Menyeluruh tapi Bertahap
Selanjutnya Kementerian Pertanian (Kementan) memberi penjelasan terkait persoalan harga pakan jagung yang dikeluhkan peternak tersebut bahwa masalahnya ada di distribusi yang diduga ada pelanggaran sebab stoknya cukup. Sebelumnya, pemerintah menyiapkan skema harga jagung dapat ditekan menjadi Rp 4.500 per kilogram di tingkat peternak di tiga daerah sentra yakni Blitar, Klaten, dan Lampung. Bahkan Pemerintah mengimpor gandum pakan ternak sebanyak 300 ribu ton sebagai alternatif bahan baku pakan ternak di saat harga jagung melambung dan membebani peternak.
“Polemik harga pakan ternak mahal ternyata masalahnya di jagung dan gandum sebagai bahan bakunya. Ujung-ujungnya di dunia pertanian yang memang harus digarap dengan lebih baik lagi. Jadi, negara ini tidak boleh mengabaikan masalah pertanian dan peternakan. Tidak boleh mengabaikan desa dan masyarakat desa yang sebagian besar hidup sebagai petani dan peternak,” katanya.
Dwi mengatakan, program AKD Jatim untuk masyarakat desa dirancang menyeluruh dan terintegrasi menyentuk semua masalah yang dihadapi masyarakat desa. Namun demikian, dalam pelaksanaannya dilakukan secara bertahap.
Dimulai dari program Manajer Desa Mandiri yang sudah berjalan di desa-desa, disusul rencana memproduksi rokok bercukai merek “AKD” yang melibatkan semua kepala desa di Jatim. Lalu, BUMdesMart untuk menggerakkan UMKM dengan mempromosikan produk unggulan desa, lumbung pangan desa modern dengan teknologi yang terintegrasi, toko obat desa agar warga desa tidak repot-repot mencari obat yang dibutuhkan ke kota, hingga dokter spesialis sambang desa.
“Warga desa butuh periksa kesehatan secara rutin, sehingga harus ada dokter spesialis yang sambang desa, agar warga tahu kondisi kesehatannya lebih dini. Jangan sampai tiba-tiba seseorang itu penyakitnya diketahui sudah parah sebab tidak pernah periksa kesehatannya,” katanya. (gas/bdh)













