SURABAYA| DutaIndonesia.com – Bagi Gabriel Eva, alam adalah sumber keindahan sekaligus ruang refleksi. Bagi Nana Yap, melukis merupakan jalan pulang untuk menemukan kembali jati diri. Sementara bagi Zeta Ranniry Abidin, seni lukis berkembang dari latihan menguasai teknik menjadi cara mengolah pengalaman dan gagasan.
Ketiganya menempuh jalan berbeda, tetapi bertemu pada satu hal, bahwa melukis bukan semata-mata menghasilkan gambar, melainkan sebuah proses menjadi diri sendiri.
Pengalaman ketiga perempuan yang menampilkan karya lukisnya di ARTSUBS 2026 memperlihatkan, perjalanan artistik tidak selalu berlangsung lurus. Pameran seni rupa kontemporer ARTSUBS 2026 sendiri berlangsung hingga 7 November mendatang.
Ragam pengalaman itu mereka bagikan dalam program Wicara Seniman bertajuk Seni Lukis Saya: Apa dan Bagaimana? di ARTSUBS 2026 yang digelar di Balai Pemuda, Sabtu (24/10/2026).
Dipandu budayawan dan kurator Nirwan Dewanto, perbincangan itu tidak hanya mengungkap bagaimana mereka membuat lukisan, tetapi juga alasan di balik pilihan artistik, pergulatan pribadi, dan tantangan untuk bertahan hidup sebagai seniman.
Desainer Agnez Mo
Awalnya Eva suka menggambar. “Tapi orangtua saya tidak ngizinin kalau terjun ke dunia seni yang betul-betul jadi seniman,” ujarnya.
Karena suka gambar, ia memilih jurusan yang bisa mengakomodasi dan ada wadahnya seperti desain. “Pilihan saya jatuh ke fesyen. Waktu itu saya sekolah di Arva (Arva School of Fashion), karena ada programnya,” terang Eva.
Dia berniat melanjutkan ke Singapura untuk mendapatkan gelar Bachelor of Art. Alasannya, di Surabaya pada 2009 belum ada sekolah yang bisa memberikan gelar sarjana desain.
Di tengah jalan, Eva lolos audisi untuk jadi desainer Agnes Monica (kini populer sebagai Agnez Mo). Setelah lulus pendidikan di Arva, dia bekerja sebagai desainer kostum Agnes untuk video klip dan panggung.
“Ketika itu saya masih 20 tahun, saya putuskan harus explore,” ujar Eva yang sempat membangun lini pakaian anak berlabel Bonne Chance.
Perjalanan hidup membawanya ke arah lain. Pandemi Covid-19 yang membatasi bertemu orang lain membuatnya mencoba aktivitas lain yang tidak jauh dari gambar.
Eva mulai menekuni seni lukis secara otodidak pada 2020. “Saya bahkan nggak ngerti cara megang kuasnya,” ungkapnya.
Ia kemudian belajar secara mandiri, antara lain melalui Pinterest, sambil mengandalkan kepekaan visual yang telah terbentuk selama bekerja di dunia fesyen.
“Pertama melukis di kanvas ukuran 40×40 cm, ternyata ada yang suka. Buat lagi juga laku dan itu terus,” ujarnya.
Kegemaran mendaki gunung dan menjelajahi ruang terbuka mempertemukannya dengan vegetasi, bunga, lanskap hutan, serta detail-detail kecil yang kerap luput dari perhatian. Pengalaman itu kemudian diterjemahkan ke dalam lukisan melalui warna, ingatan visual, foto, dan imajinasi.
Keputusan untuk serius menekuni seni juga berkaitan dengan pengalaman praktis. Ketika lukisannya terjual dan hasilnya dapat membantu menutup kekurangan dalam bisnis fesyen, Eva mulai melihat kemungkinan lain dari jalan hidupnya. Setelah menutup bisnis fesyen pada Februari 2024, ia semakin memusatkan perhatian pada seni lukis.
Manusia Galau
Nana Yap menempuh perjalanan yang lebih berliku. Melukis, baginya berkaitan erat dengan pencarian identitas, pengalaman keluarga, dan pertanyaan tentang arti pulang.
Perempuan keturunan Tionghoa ini mengawali perjalanan seninya dengan menggambar bunga. “Karena bunga itu kalau salah nggak ada yang kritik. Kalau gambar manusia, nanti kepalanya terlalu kecil, kakinya terlalu pendek,” kata Nana yang mengaku sudah menggambar sejak usia 5 tahun.
Nana memilih kuliah di Desain Komunikasi Visual UK Petra Surabaya, semata-mata agar bisa tetap menggoreskan gambar di atas kertas.
Namun kejenuhan melanda karena menggambarnya kemudian lebih banyak menggunakan aplikasi. Nana pun meninggalkan dunia gambar.
Atas saran orangtuanya, ia melanjutkan pendidikan bidang manajemen di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Ketika menjauh dari kegiatan menggambar, Nana justru kembali menemukan ketertarikannya pada seni. Kebiasaannya mengunjungi galeri saat di Yogyakarta, mempertemukannya lagi dengan dunia yang sempat ditinggalkan.
Ada sesuatu yang tidak selesai dalam hubungannya dengan seni. Nana menyebut dirinya sebagai “manusia galau”.
Ungkapan itu bukan sekadar pengakuan tentang suasana hati, melainkan gambaran mengenai proses kreatif yang berangkat dari kegelisahan. Ia membawa pengalaman sebagai perempuan keturunan Tionghoa-Indonesia, tekanan keluarga, latar belakang spiritual, dan pencarian makna tanah air ke dalam karya-karyanya.
Dalam keadaan tersebut, seni memiliki fungsi yang menyerupai terapi. Nana berusaha memahami dari mana kegelisahan itu berasal dan bagaimana pengalaman personal dapat diterjemahkan menjadi bahasa visual.
Pendiri “Daun Art Studio” ini juga sempat mengajar di kelompok bermain selama dua tahun dengan pendekatan yang dipengaruhi art therapy. Pengalaman itu memperlihatkan bahwa ketertarikannya pada seni tidak terbatas pada penciptaan karya, tetapi juga menyentuh kemungkinan seni menjadi ruang belajar dan pemulihan.
Sementara perjalanan Zeta Ranniry Abidin menunjukkan sisi lain dari proses menjadi seniman. Zeta tumbuh dengan dukungan keluarga yang akrab dengan seni.
Zeta yang menekuni lukis sejak SMP, menjadikan melukis sebagai ruang untuk menyalurkan diri. Selanjutnya sebagai sarana untuk memahami perasaan serta berhubungan dengan lingkungan sosial.
Pelukis yang sedang menempuh pendidikan S2 di Universitas Maranatha Bandung ini menyebut proses belajar sama pentingnya dengan hasil akhir.
Lingkungan keluarga, pengalaman mengunjungi pameran, dan pertemuannya dengan para perupa yang lebih berpengalaman turut membentuk perjalanan Zeta.
Dan perjalanan itu juga telah membawanya ke sejumlah pencapaian. Ia meraih Bronze Award dalam UOB Painting of the Year 2023 dan masuk nominasi Young Artist Award di ARTJOG 2023.
Menurut Zeta, yang lebih penting dari semua adalah, “Bagaimana kemampuan tersebut digunakan untuk menyampaikan sesuatu.” (ret)














