Ketauladanan Ibrahim dalam Konteks Keumatan dan Kebangsaan 

oleh
Imam Shamsi Ali berhaji
Imam Shamsi Ali

Oleh Imam Shamsi Ali*

DI Hari Raya yang mulia dan penuh barokah ini, mari kita semua menundukkan wajah kita yang mulia, merendahkan jiwa kita yang hanif, merenungkan “azhomatullah” (keagungan Allah) seraya mensyukuri segala nikmatNya yang tiada batas yang dikarunikan kepada kita semua. 

Kebesaran Ilahi yang kita kumandangkan di pagi hari ini dengan alaunan “takbir, tasbih, tahmid, dan tahlil” adalah ekspresi iman, sekaligus bentuk komitmen kita untuk menjadikan Allah “Jalla Jalaaluh” sebagai “sentra kehidupan” yang hadir pada setiap tarikan nafas kita. 

Bahwa dalam hidup ini semuanya bermuara dari Sumber Tunggal; Allahus Shomad. Kita ada dan kita berada atau tidak berada, kita kuat atau lemah, menguasai atau dikuasai, bahkan kita hidup dan pasti pada waktunya nanti kita mati, semuanya karena kuasa Allah SWT. 

Esensi filsafat hidup seperti inilah yang tersimpulkan dalam pengakuan iman kita: “لا اله الا الله”. Bahwa tiada yang punya hak kekuasaan, pengagungan, pujian dan pengabdian kecuali Allah, Tuhan Pemilik langit dan bumi. 

Inilah ikrar awal jamaah haji ketika memulai niat manasiknya: 

لبيك اللهم لبيك لا شريك لك ان الحمد والنعمة لك والملك لإشراك لك

“Kami datang ya Tuhan memenuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu. Sesungguhnya seluruh pujian, kenikmatan dan kekuasaan adalah milikMu. Tiada sekutu bagiMu”. 

Ini pulalah yang menjadi falsafah hidup sejati seorang Mukmin:

 انا لله وانا اليه راجعون

Bahwasanya kita, dan segala yang ada pada kita, anak isteri, harta benda, kekuasaan dan kehormatan duniawi kita, semuanya adalah milik Allah yang menjadi titipan sementara kepada kita dan pada akhirnya akan kembali kepadaNya jua. 

Hadirnya Allah dalam hidup kita, baik pada tataran individu maupun kolektif, melahirkan kekuatan yang maha dahsyat. Manusia lemah dengan dirinya. Tapi menjadi kuat dengan “ma’iyatullah” (kebersamaan dengan Allah SWT). Dunia dengan segala tantangan dan godaannya menjadi ringan, bahkan kecil ketika “azhomatullah” (keagungan Allah) telah hadir dalam hidup manusia. 

Sungguh “ma’iyatullah” (kebersamaan dengan Allah) adalah sebuah pegangan yang tak akan goyah. Pegangan yang dalam istilah Al-Quran  disebut “al-urwatul wutsqa” inilah yang menjadikan manusia stabil dalam hidupnya, apapun warna dan bagaimanapun pergerakan yang terjadi. 

“فمن يكفر بالطاغوت ويومن بالله فقداستمسك بالعروة الوثقي لاانفصام لها” 

Kebesaran Allah dalam hati RasulNya inilah yang menjadikannya tenang menghadapi tantangan, bahkan di saat-saat upaya asisinasi musuh-musuh sekalipun. Hal itu dikisahkan dalam Al-Quran al-Karim: 

اذ هما في الغار اذ يقول لصاحبه لاتحزن ان الله معنا فانزل الله سكينته عليه وايده بجنود لن تروها 

Kemaha besaran sang Pencipta itulah yang terefleksi dalam keagungan ragam nikmatNya pada kita. Allah SWT mengaruniakan kepada kita nikmat yang luar biasa, lahir maupun batin: ظاهرة وباطنة

Sedemikian besarnya nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada kita, menjadikan sangat sedikit di antara hamba-hambaNya yang mampu bersyukur:

وقليل من عبادي الشكور

Penciptaan kita sebagai manusia (insan, basyar atau Bani Adam) itu sendiri sungguh sebuah kenikmatan dan kemuliaan yang luar biasa: 

ولقد كرمنا بني  ادم 

“Sesunggguhnya Kami telah muliakan anak cucu Adam (manusia)”. 

Penciptaan kita sebagai ciptaan terbaik, “the best design” (احسن تقويم) merupakan bentuk kenikmatan yang luar biasa. Keindahan, kenyamanan dan kesempurnaan penciptaan kita sebagai manusia, sungguh kenikmatan yang menuntut kesadaran syukur dari kita semua. 

Dijadikannya manusia sebagai makhluk yang memiliki kapasitas akal atau fikir, menjadikan makhluk lain irihati. Dengan kemampuan inilah manusia mampu mengemban tugas-tugas “kekhilafahannya” dalam memakmurkan bumi ini. 

وعلم آدم الأسماء كلها ثم عرضهم علي الملائكة فقال أنبئوني بأسماء هؤلاء ان كُنتُم صادقين. 

Namun dari semua nikmat yang Allah karuniakan itu, nikmat iman dan Islamlah yang menjadi penentu. Karunia apapun akan menjadi nikmat jika dibangun di atas fondasi iman. Karunia tanpa didasari iman boleh jadi justeru menjadi “niqmah” atau musibah kehidupan.

Dunia Barat dengan segala kemajuan materialnya, perkembangan sains dan teknologi, khususnya dunia informasi saat ini gagal memberikan ketenangan dan kebahagiaan hidup. Di tengah kegemilangan duniawi itu ada jiwa-jiwa yang menjerit. Bukti bahwa hidup tanpa iman dan Islam adalah hidup yang gagal, walau bergelimang dengan kemajuan materi.

Realita ini harus menyadarkan kita untuk mensyukuri dan selalu meninggikan “value” atau nilai iman dan Islam kita.

ولكن الله حبب إليكم الإيمان وزينه في قلوبكم وكزه إليكم الكفر والفسوق والعصيان أولائك هم الراشدون. فضلا منالله ونعمة والله عليم حكيم 

“Akan tetapi Allah menjadikan engkau mencintai keimanan, membenci kekufuran, kefasikan dan dosa-dosa. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Itulah keutamaan dan kenikmatan dari Allah. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana”. 

Perayaan Idul Adha yang kita laksanakan pada hari ini sarat dengan makna dan nilai-nilai kehidupan yang sangat luar biasa. Ada makna hidup dan ujian, makna ketaatan dan pengorbanan, makna soliditas mental dan kekokohan iman, sekaligus mengajarkan nilai-nilai kehidupan kolektif dan kepemimpinan. 

No More Posts Available.

No more pages to load.