Setelah 10-20 tahun terakhir memunculkan pertanyaan dari banyak kalangan ahli sejarah, kenapa KH Abdul Chalim terlupakan. Padahal “Jejak Langkah Perjuangan Kemerdekaannya” sudah nyata terbukti. Dan pada 10 November 2023 ini, bertepatan pada peringatan Hari Pahlawan Nasional, semuanya terjawab. KH Abdul Chalim mendapatkan anugerah sebagai Pahlawan Nasional. Berikut wartawan Moch. Nuruddin membuka jejak langkah KH Abdul Chalim secara singkat dalam beberap tulisan bersambung, utamanya yang menjadi pertimbangan Tim Seleksi Pahlawan Nasional dari Kementerian Sosial.
KH ABDUL CHALIM dari Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat, telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah pada 10 November 2023, atas usulan Dinsos Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Tokoh yang satu ini memang bisa dikatakan sempat terlupakan, baik oleh sejarah nasional, bahkan oleh sebagian warga NU, dimana ia mengabdikan dirinya. Hal itu juga tak lepas dari keikhlasan perjuangan KH Abdul Chalim dan keikhlasan keluarganya.
KH Abdul Chalim dilahirkan di Desa Leuwimunding, Kec. Leuwimunding, Kab Majalengka, Jawa Barat, pada 2 Juni 1998, dari pasangan Kedung Wangsagama atau dikenal dengan sebutan Mbah Kedung dengan ibunya Satimah.
Siapakah Mbah Kedung? Mbah Kedung Wangsagama yang seorang pejabat sebagai uwuh (kepala Desa) adalah putra dari Mbah Kartagama bin Buyut Liyuh bin Buyut Kreteg bin Pangeran Cirebon hingga ke Sunan Gunung Djati. Artinya KH Abdul Chalim, adalah keturunan dari Sunan Gunung Jati.
KH Abdul Chalim yang perjuangannya banyak dilakukan di Jawa Timur, ternyata juga cukup dikenal oleh arek-arek Jawa Timur. Karena salah satu putranya, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim MA, yang akrab di sebut sebagai Kiai Asep, adalah pendiri sekaligus pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, yang berada di Siwalan Kerto Wonocolo Surabaya dan di Pacet, Mojokerto.
Selain itu, putra pertama Kiai Asep, yang juga cucu Pahlawan Nasional KH Abdul Chalim (Leuwimunding), saat ini juga menduduki jabatan sebagai Wakil Bupati Mojokerto, yakni Dr H M. Al Barra Lc MHum atau Gus Barra.
KH Abdul Chalim yang anak tunggal itu, meninggal pada 11 Juni 1972 dan dimakamkan di Kompleks Madrasah Sabilul Chalim, Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat.
Tercatat, KH Abdul Chalim memiliki 4 istri. Istri pertama: Ny. Mahmudah (memiliki 8 anak), Istri kedua: Ny. Siti Noor, (memiliki 1 anak), Istri ketiga: Ny. Qonaah (memiliki 6 anak, anak yang terakhir bernama Asep Saifuddin Chalim), Istri keempat: Ny. Sidik (memiliki 1 anak).
Riwayat Pendidikan
Mas Dzulchalim, begitu KH Hasyim Asy’ari biasa memanggil KH Abdul Chalim semasa muda, karena juga pernah menjadi santri KH Hasyim Asy’ari. Sehingga tercatat KH Hasyim Asy’ari (pendiri Ponpes Tebu Ireng Jombang dan pendiri Nahdlatul Ulama) dan KH Abdul Wahab Chasbullah (pendiri Ponpes Tambak Beras dan pendiri NU), sebagai guru sekaligus senior dalam aktivitas organisasi ke-Islaman. Selain itu, KH Abdul Chalim juga mengakui bahwa ayahnya, Kedung Wangsagama, juga sebagai guru pribadinya.
Adapun riwayat pendidikannya secara kronologis adalah sebagai berikut: 1 Pondok Pesantren Banada, Majalengka (K.H. Machfudz bin Abdul Mun’im); 2. Pondok Pesantren Al-Fattah Trajaya, Majalengka (KH Abd. Fattah); 3. Pondok Pesantren Nurul Huda Al-Ma’arif Pajajar, Majalengka (KH H Sulaiman Alawiyah); 4. Menimba ilmu di Makkah di Hijaz. (Syaikh Machfuzh Tremas, Syaikh Muhammad Sa’id Yamani; Syaikh Mashduqi bin Ismail Majalengka; Syaikh Muhammad Ali bin Husain al-Maliki al-Makki; Syaikh Abdul Muhid bin Ya’qub; Syaikh Asy’ari al-Bawiyani; Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz.).
