SURABAYA|DutaIndonesia.com – Ada satu lafazd, yang ringan membacanya, namun berat sekali timbangannya. Selain itu, memiliki fadilah yang luar biasa. Lafazd tersebut adalah “Lailahaillallah”.
Ini dikatakan oleh Prof DR KH Asep Saifuddin Chalim MA, di depan para santriwan – santriwati sekolah Tsanawiyah dan Aliyah Amanatul Ummah, Siwalan Kerto, Surabaya, Rabu, 30 Agustus 2023.
Dikatakan oleh Kiai Asep, para santrinya harus membiasakan (mendawamkan) diri untuk berdzikir dengan membaca lafazd tersebut, sebanyak 100 x, khusunya setelah sholat Subuh dan Isya. “Hanya butuh waktu sebentar nak, biasakan ya,” harap Kiai Asep.
Hal ini dikarenakan, timbangan pahalanya amat sangat berat dibanding dengan amalan-amalan dzikir lainnya. Jadi, kalau ada waktu lebih, bisa ditambah, 300x, 500x bahkan kalau mungkin 1.000x per hari.
Dijelaskan oleh Kiai Asep, bagi orang yang melafadkan “Lailahaillallah” selain mendapatkan pahala yang besar, maka orang tersebut tidak akan merasa ketakutan, tak akan ada rasa cemas, selama di alam kubur dan alam akherat (Yaumul akhir).
Tahap Yaumul Akhir
- Yaumul Barzakh (Alam Barzah)
- Yaumul Ba’ats (Hari Kebangkitan)
- Yaumul Mahsyar (Hari Berkumpulnya Seluruh Manusia)
- Yaumul Hisab (Hari Perhitungan)
- Yaumul Mizan (Hari Penimbangan)
- Yaumul Sirat (Hari Melewati Jembatan)
- Yaumul Jaza (Hari Pembalasan)
Pada saat di alam kubur, tidak akan ada siksa, bahkan nyaman seperti kemantin baru tidur di ranjang – hingga hari kiamat. Pada saat hari kebangkitan, wajah-wajah orang yang mengamalkan kalimat tauhid akan mengeluarkan sinar.
Ketika di Padang Mahsyar, maka orang-orang yang mendawamkan kalimat tauhid tersebut wajahnya akan tampak bercahaya. “Bersinar seperti rembulan di bulan purnama,” kata Kiai Asep.
Sementara orang-orang yang banyak dosa, wajahnya suram, ada yang seperti monyet, ada yang seperti babi, ada yang seperti kerbau dan sebagainya. Itu semua tergantung amal perbuatan di dunia.
Di Padang Mashar, matahari jaraknya hanya 1,6 Km, sehingga panas. Orang-orang yang banyak dosa berkeringat hingga tinggi keringatnya sepinggang, se-dada, hingga se-leher. Sementara orang-orang sholeh, terutama yang mendawamkan lafad tauhid, mendapatkan naungan yang teduh.
Dan terutama pada saat Yaumul Mizan (penimbangan amal perbuatan), orang tersebut tetap tenang, karena timbangan amalannya akan sangat berat. Karena selama hidupnya selalu mendawamkan kalimat tauhid tersebut.
Bagimana kalau kalimat tauhid disambung sehingga berbunyi kalimat syahadat? Menurut Kiai Asep akan lebih baik. “Lailahaillah Muhammad darosulullah 100x,”.
Kemudian Kiai Asep mendemonstrasikan dzikir “Lailahaillallah” yang diikuti oleh para santriwan dan santriwati. Setelah selesai, Yai Asep mengatakan “Nah… sudah seratus kali, tidak lama kan nak, Cuma 4-5 menit selesai. Ayo praktikkan ya, amalkan ya nak,” pesan Kiai Asep memberikan motivasi dan mengakhiri pengajiannya.
Lanjut Usia
Pesan Kiai Asep ini amat sangat berguna, bagi orang-orang awam yang sudah lanjut usia. Sementara ilmu agamanya kurang dalam, ditambah lagi merasa banyak dosa.
Maka disarankan selesai sholat fardhu, berdzikir kalimat-kalimat thoyibah, khusunya kalimat Tauhid. Dosa-dosanya akan lebur dan luruh oleh kalimat-kalimat thoyibah, khususnya kalimat tauhid.
Maka ketika meninggal dunia, insyaAllah khusnul khotimah, dan perjalanannya di alam kubur dan alam akherat, akan tenang. Tidak ada ketakutan, kecemasan dan siksa. (Moch. Nuruddin)














