Meskipun angka-angka ini masih relatif kecil dibandingkan dengan ekspor semikonduktor global, angka-angka ini menunjukkan bahwa industri semikonduktor Indonesia sedang dalam tren naik. Pendapatan industri semikonduktor Indonesia juga meningkat dari tahun ke tahun dan diperkirakan akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang (lihat gambar 2).

Gambar 2 Pertumbuhan industri semikonduktor di Indonesia dan proyeksinya menurut Statista
Beberapa entitas penting dalam industri semikonduktor di Indonesia, antara lain, Infineon, Samsung Electronics, NEC Semiconductor, Toshiba Semiconductor, dan Sharp Semiconductor. Selain itu, beberapa lembaga serta perguruan tinggi juga terlibat dengan mendirikan pusat riset dan pengembangan mikroelektronik, di antaranya Institut Teknologi Bandung (ITB), Lembaga Elektronika Nasional (LEN) dan beberapa kelompok penelitian di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang berfokus pada penelitian di bidang perangkat semikonduktor dan sirkuit terpadu.
Meskipun industri semikonduktor di Indonesia masih berada pada tahap awal perkembangannya, terdapat tanda-tanda pertumbuhan dan investasi yang menjanjikan di bidang ini.
Kemana perkembangan industri semikonduktor Indonesia akan dibawa?
Menurut Jan-Peter Kleinhans dan Dr. Nurzat Baisakova dalam laporan “The Global Semiconductor Value Chain” yang dirilis tahun 2020, value chain cip semikonduktor yang begitu kompleks dan saling tergantung ini menciptakan tiga tantangan sekaligus bagi para pembuat kebijakan.
Pertama, bagaimana memastikan akses ke penyedia teknologi asing? Karena kekacauan pada salah satu pemain utama sebagaimana tersebut di atas dapat mengganggu seluruh rantai pasok, maka perlu ada langkah-langkah pengendalian ekspor, kebijakan luar negeri, dan perdagangan untuk memastikan akses berkelanjutan ke penyedia teknologi asing. Relevansi untuk Indonesia khususnya terdapat pada bagaimana berlimpahnya bahan mentah cip semikonduktor, salah satunya ialah pasir silica, dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menaikkan daya tawar pada value chain cip semikonduktor.
Kedua, bagaimana membangun pengaruh dengan memperkuat perusahaan domestik melalui kebijakan industri strategis? Saat mengetahui bahwa tidak ada satu negara pun yang dapat memiliki seluruh rangkaian produksi cip semikonduktor di dalam wilayahnya sendiri, pemerintah semestinya segera mendukung industri semikonduktor dalam negeri untuk mempertahankan sebuah posisi kunci dalam value chain besar ini. Di antara bentuk dukungan pemerintah dalam hal ini, antara lain, adalah dengan meningkatkan anggaran untuk riset dan pengembangan semikonduktor serta menyiapkan ketersediaan sumber daya manusianya.
Hal ini dapat dicapai dengan pemberian insentif pada rumpun keilmuan STEM (sains, teknologi, engineering, dan matematika) di berbagai jenjang pendidikan, khususnya pada jenjang perguruan tinggi. Beberapa contoh jurusan dalam rumpun ini pada tahap sarjana (S1) yaitu fisika, kimia, matematika, teknik elektro, teknik material, dan teknik informatika. Sedangkan pada tahap magister (S2), jurusan-jurusan yang mendalami bidang-bidang baru yang disruptif, seperti mikro dan nanoteknologi, artificial
intelligence, 3D/additive manufacturing, optik dan fotonik, hingga semikonduktor sendiri semestinya juga semakin disuburkan.
Ketiga, bagaimana cara mendorong value chain untuk menjadi lebih tangguh? Pada bagian tertentu, seperti kontrak produksi cip, value chain ini sangat terkonsentrasi hanya di beberapa lokasi, sehingga perlu adanya diversifikasi untuk menurunkan resiko geografis dan geopolitik.
Pemerintah Indonesia dapat menimbang, dari ketiga tahap pembuatan cip semikonduktor (desain – fabrikasi – perakitan), mana model bisnis semikonduktor yang paling mencocoki dengan kondisi geografis, geopolitik, bahkan demografis dan ekonomi negara: model bisnis yang terfokus pada desain cip membutuhkan dasar keilmuan dan keterampilan yang intensif, ditambah penelitian dan pengembangan yang berbiaya tinggi.
Model bisnis yang juga dikenal dengan istilah fabless ini dapat menghabiskan 25% dari pendapatannya hanya untuk riset dan pengembangan; mungkin tidak begitu cocok. Sedangkan model bisnis yang terfokus pada fabrikasi cip pun ternyata membutuhkan modal besar karena fasilitas dan biaya peralatan yang sangat mahal; rasanya juga kurang cocok. Mungkin saja Indonesia lebih cocok dengan model bisnis perakitan cip semikonduktor yang bersifat padat karya meski margin keuntungannya lebih rendah?
Yang mana pun pilihannya, pemerintah Indonesia sepertinya dapat belajar banyak dari pengalaman Korea Selatan: kemajuan pesat industri semikonduktor dalam negeri nyata memberi dampak positif dalam memperkuat kondisi ekonomi negara. Siapa menduga bila kemajuan dan keunggulan yang dinikmati Korea Selatan dalam berbagai bidang awalnya bermula dari sebuah mata kuliah bernama teknik semikonduktor yang diajarkan oleh Dr. Kim Choong-Ki sejak tahun 1975 di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST)? Tujuh orang murid generasi pertamanya, dijuluki “Kim’s Mafia”, nyata menjadi figur sentral pemerintah, industri, dan kampus dalam memajukan dunia semikonduktor di Korea Selatan.
Lalu apa yang kita harapkan pada debat capres terakhir dalam konteks teknologi informasi?
Dengan jangka waktu pemaparan yang sangat singkat, rasanya hampir mustahil mengharap para capres untuk membahas teknologi informasi dari perspektif cip semikonduktor, apalagi membahas kebijakan yang akan dicanangkan. Namun demikian, sudah cukup menarik bagi saya apabila ada dari ketiga capres mengucapkan kalimat kunci seperti “pentingnya mengembangkan industri cip semikonduktor di dalam negeri melalui kerjasama erat antara pemerintah, industri, dan kampus”.
Setidaknya, kalimat demikian cukup menunjukkan pemahaman betapa cip semikonduktor berperan sentral dalam teknologi informasi di era modern ini. Semoga! (*)














