ibrahim”.

Sungguh Ibrahim AS yakin seyakin-yakinnya bahwa semua ada dalam genggamanNya. Api membakar hanya dengan izinNya. Air menjadi penyejuk hanya dengan izinNya. Ibrahim telah ditempa untuk menyikapi hidup dengan penuh keimanan dan tawakkal yang totalitàs.

Urgensi Logika dan Komunikasi yang baik.

Pelajaran penting lainnya yang perlu digaris bawahi dari sejarah Ibrahim AS adalah komunikasi yang terjadi antara raja dan Ibrahim. Dialog keduanya mengajarkan betapa ketajaman logika dan kemampuan komunikasi Ibrahim penting untuk ditauladani.

Kelemahan logika dan ketidak mampuan mengkomunikasikan kebenaran seringkali melahirkan da’i-da’i, ustadz-ustadz, bahkan ulama-ulama yang kerap bermain dogma. Mereka mudah menyalahkan, bahkan mengkafirkan. Dan lebih berbahaya lagi ketika para da’i melakukan dakwah “bolduzer: menghancurkan harapan hidayah. Mereka mengusir dari hidayah, bukan mengajak ke jalan Allah.

Karunia dan Ujian Hidup

Setelah Ibrahim dan keluarganya “settle” (menetap) di Jerusalem, ujianpun berlanjut. Setelah sekian lama Ibrahim menikah dengan isterinya Sarah, mereka tak kunjung juga dikaruniai anak. Bahkan keduanya telah mencapai umur uzur.

Ibrahim pun semakin khawatir akan kesinambungan dakwahnya. Hal ini disadari oleh isterinya, Sarah. Ibrahim pun diminta olehnya untuk menikahi hamba sahaya mereka saat itu, Hajar. Dari Hajarlah Allah mengaruniakan seorang putra yang diberi nama Ismail AS. Alangkah bahagianya Ibrahim dengan karunia anak yang telah lama ditunggu-tunggu itu.

Ternyata ujian besar dari Allah kembali menerpa. Ibrahim diperintah oleh Allah yang memberinya anak untuk membawa anaknya yang baru lahir, Ismail bersama ibunya, Hajar, ke sebuah lembah yang tiada tumbuhan “bi waadin gaeri dzi zar’in”.

Tiada tumbuhan berarti tiada air. Tiada air berarti tiada kehidupan. Tapi dengan kamatangan iman, Ibrahim meninggalkan mereka berdua tanpa siapapun dan dengan perbekalan sekedarnya di lembah itu. Ini lembah m yang kemudian kita kenal dengan Kota Suci, Makkah Al-Mukarromah.

Demikianlah, bertahun-tahun Ibrahim meninggalkan anak dan isteri tercinta. Hingga suatu ketika datanglah ujian terbesar dalam hidupnya. Anak satu-satunya, yang lama ditunggu-tunggu kehadirannya, dan sangat disayangi itu, bahkan menjadi harapan masa depan dakwahnya, diperintahkan oleh Allah untuk disembelih.

Peristiwa ini dikisahkan dalam Al-Quran:
“Maka ketika anaknya mencapai umur balig dia berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi jika aku menyembelihmu. Apa pendapatmu? Dia (sang anak) berkata: Wahai ayahku lakukan apa yang diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang bersabar”.

Tapi Allah Maha bijaksana dan Maha Kasih. Sembelihan itu diganti dengan seekor domba. Itulah tradisi yang kita rayakan melalui syariatnya Rasulullah Muhammad SAW dengan korban atau adha.

Ruhiyah udhiyah atau semangat pengorbanan sebagai komitmen iman itulah yang kita rayakan. Merayakan komitmen pengabdian dan penghambaan, dengan semangat pengorbanan. Itulah esensi ketakwaan:

لن ينالالله لحومها ولا دماءها ولكن يناله التقوي منكم

“bukan daging atau darah yang sampai kepada Allah. Tapi ketakwaanlah yang bernilai di sisiNya”.

Katauladanan Dalam Kepemimpinan

Setelah melalui proses-proses penempaan yang dahsyat dengan penuh kesempurnaan, Ibrahim kini menjadi lebih matang dan siap menjalani hidup “in excellence” (terbaik). Allah pun memutuskan untuk menjadikannya sebagai pemimpin global: “Sesungguhnya Aku mengangkatmu jadi pemimpin untuk manusia” (imaman lin-naas).

Kepemimpinan adalah pilar kehidupan. Karenanya semua manusia pada dasarnya adalah pemimpin dalam hidupnya. Rasulullah SAW menggambarkan hidup itu seolah gembalaan yang harus dijaga, sekaligus dipertanggung jawaban. Rasulullah SAW menegaskan: “setiap kalian adalah gembala dan semua kalian akan diminta pertanggung jawaban tentang gembalaannya”.

Kepemimpinan Yang Berkarakter

Ibrahim diangkat menjadi pemimpin. Namun beliau meminta kepada Allah bukan sekedar dijadikan pemimpin, tapi pemimpin yang berkarakter Ketakwaan: Wahai Tuhanku karuniakan kepada kami pasangan-pasangan dan anak keturunan yang menyejukkan hati. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”.

Kepemimpinan yang berkarakter Ketakwaan inilah yang akan membawa umat kepada kesalehan, baik pada tingkatan individual maupun kolektif.

