Pemimpin, Seni Sastra, dan Buku-Buku

oleh
Acara Bedah Buku "ELITS" di Perpustakaan Pusat ITS. Rabu, 24 Agustus 2022.
Presiden pertama RI, Soekarno, seorang pemimpin yang juga seniman. (AFP)

Kedua pemimpin itu sangat berbeda latar belakangnya, berbeda pengalamannya, tetapi ada yang sama: komitmennya untuk memperjuangkan keadilan. Keduanya dikenal sangat peka perasaannya terhadap hal-hal yang terkait dengan tindakan kesewenang-wenangan terhadap kaum miskin dan lemah. Keduanya punya hati yang halus, mudah tersentuh pada kaum papa.

Orang-orang yang kenal dekat dengan Bung Karno maupun Jimmy Carter menuturkan, kepekaan hati kedua tokoh itu sangat dipengaruhi oleh perhatiannya kepada karya-karya seni dan para senimannya. Sejarah mencatat misalnya bagaimana besarnya perhatian Bung Karno pada karya-karya seni lukis, wayang kulit, seni tari, dan sebagainya, apalagi Bung Karno juga dikenal sebagai pelukis (dan arsitek) yang luar biasa. Betapa akrabnya hubungan Bung Karno dengan para seniman.

Satu saat Bung Karno pun pernah bertutur pada Basuki Abdullah: “Dullah, seandainya aku tidak di dunia politik, mungkin aku akan menjadi seorang pelukis atau dalang.”

Jimmy Carter, sementara itu, dikenal sebagai negarawan yang sering sibuk melukis di waktu senggangnya, menulis puisi, dan akrab dengan para penyair. Pada 7 Juli 2015, Jimmy Carter menerbitkan bukunya, Full Life: Reflections at Ninety, yang berisi puisi-puisi dan lukisan-lukisan karya presiden AS ke-39 tersebut. Carter bukanlah orang baru di dunia seni.

Salah satu lukisannya, Live Oak at Sunrise, terjual 250.000 dollar AS di acara pengumpulan dana Carter Center pada 2012. Dan dalam buku barunya ini, Carter menampilkan lukisan-lukisannya terkait ayah, ibu, dan istrinya Rosalynn, rumah masa kecilnya. Berbagai lukisan itu dikerjakannya puluhan tahun. Sedang puisi-puisinya sebelumnya pernah diterbitkan dalam koleksinya tahun 1994, Always a reckoning.

No More Posts Available.

No more pages to load.