Merdeka Itu Berakal Sehat

oleh

 

Oleh Masdawi Dahlan*

PADA bulan Agustus tahun ini bangsa Indonesia akan memperingati HUT kemerdekaannya yang ke 80. Usia yang masuk sangat tua bagi ukuran manusia saat ini. Tentunya pada saat berusia lanjut ini seharusnya bangsa Indonesia berada pada momentum kesadaran penuh untuk menjadi bangsa yang baik.

Tidak boleh ketika memperingati HUT Kemerdekaan bangsa ini hanya terjebak pada kegiatan seremonial dengan upacara dan gelaran berbagai macam aneka lomba. Namun seharusnya peringatan itu diwujudkan dalam bentuk introspeksi total terhadap apa dan bagaimana seharusnya membangunan negeri.

Hingga saat ini harus diakui kemerdekaan yang dirasakan tak lebih dari sekedar hengkangnya penjajah secara fisik dari bumi Indonesia. Bangsa ini masih belum bisa menemukan formulasi yang tepat dalam memaknai hari kemerdekaan yang diperjuangkan secara berdarah darah oleh pejuang kemerdekaan.

Akibatnya pembangunan yang dijalankan belum bisa berbuah banyak untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Yang terjadi justru sebaliknya sebagian besar rakyat Indonesia kini dihantui oleh perasaan tidak menentu kemana arah kehidupan bangsa ini kedepan.

Terlalu banyak kasalahan yang dilakukan negeri ini dalam mengisi kemerdekaan yang diraihnya. Dalam berbagai aspeknya, bangsa ini mengalami degradasi. Ekonomi, politik, budaya, pertahanan keamanan, dan social keagamaan, tengah mengalami masalah besar.

Yang mengkhawatirkan kondisi kritis bangsa itu, justru memunculkan kekhawatiran baru akan kembali terjadinya penjajahan. Penjajahan yang tentunya bukan lagi penjajahan fisik, namun penjajahan mental, moral dan akal pikiran.

Penjajahan macam ini lebih berbahaya jika dibandingkan penjajahan fisik. Karena bangsa ini secara tidak sadar telah membelokkan arah cita cita dan perjuangan dalam membangun bangsanya. Penjajahan ini akan menenggelamkan akal sehat bangsa ini dalam menjalani napak tilas kehidupannya, sebagaimana diamanatkan para pendiri bangsa.

Negeri ini tidak sadar kalau ekonominya telah dikuasai asing, politiknya sudah diatur asing, hingga pertahanan keamanannya yang sangat rapuh yang sangat mungkin mudah dipatahkan jika bangsa ini terlibat konflik bersenjata dengan bangsa lain. Yang ironis ketika itu terjadi elemen elit bangsa tidak sadar akan bahaya yang akan menimpa bangsanya. Mereka makin gila saling sikut merebut kemewahan dan kekuasaan dan menikmati euforia dengan kesenangannya tanpa sadar akan bahaya yang akan menimpa bangsanya.

Berakal Sehat

Ada kesalahan paradigmatic dari bangsa ini dalam memahami makna kemerdekaan yang diraihnya. Kemerdekaan dimaknai sekedar hengkangnya penjajah fisik dari bumi pertiwi. Padahal kemerdakaan itu adalah sebuah kesempatan bagi sebuah bangsa untuk membangun berdasarkan kerangka berfikir yang rasional, sehat dan bebas dari intervensi menuju cita cita pembangunan nasional.

Presden RI yang pertama Ir Soerkarno mengatakan bahwa kemerdekaan adalah sebuah cita cita luhur yang harus diperjuangkan, diisi dengan pembangunan dan diabdikan untuk kesejahteraan seluruh rakyat. Profesor Dr Driyakarya seorang pemikir besar Indonesia memaknai kemerdekaan sebagai kekuasaan untuk menentukan diri berbuat atau tidak.

Menurut Bung Karno kemerdekaan bukan sekedar lepas dari penjajahan, tetapi sebuah proses untuk mewujudkan cita cita bangsa yang adil dan makmur serta berdaulat penuh, kemerdekaan adalah hak segala bangsa untuk mencapai tujuan nasionalisme, sosialisme dan persatuan.
Dua pemikir besar bangsa Indonesia itu menggariskan bahwa kemerdekaan adalah kesempatan untuk pembangunan dengan berdasarkan pada kerangka dan strategi pembangunan yang disusun secara rasional, riil untuk memenuhi kebutuhan dalam rangka menuju cita cita pembangunan yang diinginkan.

Semua pranata kehidupan berbangsa, produk hukum dan perundang undangan dan komitmen politik pembangunannya dilandaskan kepada perhitungan moral dan etika yang rasional. Sehingga pranata hukum dan perundang undangan yang ada sesuai dengan kebutuhan psykis ideologis, politis dan etis yang dimiliki oleh bangsa.
Disinilah makna kerangka berfikir sehat dibutuhkan. Yaitu kerangka berfikir berdasarkan etika moralitas dan budaya yang berlaku dalam sebuah negeri. Semua pranata hukum perundang undangan yang dibuat tidak akan berguna maksimal jika warganya tidak waras dan tidak menggunakan logika berfikir yang objektif, rasional dengan menjunjung tinggi cita cita pembangunan nasional.

Terjadinya berbagai tindakan korupsi dan penyelewengan hukum yang mengakibatkan bangsa ini terus terpuruk, berawal dari tidak konsistennya semua elemen bangsa terutama aparat penegak hukum, pejabat pemerintah pelayan masyarakat, para wakil rakyat, tokoh agama dan masyarakat secara umum, dalam mentaati perundang undangan yang berlaku. Mereka tidak menggunaan akal sehat lagi dalam bertindak.

Meminjam istilah pengamat politik Rocky Gerung, berakal sehat maknanya adalah landasan filosofis dalam bertindak dengan mempertimbangkan logis atau tidaknya sebuah tindakan. Merdeka adalah kesempatan bagi bangsa untuk bebas menggunakan akal sehatnya menyusun pranata hukum dan perundang undangan yang dipatuhi seacara totalitas oleh semua elemen bangsa.

Dalam ajaran Islam ditekankan begitu pentingnya menggunakan akal sehat untuk bisa memahami nilai nilai ajaran agama dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Dengan mengunakan akal sehat manusia bisa menerima dan menikmati kabahagiaan dan ketenangan dalam hidupnya.

Allah berfirman : “Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian siang dan malam terdapat tanda tanda bagi orang yang berakal,

*Penulis adalah wartawan DutaIndonesia.com dan Global News Biro Pamekasan.

No More Posts Available.

No more pages to load.