Laporan dari Ukraina: Kami Hanya Ada Waktu 15 Menit Sampai 1 Jam untuk Berlindung dari Serangan Rusia

oleh
Pepi Aprianti ukraina
Pepi Aprianti Utami bersama suami, Nikolai, yang seorang engineer, sedang menikmati suasana Kyiv, ibukota Ukraina, yang situasinya semakin membaik.

Serangan rudal besar-besaran yang dilakukan Rusia ke pusat Kota Kyiv dan sejumlah kota lain di siang bolong beberapa hari lalu membuat warga ibukota Ukraina itu semakin cemas. Sebanyak 37 warga tewas. Bagaimana warga kota yang hidup dalam kekacauan perang itu bisa bertahan?

 

Oleh Gatot Susanto

 

SUASANA di ibukota Kyiv masih mendung berkabung. Hampir semua warga masih syok. Trauma. Hingga hari ini pun air raid alarm masih aktif.

Aplikasi ini memandu warga untuk selalu waspada agar selamat dari serangan Rusia yang kadang dilakukan tiba-tiba. Warga harus selalu menaati imbauan dari Pemerintah terkait ancaman yang timbul dari serangan Rusia.

“Pertama-tama warga Ukraina memang diminta untuk mengikuti himbauan-himbauan dari pemerintah atau DSNS (semacam Dinas Damkar-nya Ukraina, Red.). Setiap air raid sirene bunyi nanti di aplikasi dikasih tahu ada ancaman apa? Dan biasanya kalau tingkat bahayanya meningkat dikasih lagi peringatan untuk pergi ke shelter,” kata diaspora Indonesia yang tinggal di Kota Kyiv, Pepi Aprianti Utami, kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (17/7/2024).

Warga perlu melakukan antisipasi terhadap ancaman dari Rusia itu. Tergantung dengan lokasi darimana dan ke kota mana Rusia menembakkan rudal-rudalnya.

“Kami di Ukraina punya waktu sekitar 15 menit hingga 1 jam untuk pergi berlindung. Ada yang pergi ke shelter ada yang ke basement, dan ada yang ke subway atau penyeberangan bawah tanah. Paling tidak pergi ke koridor apartment atau dalam ruangan dan jauh dari jendela,” jelasnya.

Pepi mengaku dirinya juga masih syok dengan serangan Rusia yang baru terjadi kemarin. Serangan rudal besar-besaran ke pusat kota Kyiv di siang bolong yang membuat banyak warga sipil jadi korban.

“Waktu serangan terjadi untungnya kami sedang di rumah, jadi saya berlindung di koridor dalam apartment. Lokasi serangan cukup jauh dari lokasi saya tinggal, tapi suara ledakan terdengar keras, dan jendela juga bergetar keras, Serem sekali. Kalau ga salah ada sampai 4 kali ledakan,” katanya.

Setelah serangan itu dia berusaha mencari tahu dengan membaca berita lokal. Dia pun sedih membaca berita tersebut sebab diperlihatkan pula akibat dari serangan rudal Rusia itu. Ada 2 tempat yang satu rumah sakit pengobatan kanker untuk anak-anak. Yang kedua dekat stasiun subway.

“Kerusakannya sangat parah sekali. Gedung hancur dan ratusan orang luka-luka. Data terakhirnya 33 (Sekarang bertambah jadi 37 meninggal) orang meninggal, itu total korban di 3 kota yang juga diserang saat itu di waktu yang sama. Untuk Kota Dnipro, Krivy Rih. dan Kharkiv di Kyiv sendiri data sementara 10 orang meninggal,” ujarnya.

Sekarang situasi di sekitar ledakan masih belum kondusif. Transportasi sebagian tidak beroperasi. Toko-toko tutup, banyak relawan mengevakuasi reruntuhan bekas serangan rudal Rusia. “Relawan masih beres-beres serpihan reruntuhan,” ujarnya.

Puluhan sukarelawan termasuk staf rumah sakit dan tim penyelamat pun tampak menggali puing-puing rumah sakit untuk mencari korban selamat imbas serangan tersebut. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan Rusia telah menembakkan puluhan misil ke lima kota di selatan dan timur Ukraina, termasuk ibu kota Kyiv.

Setidaknya 37 orang tewas imbas serangan itu. Tiga di antaranya merupakan anak-anak. Lebih dari 170 orang juga terluka.

Menurut Zelensky, serangan-serangan itu merusak nyaris 100 bangunan termasuk sekolah dan rumah sakit bersalin. Pasukan Ukraina sejauh ini berhasil menjatuhkan 30 proyektil Rusia. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.