Oleh Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah)-Pengasuh Pesantren Ora Aji Yogyakarta
Menakhodai Nahdlatul Ulama (NU) di abad kedua bukan lagi soal menjaga tradisi kematian, kelahiran dengan selametan, tahlilan, atau sekadar memobilisasi massa saat Pemilu. NU hari ini adalah raksasa yang sedang berdiri di persimpangan jalan peradaban digital dan globalisasi ekonomi.
Siapa yang pantas memimpin jemaah sebesar ini? Jawabannya jelas: ia haruslah sosok yang memiliki jangkar lokal yang kuat namun punya sayap yang mampu mengepak hingga ke level global.
Menjalankan NU di abad baru membutuhkan nakhoda dengan spesifikasi khusus. Enam kriteria ini bukan sekadar pelengkap resume, melainkan syarat mutlak demi keselamatan organisasi:
Satu; harus Pengasuh Pesantren. NU pada hakikatnya adalah pesantren besar. Roh, kultur, dan denyut nadi NU ada di sana. Menunjuk ketua umum yang bukan pengasuh pesantren sama saja dengan memisahkan anak dari ibu kandungnya. Pemimpin harus paham betul bahasa santri dan bahasa kiai.
Dua; punya akar literasi agama yang kokoh. Penguasaan kitab turats (klasik) dan muashir (kontemporer) adalah harga mati. Mengapa? Agar NU tidak kehilangan kompas keislamannya di tengah gempuran ideologi transnasional maupun liberalisme ekstrem. Ia harus fasih membaca kitab kuning, sekaligus tangkas membedah isu-isu modern.
Tiga; Punya visi misi yang jelas dan terukur. NU tidak boleh lagi berjalan dengan manajemen “mengalir saja”. Tanpa peta jalan yang presisi, NU hanya akan menjadi penonton peradaban, bukan penggerak. Pemimpin baru harus tahu persis NU mau dibawa ke mana dalam 10 hingga 20 tahun ke depan.
Empat; Sudah alesai secara ekonomi. Ini poin krusial. Ketua Umum PBNU harus sudah makmur secara pribadi. Jika perutnya masih lapar, atau bisnisnya masih bergantung pada proyek pemerintah, NU akan rapuh sebagai kekuatan civil society. Ia akan mudah tergoda konflik kepentingan dan ditarik-tarik oleh syahwat politik praktis.
Lima. Punya kecakapan diplomatik di tingkat global. Dunia sedang menyusut menjadi sebuah desa global. Isu Islamofobia, perdamaian dunia, dan perubahan iklim membutuhkan peran NU. Pemimpin NU wajib memiliki kemampuan lobi internasional dan fasih berkomunikasi di panggung dunia agar suara Islam Nusantara didengar global.
Emam; Paham manajerial modern. Mengelola aset NU—dari sekolah, rumah sakit, hingga dana umat—tidak bisa lagi memakai manajemen tradisional. Butuh sentuhan korporasi yang transparan, akuntabel, dan berbasis teknologi mutlak. NU harus dikelola secara profesional, bukan sekadar pelengkap hobi organisasi.
Mengapa Kiai Imam Jazuli? Saat radar kita arahkan ke medan sirkulasi kepemimpinan, muncullah nama-nama beken. Ada Gus Kikin yang membawa karisma besar dari PP Tebuireng. Ada Gus Rozin, figur muda yang matang di Mathali’ul Falah Kajen.
Ada pula Gus Yusuf, singa panggung yang mengasuh pesantren API Tegalrejo. Lalu Gus Salam pengasuh pesantren Denanyar yang selama ini vokal dan kritis pada model kepemimpinan NU hari ini. Mereka semua adalah kader terbaik, mutiara-mutiara NU yang luar biasa.
Di luar nama-nama itu ada Ra Azaim Pengasuh Pesantren Situbondo, Prof Nasaruddin, Menteri Agama RI, ada Gus Zulfa, mubaligh yang terkenal pembuat syair Arab, Gus Fahrur Pengasuh PP Annur Malang, dan tentu saja calon petahana Gus Yahya. Ini bukti NU tidak pernah kekurangan kader terbaiknya.
Namun, jika kita membedah keenam kriteria di atas dengan pisau analisis yang objektif dan dingin, nama Kiai Imam Jazuli—pengasuh sekaligus pendiri Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon—terlihat menonjol secara unik.
Mengapa beliau? Mari kita bedah rekam jejaknya. Secara kapasitas keilmuan, beliau adalah kombinasi langka. Ia mengecap pendidikan salafiah murni di Pondok Pesantren Lirboyo, episentrum keilmuan kitab kuning tanah air. Tidak berhenti di situ, ia terbang ke Mesir dan menyelesaikan studinya di Universitas Al-Azhar, Kairo.
Jembatan keilmuan timur tengah dan salafiah nusantara sudah selesai di dirinya. Ditambah lagi dengan wawasan regionalnya saat menempuh pendidikan bidang politik, pertahanan dan strategi di Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Malaya Malaysia.
Yang paling membedakan Kiai Imam Jazuli dengan kandidat lain adalah kemandirian finansial dan kemampuan manajerialnya yang revolusioner. Beliau bukan sekadar menerima warisan pesantren, melainkan mendirikan pesantren dari nol.
Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon yang ia rintis tumbuh menjadi institusi pendidikan modern yang mandiri secara finansial tanpa ketergantungan pada ekosistem politik formal. Konsep tata kelola ekonominya matang, manajemennya lari kencang, dan visinya melompat ke depan. Ini membuktikan bahwa ia sudah selesai dengan urusan domestik ekonominya.
NU abad kedua tidak lagi butuh ketua umum yang baru mau belajar memimpin organisasi besar. NU butuh sosok yang sudah terbukti mampu membangun sistem, mandiri secara ekonomi, alim secara keilmuan, dan lincah dalam pergaulan global.
Melihat tantangan zaman yang kian pragmatis dan kompleks, profil seperti Kiai Imam Jazuli memberikan harapan baru bagi masa depan PBNU yang mandiri, kokoh, dan berwibawa di mata dunia. Amin yarabbal alamin. (*)