Karya Tulis
1..Haji Kyai Perjuangan Sejarah Abdul Wahab, (Bandung: Percetakan Baru, 1970). Tebal 31 Halaman. Buku ini berisi 554 bait nadzam (kidung) yang ditulis tangan oleh K.H. Abdul Chalim atas permintaan teman-temannya di NU.
Buku ini ditulis dalam huruf Arab dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Buku ini membahas sejarah NU dari mulai berdirinya sampai menjadi partai besar dengan merujuk kepada 24 kongres NU awal yang diikuti oleh penulisnya. Buku ini ditashreh (direview/disetujui) oleh K.H. Abdul Wahab Chasbullah (1988 – 1971).
2.. Kidung Perahu dari Guru Kita Haji Abd al-Chalim, ditulis oleh Abdul Jalil Ciparay dari nadzam yang dituturkan langsung oleh K.H. Abdul Chalim kepada Abdul Jalil Ciparay. (Ciparay: tanpa
penerbit, tanpa tahun]). Tebal 167 halaman. Buku ini berisi 4227 (empat ribu dua ratus dua puluh tujuh bait nadzam (kidung) K.H. Abdul Chalim yang beliau tuturkan langsung kepada Abdul Jalil Ciparay yang menuliskannya. Buku ini juga membahas tentang sejarah NU, ditulis tangan dalam huruf Arab dengan menggunakan bahasa Indonesia.
3.. Abdulchalim, “Sepatah kata pendahoeloean,” dalam H.O.S. [Toean Oemar Said] Tjokroaminoto, Politiek Haroes Bersadar Islam, (Djokja: Tijp Drukkerij Harmonie, 1925).
4.. K. H. A. Halim [K.H. Abdul Chalim], “’Oelama Pembawa Amanat Allah,” dalam Soeara Moeslimin Indonesia, No. 16, Tahoen II, 25 Sya`ban 1363 [15 Agustus 1944], Hal. 3.
5.. Abdoel Halim [K.H. Abdul Chalim], “Masyarakat Hidoep dan Semangat Bekerdja,” dalam Soeara Moeslimin Indonesia.
6.. K. H. A. Halim [K.H. Abdul Chalim], “’Oelama Pembawa Amanat Allah,” dalam Soeara Moeslimin Indonesia, No. 16, Tahoen II, 25 Sya`ban 1363 [15 Agustus 1944], Hal. 3.
Artefak-artefak dengan nama K.H. Abdul Chalim
1. Jl. Raya K.H. Abdul Chalim di Pacet, Mojokerto
2. Universitas Pesantren K.H. Abdul Chalim di Desa
Bendunganjati, Mojokerto.
3. Masjid Kampus K.H. Abdul Chalim di Desa Bendunganjati,
Mojokerto.
4. Masjid Raya K.H. Abdul Chalim di Desa Kembangbelor, Mojokerto.
5. Komplek K.H. Abdul Chalim SMP-SMA Unggulan Amanatul Ummah, Surabaya
6. Komplek K.H. Abdul Chalim Pondok Pesantren Amanatul Ummah Madrasah Bertaraf Internasional, Mojokerto.
7. Komplek K.H. Abdul Chalim Pondok Pesantren MTS-MA Amanatul Ummah Program Akselerasi, Mojokerto.
8. Komplek K.H. Abdul Chalim MTS Amanatul Ummah 2 dan MA Amanatul Ummah 3, Mojokerto.
9. Gedung K.H. Abdul Chalim MA Unggulan Amanatul Ummah 02, Leuwimunding, Majalengka.
10. Komplek K.H. Abdul Chalim MTS-MA Hikmatul Amanah, Mojokerto.
Jabatan-jabatan K.H. Abdul Chalim:
1. 1914, Anggota Sarekat Islam (S.I.)
2. 1925, “Comissaris P.S.I. [Partai Sarekat Islam] Hindia Timoer di Madjalengka (1925).”
3. 1922, Guru Madrasah Nahdlatul Wathan [Kebangkitan Tanah Air];
4. 1922, Guru Madrasah Tashwirul Afkar [Memotret Gagasan];
5. 1924, Pengawas Syubbanul Wathan [Pemuda Tanah Air] untuk mencetak calon Dai berhaluan Ahl al-sunnah Wa al-Jama’ah [yang moderat];
6. 1926, Katib II [Sekretaris II] Nahdlatul Ulama [Kebangkitan Ulama].
7. 1926-1967, Pimpinan dan Panitia dalam 24 kongres NU;
8. 1927-1928, Redaktur Swara Nahdlatoel Oelama, menjawab masalah keagamaan, kepengurusan keuangan masjid, pernikahan, penyusuan anak oleh bukan orang tuanya, dan jual beli barang.
