YOGYAKARTA|DutaIndonesia.com – Sejumlah seniman lukis, yakni Aam Artbrow, Aly Waffa, Mahendra Pam-pam, Mayek Prayitno, Wira Datuk, Suwandi Waeng, Rifai Prasasti, Ulil Gama, dan Wibi Asrob menggelar karya lukisnya di NW Art Space, Sleman, Yogyakarta, mulai Sabtu 23 Juli 2022 malam ini. Pameran seniman kelompok Nesos ini dibuka Pamuji Slamet dari Rachel Galeri.
Kelompok Nesos digagas oleh beberapa seniman yang sering berkomunikasi antar kota, karena aktifitasnya dalam kota masing – masing menunjukkan eksistensi mereka dalam kesibukan berkesenian. Mereka tinggal di kota Jakarta, Yogyakarta, Gresik dan Malang.
Para pelukis itu adalah Ally Waffa, Aam Artbrow, Mahendra Pam-pam, Wira Datuk, Suwandi Waeng dan Mayek Prayitno. Kali ini Nesos mengundang tiga perupa, antara lain Rifai Prasasti, Ulil Gama dan Wibi Asrob.
Aa’ Nurjaman dalam pengantar pameran menuliskan bahwa komunikasi antar kota ini diharapkan mampu mengikat gagasan-gagasan dan kreativitas perupanya dalam satu komunitas tapi berbeda wilayah dan bagaimana cara belajar mengontrol hambatan-hambatan agar tali kesatuan itu tetap utuh.
Dari itu Nesos adalah sebuah kesatuan, oleh beberapa wilayah yang terpisah. Biasanya Nesos/pulau dipisahkan oleh lautan, seperti halnya pulau-pulau di Nusantara yang dalam imaji kesatuannya disebut Indonesia.
“Dari gagasan itu maka diri, gagasan dan wilayah kami yang terpisah diibaratkan sebagai sebuah pulau yang saling berjauhan namun terikat oleh sebuah imaji, bentang gagasan dari barat ketimur dan sebaliknya. Dalam praktik seni rupa kami gunakan sebagai wadah, untuk menggagas masa lalu, kini, esok hari dan fantasi. Nesos bisa dikata sebuah pulau imajinasi,” katanya.
Prosaic Poetic
Teori yang disusun oleh Katya Mandoki, Everyday Aesthetic, menjelaskan bahwa dalam kerangka ‘bio-estetik’ yang lebih luas, estetika pada dasarnya adalah penajaman sensibilitas dalam kiprah pencerapan sehari-hari yang merupakan kebutuhan alami kehidupan. Secara spesifik, konteks ini ia sebut sebagai ‘the prosaic aesthetic’, yakni medan percaturan praktik sosio kultural sehari-hari, di mana gaya retorika dan dramaturgi digunakan untuk menangkap serta mengelola hasrat manusia.
“Sedangkan seni yang biasa disebut fine art adalah wilayah estetika ‘the poetic’, yakni bermacam kegiatan olah rupa dan olah bentuk dalam rangka menangkap dan mempertajam efek dari aliran denyut realitas ‘prosaic’ sehari-hari yang kemudian disebut imajinasi,” kata Aa’ Nurjaman.
Dalam arti, the prosaic adalah bermacam ‘presentasi’ realitas keseharian, sedangkan the poetic’ adalah aneka upaya ‘re-presentasi’ realitas (Mandoki, 2007).
“Kebanyakan realitas sehari-hari sangat dibedakan dengan imajinasi – imagine, sehingga lebih banyak orang hidup dalam tataran realitas yang sangat nyata, yakni bagaimana mereka bertahan hidup dengan upayanya atas sebuah pekerjaan yang menghasilkan uang. Kenyataan merupakan satu kesadaran tersendiri dan di imani oleh sebagian besar makhluk bumi,” katanya.
Disebelah kenyataan, kata Aa’ Nurjaman, ada imajinasi yang memiliki realitasnya sendiri. Imajinasi biasanya dianggap sebagai sesuatu tidak “nyata”, imajiner. Dunia imaji memiliki ruang yang tidak terbatas dengan memungkinkan ketidaknyataan menjadi nyata. Imajinasi tidak lain sebuah gambaran dihasilkan dari dalam pikiran.
Pada kondisi tertentu ia membentuk kenyataan, dunia material yang serba melingkupi. Manusia membayangkan dunia idealnya melalui imajinasi ketika kenyataan tidak lagi memenuhi hasrat bahagianya, ketakutannya bahkan kepada spiritualitas dan religiusitasnya.
Maka imajinasi dalam konteks pameran ini digunakan sebagai gambaran imajiner secara eksis muncul didalam karya seni, yang justru menghidupi dan memberi gairah para kreatornya. Imajinasi itu direpresentasikan melalui simbol-simbol atau alegori didasarkan atas pilihan imajinatif perupanya.
“Pada akhirnya memberikan karakteristik visual. Para perupa ini hidup dalam batas fakta keseharian dan kesadaran imajiner. Membentuk dunianya sendiri melalui dan memulai dari apa yang tidak nyata, dari kebingungan – kebingungan,” katanya. (gas)