Tiga Karakteristik Kepemimpinan

Secara mendasar, kepemimpinan Ibrahim AS memiliki tiga karakteristik dasar yang digambarkan dalam Al-Quran: “Dan Kami jadikan dari kalangan mereka pemimpin-pemimpin yang berpetunjuk dengan urusan Kami, memilki kesabaran, dan mereka yakin dengan ayat-ayat Kami”.

Pertama, “yahduuna bi amrina”. Dimaknai dengan berpegang teguh kepada nilai-nilai kebenaran. Juga berarti memiliki kapasitan keilmuan dan pemahaman dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh kepemimpinannya. Inilah yang disebut bahasa politik dengan “kapabilitas”.

Kedua, “lammaa shobaru”. Yang dimaknai memiliki mentalitas baja dalam menghadapi berbagai tantangan kepemimpinan. Tantangan yang kita maksud bukan saja kesulitan-kesulitan yang ada. Tapi yang lebih penting juga adalah kesabaran menghadapi godaan-godaan (temptations) kekuasaan.

Sabar dengan kesulitan itu mudah dan wajar. Tapi sabar menghadapi godaan itu jauh lebih berat dan kadang terlihat asing dan aneh di mata sebagian.

Ketiga, “wa kaannu bi aayaatina yuuqinuun”. Dimaknai sebagai yakin dan meyakinkan. Dengan kata lain kepemimpinan Ibrahim itu dibangun di atas optimisme yang kuat. Sekaligus mampu memberikan optimisme yang tinggi kepada publik yang dipimpinnya.

Pemimpin Demokratis

Catatan penting lainnya yang diambil dari sejarah kepemimpinan Ibrahim AS adalah keinginan dan kemauanny untuk mendengarkan aspirasi mereka yang terpimpin.

Ini disimpulkan dari sikap Ibrahim terhadap perintah Allah untuk menyembelih anaknya Ismail. Di satu sisi beliau yakin penuh jika itu perintah Allah yang tidak dapat ditawar. Tapi di sisi lain beliau tetap ingin mendengarkan pendapat anaknya: “fa undzur maaza taraa“ (apa pendapatmu Wahai anakku).

Keinginan untuk mendengarkan, walaupun dari anak sendiri yang masih remaja, dan berkenaan dengan urusan keyakinan, menunjukkan jika Ibrahim adalah sosok “imaam” atau pemimpin yang inklusif. Yang dalam bahasa politik modern kepemimpinan yang demokratis.

Pemimpin itu Amanah, Bukan Prestise

Kepemimpinan itu bukan prestise dan kehormatan. Tapi “karunia amanah” dan kesempatan (opportunity) yang Allah berikan kepada siapa yang Dia kehendaki untuk melakukan pengabdian kepadaNya melalui pelayanan publik.

Karenanya pemimpin yang adil akan berada di posisi para nabi di hari Akhirat. Bahkan mendapat naungan khusus di hari Akhirat kelak. Hadits menyebutkan bahwa ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari tiada naungan kecuali naunganNya”. Salah satunya adalah pemimpin yang adil.

Allahlah yang menentukan kepada siapa kepemimpinan itu diberikan: Wahai Allah, Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendak”.

Manusia yang menyadari hakikat ini tidak akan berambisi buta dalam memperebutkan kepemimpinan. Tidak perlu menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Tidak akan melakukan fitnah, menyebar hoax, dan cara-cara busuk lainnya demi meraih kepemimpinan itu.

Tujuan Kepemimpinan Dalam Islam

Al-Quran menyampaikan tiga tujuan pokok dari kepemimpinan Ibrahim AS:

“Dan ingat ketika Ibrahim berdoa: wahai Tuhan kami jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan karuniakan kepada penduduknya buah-buahan bagi yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat. Dia (Allah) berfirman: tapi barang siapa yang ingkar maka Kami akan berikan kesenangan sejenak, lalu kami tarik mereka ke dalam api neraka, tempat kembali yang buruk”.

Pertama, Al-amnu (keamanan). Kepemimpinan itu harus mampu mencipatakan keamanan dan rasa aman bagi semua. Dengan keamanan itu akan tercipta stabilitas umum.

Kedua, Ar-Rizqu (karunia rezeki). Kepemimpinan itu harus mampu mewujudkan “kesejahteraan umum.

Ketiga, Al-adlu (keadilan). Kepemimpinan itu harus mampu menegakkan keadilan yang setara tanpa memihak. Kesejahteraan yang tidak adil rentang mengakibatkan ketidak amanan dan instabilitas.

Penutup

Akhirnya hendaknya kita semua membangun komitmen untuk menauladani pengorbanan dan kepemimpinan Ibrahim yang berkarakter dan berakhlakul karimah. Kepemimpinan yang menjunjung tinggi “rahmah” atau kasih sayang dan mengedepankan “maslahah ‘aammah” atau pepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Dengan semangat kebersamaan dan kasih sayang umat Islam, khususnya di negara Indonesia, dan bersama seluruh elemen bangsa, insya Allah kita akan bangkit dan menjadi pelopor bahkan menjadi pemimpin global dunia, sebagaimana Ibrahim dijadian “imaaman linnaas”: pemimpin global yang diimpikan dunia yang sedang tidak baik-baik saja.

Bintaro City, 17 Mei 2026

*Direktur Jamaica Muslim Center / Presiden Nusantara Foundation

No More Posts Available.

No more pages to load.