Pemimpin, Seni Sastra, dan Buku-Buku

oleh
Acara Bedah Buku "ELITS" di Perpustakaan Pusat ITS. Rabu, 24 Agustus 2022.

Hands have no tears to flow (Tangan tak punya airmata yang akan mengalir)

-Penyair Dylan Thomas

Oleh: Djoko Pitono

(Veteran Jurnalis dan Editor Buku di JPBooks, Jawa Pos)

WAH. Benar-benar tidak mudah apa yang saya hadapi hari (Rabu 24/8/2022) ini. Saya diminta ikut bicara dalam bedah buku “ELITS Dalam Waktu”. Sebuah buku semacam sejarah Departemen Teknik Elektro ITS sejak didirikan tahun 1960 hingga sekarang. Isinya adalah perjuangan orang-orang idealis, kreatif, inovatif, dan penuh semangat dalam dunia pendidikan, sejak dalam suasana penuh keterbatasan. Penulisnya adalah Prof Dr.Ir Imam Robandi, M.T., Dr. I.Ketut Eddy Purnama, ST., M.T, Dedet Candra Riawan, S.T., M.Eng., Ph.D., dan Ir. Dian Pramono, MMT.

Dalam pada itu, suasana dewasa ini, betapa pun kemajuan yang bisa dicapai, banyak diwarnai dengan korupsi dan penyelewengan besar lain oleh para pemimpin, pejabat atau politisi.

Bayangkan. Tidak sedikit jenderal, profesor, gubernur, hingga menteri — yang mestinya urusan uang sudah selesai – dipenjara karena korupsi. Selain itu juga banyak pemimpin atau pejabat yang ucapannya kasar, ngawur dan sok kuasa. Nah, sekarang saya ingin melihatnya dari sisi yang lain. Dari sisi yang jarang dibahas di ruang publik.

Ada pertanyaan, mengapa para politisi atau pemimpin korup? Jawabannya tentu beragam. Tetapi jarang yang mengaitkannya dengan dunia seni, sastra, dan buku-buku. Padahal, ada sebuah tesis yang boleh dikaji bahwa kedekatan seseorang, termasuk politisi atau pemimpin, dengan dunia seni sastra, dan tulis-menulis (baca: buku-buku), cenderung menjauhkannya dari praktik-praktik korup.

Tak perlulah menyebut nama-nama para koruptor yang waktu terakhir ini dicokok aparat hukum. Tetapi simaklah dengan seksama latar belakang kehidupannya, termasuk aktivitas sejak mudanya. Juga hobinya.

Pelajaran dari tokoh-tokoh dalam sejarah juga menunjukkan betapa besarnya manfaat yang diperoleh mereka di saat mereka bisa meluangkan waktu mereka untuk bergaul dengan seniman, sastrawan, atau budayawan, serta mengapresiasi karya-karya buku mereka. Ambil contoh misalnya Presiden RI Pertama Soekarno dan Presiden Amerika ke-39 pada paro kedua 1970-an, Jimmy Carter.

No More Posts Available.

No more pages to load.