JAKARTA| DutaIndonesia.com – Tragedi penembakan bermotif Islamophobia terjadi di kompleks masjid Kawasan San Diego, California, Amerika Serikat (AS). Tiga jamaah masjid itu meninggal dunia. Salah satunya satpam masjid bernama Amin Abdullah yang dijuluki warga sebagai pahlawan lantaran keberaniannya menghalau dua remaja stres yang menjadi pelaku penembakan.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengutuk keras peristiwa tragis tersebut. “Kita mengutuk keras penembakan di kompleks masjid di San Diego yang menewaskan sejumlah warga sipil,” ujar Ketua PBNU Bidang Keagamaan, Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur, kepada wartawan di Jakarta.
Ia mengatakan tempat ibadah harus menjadi ruang aman bagi semua umat beragama, bukan sasaran kebencian dan kekerasan. Ia menambahkan insiden penembakan ini menjadi bukti Islamophobia masih ada di Amerika.
“Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Islamophobia dan ekstremisme berbasis kebencian masih ada dan nyata, ini harus dilawan bersama melalui penegakan hukum, pendidikan toleransi, serta penguatan dialog antaragama,” jelas Fahrur.
Fahrur mendoakan para korban mendapat tempat terbaik, keluarga diberi ketabahan, dan kejadian seperti ini, jelasnya, tidak terulang di mana pun, baik terhadap Muslim, Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, maupun kelompok agama lainnya.
“Kita menyampaikan empati dan doa kepada para korban serta komunitas Muslim di sana. Semoga senantiasa diberikan ketabahan dan keselamatan oleh Allah SWT,” tuturnya.
Diberitakan sebelumnya, dilansir AFP, Selasa (19/5), tim tanggap darurat menemukan para korban di luar Islamic center San Diego. Kemudian petugas menemukan para pelaku penembakan, berusia 19 dan 17 tahun, juga tewas yang diduga mengakhiri hidupnya sendiri.
Rekaman TV dari helikopter menunjukkan tim tanggap darurat bersenjata berkumpul di luar sebuah bangunan. Satu orang tak dikenal tampak tergeletak dengan genangan darah.
Polisi mengatakan bahwa seorang petugas keamanan di kompleks masjid itu termasuk di antara tiga korban yang tewas. Keberanian seorang satpam yang tewas ditembak bersama dua jemaah lainnya di sebuah masjid di San Diego pada Senin (18/05) telah mencegah insiden penyerangan bertambah buruk, kata polisi.
Satpam tersebut bernama Amin Abdullah. Dia adalah seorang ayah dari delapan anak, kata juru bicara Council on American-Islamic Relations-San Diego (Cair-SD), Tazheen Nizam, kepada BBC.
“Bisa dikatakan bahwa tindakannya heroik,” kata Kepala Kepolisian San Diego, Scott Wahl dalam konferensi pers, Selasa (19/05).
“Tidak diragukan lagi, dia menyelamatkan banyak nyawa hari ini,” sambungnya.
Abdullah dan dua orang lainnya, Mansour Kaziha dan Nader Awad, tewas ditembak oleh dua remaja yang kemudian bunuh diri, kata polisi.
Kepolisian belum merilis identitas kedua remaja tersebut. Namun diduga keduanya stres lantaran hidup di negara tidak seperti yang diimpikannya. Ia diduga terkena doktrin white supremacy atau supremasi kulit putih dan Islamphobia, lantaran banyaknya warga imigran dan berkembang pesatnya populasi muslim di Amerika. (ara/det)














