Listrik Masuk Sawah
Sebagai petani, kata dia, harus pandai membaca tanda-tanda alam. Bukan hanya soal musim, tapi juga harus pintar membaca sinyal yang diberikan oleh tanaman atau sawah ladang itu sendiri. Begitulah, buah naga memberinya sinyal bahwa sebagai tanaman karunia Illahi Rabbi sebenarnya bisa memberikan banyak keuntungan, bukan keuntungan musiman, tapi bisa sepanjang tahun. Tinggal petani harus pintar.
Maka, berdasarkan pengalaman dan riset kecil-kecilan, Edy dan petani desa lain akhirnya mengetahui perilaku tanaman buah naga yang harus mendapat sinar matahari berkecukupan. Itu bisa tercukupi di musim tanam September sampai Februari di mana matahari berada di bagian selatan Katulistiwa sehingga bersinar lebih lama. Sementara di bulan Maret hingga Agustus matahari bergeser ke utara Katulistiwa sehingga sinarnya berkurang memberi “nutrisi” bagi tanaman buah naga.
Untuk itu Edy yang juga Ketua Paguyuban PANABA (Petani Naga Banyuwangi) mengajukan permohonan menjadi bagian dari Program Electrifying Agriculture yang digagas PT PLN (Persero). Gayung pun bersambut. PLN merespon permintaan petani buah naga.
Bila dulu ada program listrik masuk desa, kini dengan Program Electrifying Agriculture, PLN juga membuat terobosan listrik masuk sawah dan ladang milik para petani.
Pria kelahiran 1 Agustus 1979 ini, menjelaskan, PLN kemudian membangun infrastruktur seperti tiang-tiang listrik tak hanya di jalan desa tapi juga di jalan-jalan persawahan, sehingga lahan pertanian menjadi terlihat hidup. Semarak. Gardu listrik juga ditambah. Kebutuhan listrik untuk petani juga meningkat tajam.
“Kalau dulu ada listrik masuk desa, sekarang berlanjut listrik masuk sawah,” kata bapak tiga anak ini. (Bersambung)














