CIREBON| DutaIndonesia.com – Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon, KH Imam Jazuli, Lc., MA, mengaku bersyukur dan berbahagia atas kunjungan silaturahim KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) ke pesantren yang diasuhnya. Menurutnya, kehadiran cicit Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang saat ini menjabat sebagai Ketua PWNU Jawa Timur sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng tersebut menjadi momentum berharga untuk mempererat ukhuwah sekaligus berdiskusi mengenai masa depan Nahdlatul Ulama.
Dalam pertemuan tersebut, KH Imam Jazuli dan Gus Kikin membahas dinamika internal NU menjelang Muktamar ke-35. Menurut KH Imam Jazuli, salah satu agenda penting yang perlu terus digaungkan pada abad kedua NU adalah mengembalikan ruh gerakan organisasi kepada nilai-nilai yang telah diwariskan para muassis melalui Qanun Asasi NU dan Muqaddimah Qanun Asasi.
“Kami berdiskusi cukup panjang tentang pentingnya kembali kepada Qanun Asasi NU. Semua pengurus, mulai tingkat ranting hingga PBNU, harus benar-benar menghayati dan mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Muqaddimah dan Qanun Asasi. Jika nilai-nilai tersebut dijalankan dengan sungguh-sungguh, saya meyakini berbagai kegaduhan yang terjadi belakangan tidak perlu muncul,” ujar KH Imam Jazuli, Sabtu (11/07/2026) saat menerima kunjungan Gus Kikin di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon.
Menurutnya, Qanun Asasi bukan sekadar dokumen historis organisasi, melainkan pedoman moral, etika, dan arah perjuangan yang harus menjadi landasan setiap kebijakan serta gerakan Nahdlatul Ulama.
“Abad kedua NU harus ditandai dengan gerakan kembali kepada Qanun Asasi. Sudah saatnya seluruh pengurus dan warga Nahdliyin menjadikannya sebagai kompas moral dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Dari situlah NU akan tetap kokoh menjaga khittah, tradisi, dan orientasi pengabdiannya kepada umat dan bangsa,” tegasnya.
Selain itu, kedua tokoh juga menyoroti pentingnya memperkuat soliditas organisasi di tengah beragam dinamika yang berkembang menjelang Muktamar. KH Imam Jazuli menilai bahwa NU membutuhkan semangat baru untuk melangkah bersama, meninggalkan sekat-sekat kelompok, dan membangun kolaborasi yang lebih luas demi kemajuan jam’iyah.
“Kami sepakat bahwa NU tidak akan menjadi besar hanya karena figur, tetapi karena kekuatan kolektif seluruh pengurus dan warganya. Semangat bergandengan tangan, bahu-membahu, dan saling menguatkan harus menjadi budaya organisasi di semua tingkatan,” katanya.
Ia menambahkan, keberadaan berbagai kelompok dan perbedaan pandangan dalam organisasi merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan demokrasi NU. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menjadi penghalang bagi terwujudnya persatuan dan kerja bersama.
“Ke depan, semangat yang harus dibangun bukan lagi ana wal akhor (saya dan yang lain), melainkan Nahnu Nahdiyyun (kita semua adalah Nahdliyin). Kesadaran kolektif inilah yang harus menjadi fondasi gerakan bersama untuk membangkitkan NU yang lebih kuat, lebih berdaya guna, dan mampu menghadirkan peradaban yang maslahat bagi umat, bangsa, dan dunia,” ujar alumni Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir itu.
Kandidat Pemimpin PBNU
KH Imam Jazuli menilai Gus Kikin merupakan salah satu figur yang memiliki modal kuat untuk memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada periode mendatang. Penilaian tersebut disampaikan KH Imam Jazuli setelah mencermati dinamika menjelang Muktamar ke-35 NU, yang menurutnya harus menjadi momentum menghadirkan kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh elemen Nahdliyin sekaligus membawa organisasi semakin profesional tanpa meninggalkan tradisi pesantren.
Menurut KH Imam Jazuli, terdapat beberapa faktor yang menjadikan Gus Kikin layak diperhitungkan dalam kontestasi kepemimpinan PBNU.
