Laporan dari Moskow: Santri Tebuireng Ini Menjembatani  RI-Rusia

oleh
Amy Maulana saat menerima ijazah S3 dari Volgograd State University, Rusia.
Amy Maulana saat menerima ijazah S3 dari Volgograd State University, Rusia.

 

Hubungan Indonesia – Rusia sudah terjaling sejak zaman Presiden Sukarno. Sekarang di era Presiden Prabowo Subianto hubungan dua negara itu semakin dekat. Bahkan untuk pertama kalinya Indonesia membeli minyak mentah ke Rusia 150 juta barel melalui Badan Layanan Umum (BLU) Lemigas. Amy Maulana, diaspora asal Indonesia lulusan S3 di universitas Rusia, senang dengan perkembangan positif tersebut. Santri alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang ini ingin semakin mendekatkan hubungan RI-Rusia.

Oleh Gatot Susanto

SELAMA ini Amy Maulana selain kuliah juga bekerja sebagai jurnalis di sebuah media Rusia. Pria kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat, 12 April 1981 yang sudah menyelesaikan pendidikan Ph.D in Philosophy Ethic and Religious Stadies di Volgograd State University, Rusia, itu menangani isu-isu yang berkembang di Asia, khususnya Indonesia.

“Banyak jurnalis di sini (Rusia) kalau soal isu dari negara-negara Asia, apalagi Indonesia, pasti jujukannya ke saya. Mereka ingin tahu soal negara-negara Asia, terutama di Indonesia,” katanya kepada DutaIndonesia.com, Kamis (6/8/2026).

Amy menjelaskan bahwa Rusia seringkali diperlakukan tidak adil, khususnya dalam pemberitaan. Apalagi di mata media Barat, seringkali diberitakan negatif.

“Itulah mengapa perlu menjalin kerjasama dengan media di Indonesia juga agar bisa mengimbangi berita negatif tersebut,” kata pria yang melakukan penelitian tentang Sejarah Peradaban Islam di Rusia ini.

Amy Maulana intens menggeluti hubungan antar-negara. Bahkan dia berhasil menjadi pemenang dalam International Competition “Leader of Public Diplomacy” di Moskow, 13 Desember 2023, yang diselenggarakan oleh Eurasian People Assambly, didukung The Presidential Grant Fund Pemerintah Federasi Rusia.

Dalam kompetisi tersebut Amy berhasil menjadi juara 2 setelah berkompetisi bersama 13 finalis dari berbagai negara, antara lain Federasi Rusia, Jerman, Moldova, Uzbekistan, Kazakhstan, Armenia, Mesir, dan Indonesia. Dalam kompetisi tersebut, Amy yang juga merupakan Ketua Tanfidziyah PCI-NU Rusia, berhasil mempresentasikan proyek diplomasi publik di depan juri dengan judul “Persahabatan Rakyat Indonesia-Rusia”.

Kompetitisi tersebut terdiri dari 3 tahap berlangsung selama 3 bulan. Ada kurang lebih 100 proyek diplomasi yang didaftarkan dalam babak semifinal, dan hanya 30 peserta yang akhirnya lolos ke babak final. Penyerahan penghargaan dilaksanakan pada Ekaterinsky Forum yang dilaksanakan di Moskow tanggal 13 Desember 2023.

“Tidak pernah terbayang sebelumnya kalau perjalanan saya sebagai mahasiswa Indonesia di Rusia akan membawa saya ke panggung internasional,” katanya.

Awalnya, Amy hanya ingin belajar dan beradaptasi di negeri yang terkenal dengan musim dinginnya yang ekstrem ini. Namun tak disangka, kerja keras dan dedikasinya dalam membangun hubungan antarbudaya akhirnya mengantarkannya meraih gelar juara dalam kompetisi itu.

Sebagai mahasiswa asal Indonesia yang sedang menempuh studi di Volgograd State University, dia selalu merasa memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional. Karena itu dia aktif terlibat dalam berbagai acara pertukaran budaya terutama di kampus dan di Kota Volgograd, mulai dari memamerkan batik, mengajarkan tarian tradisional, hingga berbagi cerita tentang kekayaan alam dan kuliner Nusantara.

“Banyak orang di sini hanya tahu Bali ketika mendengar Indonesia. Saya ingin mereka melihat lebih dalam—keberagaman suku, bahasa, dan nilai-nilai gotong royong yang kami miliki,” katanya mengenang perbincangannya dengan panitia kompetisi.

Kompetisi Leader of Public Diplomacy bukanlah ajang biasa. Pesertanya terdiri atas mahasiswa internasional dari 40 negara, yang dinilai berdasarkan kontribusi mereka dalam memperkuat hubungan antarbangsa melalui diplomasi budaya, akademik, dan sosial. Amy mengajukan proyek Persahabatan Rakyat Indonesia-Rusia, yang ternyata menarik perhatian juri.

“Prestasi ini tidak akan tercapai tanpa dukungan teman-teman sesama mahasiswa Indonesia dan Kedutaan Besar RI di Moskow. Mereka membantuku menyelenggarakan acara, menjadi relawan, bahkan sekadar memberi semangat ketika aku hampir menyerah,” katanya.

Kini, dengan penghargaan itu, Amy ingin terus menjadi jembatan antara Indonesia dan dunia. Khususnya Rusia.

“Saya berencana mengembangkan platform digital untuk mempromosikan diplomasi budaya, serta mendorong lebih banyak pelajar Indonesia untuk aktif di kancah internasional. Prestasi itu bukan akhir, tapi awal dari perjalanan panjang. Saya percaya, dengan semangat kolaborasi, kita bisa membuat Indonesia semakin dikenal dan dihargai,” katanya.

Amy yang sebelumnya menempuh pendidikan Magister of Political Science di Program Pascasarjana Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dan strata satu Prodi Komunikasi di Fakultas Dakwah UIN Sunan Ampel Surabaya, sekarang  mendapat amanah menjadi Ketua Tanfidziyah PCI-NU Federasi Rusia dan Eropa Utara dan juga sebagai Direktur of Information and Communication Eurasian Researcher Scholar (ERS) Institute.

Saat ditanya apa akan hadir dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang pada 27-31 Agustus 2026 nanti, ia mengatakan, bahwa dirinya sangat ingin hadir sebagài muktamirin. Ia juga mengaku sudah dihubungi oleh panitia PBNU untuk memastikan memenuhi syarat sebagai peserta Muktamar NU.

“Saya dihubungi agar segera diurus masalah syarat peserta muktamar ini. Saya ingin sekali ikut ke Jombang, ingin nostalgia, sebab enam tahun dari SMP sampai SMA saya di Tebuireng dan sering keliling daerah di Jombang,” katanya. (*)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.