9. 1927, turut menjaga [pengawas] uang kas masjid dan langgar di Surabaya.
10. Desember 1927-Januari 1928, Pengawas [Penilik] dan guru Nahdlatoel Wathan di Kota Surabaya bersama para kiyai muda lainnya, seperti K.H. Mas Alwi, K.H. Abdullah Ubaid, dan K.H. Nahrowi.
11. 1927, Komisaris di Pimpinan Besar (Hoofdbestuur) Sarekat Islam.
12. 1927, Anggota Lajnah Nasihin (Komisi Propaganda) untuk menyebarkan NU ke berbagai wilayah;
13. 1928, A`wan (anggota) al-Hay`ah al-Syuriyah (pembina, pengawas, pengarah pelaksanaan keputusan-keputusan organisasi NU);
14. 1928, Pengawas [penilik] ujian [semua] Madrasah di Kota Surabaya (1928);
15. 1929, Guru Madrasah Akhul Wathan [Saudara se-Tanah Air] di Pacar Keling, Gubeng, Surabaya;
16. 1929, Komisaris HBNU (Hoofd Bestuur [Pengurus Besar] Nahdlatul Ulama) Cabang Semarang;
17. 1930, Naibul Katib [ الكاتب نائب/Wakil Sekretaris] pada statuten kepengurusan NU;
18. 1933, Panitia khusus (lajnah khushushiyyah/wakil sekretaris) dalam kegiatan Kongres NU ke-8 di Batavia [Jakarta];
19. 1933, Guru Madrasah Nahdlatul Ulama cabang Cirebon;
20. 1935, Sekretaris kongres NU ke-10 di Surakarta, menggantikan Mahfoed Siddik (Jember) yang sakit di Madjelis kelima;
21. Juni 1936, Perwakilan Cirebon dalam Kongres NU ke-11 di Banjarmasin, dan terpilih menjadi satu dari tiga komisi yang memeriksa keadaan Masjid Jami’ Banjarmasin, apakah masjid tersebut bisa diadakan Openbaar vergadering NO atau tidak, dan ternyata bisa serta terlaksana;
22. 1937, Adviseur (penasehat) NU Cabang Cirebon, dan menutup konferensi cabang ini, yang dihadiri 10 kring (ranting: Kedjaksan, Pekalongan, Pekeringan, Poelasaran, Kanggeraksan, Babakan Gedang, Gedang, Tjiledoeg, Sindanglaoet, Plered);
23. 1937, Utusan HBNO (Hoofd Bestuur Nahdlotoel Oelama) Konsul Cirebon, dan menjadi pembicara di cabang-cabang NO [NU] yang ada di Ciledug, Cirebon, Gebang, Plered, dan Indramayu;
24. 1938, Konsul HBNO daerah Cirebon, serta mengawasi kesiapan cabang-cabang NU di Cirebon, Pekalongan, Brebes, Tegal, Indramayu, Pemalang untuk kongres NU ke-13.
25. 1938, Menggagas rencana untuk mengadakan konferensi Pergoeroean NO [NU] di Pekalongan;
26. 1938, Konsul HBNO (Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama) Jawa Tengah Barat dalam kongres NU ke-13 di Menes, Banten.
27. 1939, Konsul HBNO Jawa Tengah II, yang meliputi daerah Cirebon pada kongres NU ke-14 di Magelang;
28. 1940, Panitia kongres NU ke-15 di Surabaya. Kongres ini dipimpin oleh K.H. Machfud Siddiq, dan membahas kemerdekaan;
29. 1945, Bagian Ruhaniawan untuk para perwira Hizbullah, yang menggembleng 500 (lima ratus) para pemuda dari seluruh Jawa dan Madura sejak 2 Februari 1945 sampai 15 Mei 1945 di
Cibarusah, Bogor.
30. 1955, Komisaris Daerah NU Karasidenan Cirebon, dan membentuk NU Cabang Kuningan;
31. 1956, A’wan Syuriyah PBNU di Muktamar NU ke-21 di Medan;
32. 1959, A`wan Syuriyah PB Partai NU;
33. 1959-1962, Katib [Sekretaris] III Syuriyah NU untuk tahun periode 1959-1962, yang ditetapkan di Muktamar NU ke-22 di Batavia (Jakarta).
34. 1960, Mustafadil [Penasehat] Pengurus Besar Jam’iyah Ahlit Thoriqotil Al-Mu’tabaroh.
35. 1960-1972, Anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara).(Bersambung)











