
Carter mulai belajar kenal dengan puisi ketika menemukan buku bekas yang berisi puisi-puisi Dylan Thomas di gudang kacang kediamannya. Kesukaannya pada puisi akhirnya berkembang hingga ia berkenalan dengan banyak penyair terkenal Amerika. Ketika ia dilantik menjadi Presiden AS, penyair Robert Frost diundangnya untuk membacakan puisinya.
Dalam buku otobiografinya, Carter mengutip kata-kata Dylan Thomas, “Hands have no tears to flow…Tangan tak punya airmata yang akan mengalir…” Ia juga mengutip yang lain: Great is the hand that holds dominion over. Man by a scribbed name.
Apa maksudnya? Carter mengatakan, “bagi saya, ini berarti bahwa seorang kuat dengan daya terobos yang kokoh terhadap sebuah bangsa…dapat bersifat tak sensitif (kepada perasaan orang lain).”
Ia pun melanjutkan, “terpisahnya kekuasaan dari rakyat kadang tak diketahui oleh para pemimpin yang kuat. Dan sifat tidak peka, yang memang sudah terkandung dalam tiap kekuasaan, seharusnya merupakan peringatan bagi kita.” Tangan memang tak punya airmata yang akan mengalir.
Dylan Thomas memang penyair yang luar biasa. Meski kurang dikenal, karya-karyanya istimewa. Bob Dylan, musikus pertama pemenang Hadiah Nobel Kesusasteraan 2016, juga terinspirasi dari puisi-puisi karya Dylan Thomas. Namanya pun mengadopsi sebagian nama Dylan Thomas, dari semula Robert Allen Zimmerman.
Mengingat kisah Bung Karno dan Jimmy Carter, kita pun merasa bergembira bila melihat para pejabat dari bupati, gubernur, menteri hingga presiden bergaul akrab dengan para seniman. Memang ini terkait dengan kepentingan seni, tetapi juga kepentingan tokoh-tokoh itu sendiri, bagi pribadi dan hati nuraninya sehingga tetap terjaga kehalusan dan kepekaannya.
Perhatian kepada para seniman dan budayawan juga sudah pada galibnya, apalagi di tengah gencarnya serbuan media global yang membawa nilai-nilai asing yang dalam batas tertentu merusak seni dan budaya bangsa sendiri. Perhatian terhadap seni wayang kulit, misalnya, sudah selayaknya diberikan. Apalagi lembaga internasional Unesco telah memberikan penghargaan dengan menetapkan wayang kulit sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity.
Wayang kulit sebagai buah karya akal-budi manusia Indonesia sudah lebih dari 1.000 tahun eksistensinya. Daya tahan dan daya kembang wayang telah teruji dalam menghadapi tantangan zaman sehingga seni pedalangan berhasil mencapai kualitas seni yang tinggi. Wayang sebagai pertunjukan dikenal sangat unik karena merupakan perpaduan seni drama, seni musik, seni suara, seni sastra, seni tari, dan seni rupa. Wayang hadir dalam wujudnya yang utuh baik dalam segi estetika, etika maupun filsafatnya.
Tetapi bagaimanakah nasib para seniman wayang, seperti dalang, sinden, pengrawit, perajin wayang dan juga perajin gamelan? Tanya saja salah satu tokoh ahlinya di depan kita sekarang, seorang profesor elektro legendaris di ITS: Prof Dr, Imam Robandi.
Di luar tugas-tugas fungsional dan strukturalnya sebagai Gurubesar Elektro ITS, Prof Imam Robandi adalah seorang seniman dan budayawan multitalenta. Profesor yang juga dalang, juga sinden, juga pangrawit. Profesor ini juga membimbing ribuan guru dan dosen dalam pengembangan pendidikan dan tradisi menulis.