“NU membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya memiliki legitimasi keilmuan dan moral, tetapi juga pengalaman organisasi, kemampuan mempersatukan warga, serta kemandirian dalam mengambil keputusan. Dalam pandangan saya, Gus Kikin memiliki modal tersebut,” terangnya.
Ia menjelaskan, Gus Kikin memiliki kedekatan historis dengan Nahdlatul Ulama sebagai keturunan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Namun, menurutnya, faktor nasab tidak cukup apabila tidak dibarengi dengan rekam jejak kepemimpinan yang nyata.
“Nasab adalah amanah, bukan privilege. Yang terpenting adalah bagaimana nilai-nilai perjuangan para muassis diwujudkan dalam kepemimpinan yang melayani umat dan menjaga marwah jam’iyah,” katanya.
KH Imam Jazuli juga menyoroti kiprah Gus Kikin sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, salah satu pesantren bersejarah yang menjadi pusat lahirnya banyak ulama dan pemimpin bangsa.
Menurutnya, memimpin pesantren sebesar Tebuireng bukan sekadar mengelola lembaga pendidikan, tetapi juga menjaga tradisi keilmuan, membina ribuan santri, serta membangun jejaring sosial-keagamaan yang luas.
“Pengalaman memimpin Tebuireng menunjukkan kapasitas manajerial sekaligus spiritual. Dua aspek itu sangat penting ketika memimpin organisasi sebesar NU,” ujarnya.
Selain pengalaman kepesantrenan, KH Imam Jazuli menilai rekam jejak Gus Kikin sebagai Ketua PWNU Jawa Timur menjadi nilai tambah karena berhasil mengelola organisasi NU di wilayah dengan jumlah warga Nahdliyin terbesar di Indonesia.
“Jawa Timur merupakan barometer NU. Memimpin organisasi sebesar PWNU Jawa Timur membutuhkan kemampuan komunikasi, konsolidasi, dan penyelesaian berbagai dinamika internal. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting apabila diberi amanah di tingkat PBNU,” jelasnya.
KH Imam Jazuli juga menilai kemandirian ekonomi seorang pemimpin menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga independensi organisasi.
“Pemimpin yang mandiri secara ekonomi akan lebih leluasa menjaga marwah organisasi, mengambil keputusan berdasarkan kemaslahatan umat, dan tidak mudah terpengaruh oleh kepentingan-kepentingan transaksional,” tuturnya.
Meski demikian, KH Imam Jazuli menegaskan bahwa Muktamar NU bukan sekadar ajang memilih figur, melainkan momentum menentukan arah organisasi pada abad kedua NU.
Menurutnya, siapa pun yang nantinya terpilih harus mampu membawa NU fokus pada agenda-agenda strategis, mulai dari penguatan pendidikan pesantren dan sekolah NU, peningkatan layanan kesehatan warga Nahdliyin, pemberdayaan ekonomi umat, transformasi tata kelola organisasi yang profesional, hingga memperkuat peran NU sebagai mitra strategis pemerintah dalam pembangunan bangsa.
“Yang paling penting bukan siapa yang menang, tetapi bagaimana NU semakin kuat, semakin bermanfaat bagi umat, dan tetap menjadi perekat kebangsaan. Muktamar harus menjadi ruang persatuan, bukan ruang perpecahan,” tegas KH Imam Jazuli.
Ia pun mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama untuk menyambut Muktamar ke-35 dengan semangat ukhuwah dan khidmah.
“Mari kita jadikan Muktamar sebagai ikhtiar bersama untuk menghadirkan kepemimpinan terbaik bagi jam’iyah NU. Perbedaan pilihan adalah bagian dari demokrasi organisasi, tetapi persaudaraan Nahdliyin harus tetap menjadi prioritas utama. Momentum Muktamar ke-35 NU yang mudik ke kampung halaman ini harus dijadikan titik berangkat menuju kejayaan NU di abad kedua,” pungkasnya. (Ria)














