Diskriminasi?
Aturan karantina dan booster vaksin ini sempat mencuatkan tuduhan ada diskriminasi atas jamaah umrah Indonesia sebab jamaah dari negara lain hanya mensyaratkan sudah vaksin lengkap. M. Sufyan berharap agar tidak ada karantina lagi selama jamaah sudah melakukan vaksin lengkap sebab hal itu akan memberatkan jamaah.
“Saat ini pemerintah sedang dalam tahap penyelarasan sistem pedulilindungi supaya connect dengan sistem Tawakalna punya Saudi, sebab selama ini belum bisa. Bila belum connect, sepertinya umrah untuk Indonesia juga belum bisa,” ujarnya.
Pemilik biro haji dan umrah Al Multazam Utama Nusantara ini mengatakan, di Arab Saudi semua jamaah yang masuk sudah tanpa karantina. Yang unik, di negara kita sendiri, saat jamaah pulang harus pula menjalani karantina 5 hari, sementara saat berangkat karantina satu hari.
“Nah, inilah yang kita usulkan untuk dihapus. Masak di negara lain karantina sudah tidak ada, malah di negara kita sendiri masih wajib karantina,” katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, kemungkinan Arab Saudi akan membuka umrah bagi jamaah Indonesia bulan November depan. Terkait hal itu, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas saat membuka secara resmi Musyawarah Kerja Nasional 2021 Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Mukernas 2021 AMPHURI) yang diselenggarakan secara hybrid di Kampung Maghfirah, Bogor, Rabu (20/10/2021), mengatakan, akan berangkat ke Arab Saudi akhir Oktober ini.
“Bersamaan dengan itu, pemerintah tetap melakukan diplomasi. Pada akhir Oktober ini, kami akan bertemu langsung dengan Pemerintah Arab Saudi untuk membawa misi ini,” kata Menag.













