Diracun Gerwani
Iskandar menceritakan, pembunuhan masal terhadap 62 pemuda Ansor ini terjadi pada 18 Oktober 1965 silam. Tragedi berdarah ini bermula saat rombongan Pemuda Ansor dari Kecamatan Muncar hendak bepergian ke Kecamatan Kalibaru.
Namun saat berada di Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran mereka dihadang oleh Gerwani yang menyaru sebagai Fatayat NU.
“Jadi saat tiba di Karangasem, sekarang namanya Yosomulyo, rombongan pemuda Ansor ini dicegat oleh Gerwani yang menyamar sebagai Fatayat. Mereka berpura-pura mempersilakan rombongan pemuda Ansor untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan” kata Iskandar.
Kala itu, rombongan Pemuda Ansor disuguhkan makanan dan minuman oleh Gerwani. Rupanya suguhan tersebut merupakan jebakan dari rencana jahat PKI, karena sajian tersebut sebelumnya sudah ditaburi racun terlebih dahulu.
Tanpa rasa curiga, rombongan pemuda Ansor menyantap suguhan yang telah disiapkan. Namun, tak berselang lama mereka mulai mengalami mual dan pusing efek dari racun tersebut.
“Saat itulah, 62 Pemuda Ansor dibantai secara membabi buta oleh PKI,” ungkapnya.
Tak hanya itu, setelah melakukan pembantaian, PKI membuang jenazah 62 pemuda Ansor tersebut di tiga lubang yang berada di Dusun Cemetuk, Desa Cluring tempat Monumen Lubang Buaya berada sekarang.
“Satu lubang ada yang berisi 42 jenazah. Sementara dua lubang lainnya masing-masing 10 jenazah. Baru 3 hari kemudian, jenazah para pemuda Ansor tersebut diangkat dari dalam lubang oleh aparat militer,” ungkapnya.
Peristiwa berdarah ini, kata Iskandar, haruslah menjadi pembelajaran bagi bangsa Indonesia, bahwa segala dinamika perpolitikan tidak boleh diselesaikan dengan kontak fisik yang bisa menimbulkan pertumpahan darah sesama anak bangsa.
“Terlepas dari siapa yang benar dan salah, tragedi ini merupakan sejarah kelam yang mengakibatkan banyak anak bangsa yang kehilangan nyawanya. Kita juga belum bisa memastikan kebenaran terkait adanya konspirasi dibalik peristiwa tersebut,” kata Iskandar.
“Untuk itu, kita tidak ingin peristiwa itu dikenang sebagai sentimentil terhadap kelompok tertentu, karena rekonsiliasi sudah dilakukan. Ini harus jadi pembelajaran, apapun yang terjadi dinamika politik di Indonesia harus diselesaikan dengan baik, tanpa harus kontak fisik,” katanya.












