SURABAYA | DutaIndonesia.com – Para pencari ilmu (Tholibin Ilmi) harus mampu mengatur atau mengelola waktu belajar dengan bijak, agar kesehatan jasmani dan rohani tetap terjaga.
Hal ini dikatakan oleh Prof DR KH Asep Syaifuddin Chalim MA, Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, didampingi Sjech Ibrahim, Guru dari Al Azhar, Mesir, pada pengajian kitab kuning, Senin 6 Oktober 2025 di Siwalan Kerto, Wonocolo, Surabaya.
“Jadi anak-anak, jaga diri kalian dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Hal ini, sangat penting dalam proses menuntut ilmu,” kata Kiai Asep.
Pertama, wajib memperlakukan tubuh dengan baik, halus, dan penuh kasih sayang. Tubuh adalah amanah yang harus dijaga agar bisa melayani aktivitas belajar dengan optimal.
Jangan pernah memaksa diri untuk terus belajar ketika sudah merasa capek atau lelah, karena hal ini justru bisa merusak kesehatan dan menghambat proses pembelajaran.
Semua usaha dalam menjaga keseimbangan ini bertujuan agar amal mencari ilmu tidak terputus dan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Orang yang terlalu ngoyo atau memaksakan diri belajar tanpa memperhatikan kondisi tubuh, sering kali tidak sampai pada hasil yang maksimal. Ada kemungkinan berhenti di tengah jalan karena kelelahan, atau jika pun sampai, ilmu yang diperoleh tidak sempurna,: jelas Kiai Asep.
Hal ini sering dilakukan para santri, pada hari-hari biasa dia santai. Namun menjelang ujian, dia belajar ngebut, sampai kurang tidur. Oleh karena itu, menyesuaikan waktu belajar dengan kondisi fisik sangat penting.
Misalnya, bagi anak pondok pesantren biasanya jam 22.00 malam harus sudah tidur. Karena pada pukul 03.00 pagi, biasanya sudah harus bangun untuk menunaikan sholat malam. Setelah itu belajar sambil menunggu waktu sholat subuh tiba.
Selepas sholat subuh, mengikuti pengajian kitab kuning. Setelah pengajian, istirahat, mandi, dan sarapan menjadi waktu penting untuk tubuh kembali segar menghadapi aktivitas di sekolah.
Dalam kegiatan sekolah pun, para guru, para ustadz, sudah mengatur memberi waktur istirahat setiap 2-3 jam agar tidak lelah dan tetap bisa fokus.
Dengan mengelola waktu belajar dan istirahat secara seimbang, para tholibin ilmi dapat terus mengembangkan ilmu tanpa mengorbankan kesehatan, sehingga perjalanan menuntut ilmu menjadi lebih efektif dan berkah.(Moch. Nuruddin)












