Amphuri Dilema
Sebelumnya Wakil Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Jawa Timur Heliosa Soewianto menyatakan, pembukaan akses umrah saat ini menjadi dilema.
“Jika dibuka masyarakat akan berebut masuk. Belum lagi sarana dan prasarana belum siap sehingga jika tidak digarap secara maksimal, baik terkait penerbangan, vaksin maupun masalah karantina, akan menjadi masalah besar,” katanya di Surabaya, kemarin.
Karena itu pihaknya belum berani memberangkatkan jamaah umrah, meski pemerintah Arah Saudi membuka kembali akses umrah untuk Indonesia.
“Kami masih menunggu petunjuk teknis sehingga tidak bisa memberangkatkan jamaah umrah, terlebih hingga saat ini Pemerintah Arab Saudi belum membuka sistem visa untuk jamaah. Kita belum bisa masuk karena di sistemnya visa juga belum kebuka. Jadi harus ada dari pihak Saudi turun juga. Sampai detik ini belum dibuka,” ungkap Heliosa.
Helison mengatakan, persoalan lainnya yaitu terkait vaksin booster yang didapatkan jamaah. Hal itu juga menjadi permasalahan sebab belum ada petunjuk kapan pelaksanannya dan harganya berapa.
“Persoalannya ini kan ketika pengumuman terakhir dari Kementerian Luar Negeri membuat teman-teman travel jadi banyak didatangi jamaah, karena seakan-akan memang angin segar, tapi belum ada juknisnya, kita tidak bisa ngapa-ngapain. Kita menunggu,” paparnya.
Heliosa melanjutkan, permasalahan lainnya ada pada maskapai penerbangan lokal. Hal ini akan menjadi permasalahan ketika jumlah jamaah umrah yang ada tidak berimbang dengan transportasi yang dibutuhkan.
“Infonya ada 50 ribu jamaah yang belum berangkat tapi sudah terdaftar. Kalau satu pesawat isinya 400, dijumlah aja, kalau 50 ribu dibagi 400 berapa pesawat ke sana, terus harganya berapa, belum ada semua itu,” ucapnya.
Heliosa berharap, akses umrah yang kembali dibuka harus disikapi dengan kesiapan semua lini, baik itu terkait vaksinasi, karantina, maupun transportasi. Jika tidak diantisipasi dengan matang Heliosa khawatir akan menjadi masalah.
“Saya tidak hafal datanya, tapi di Jatim berkisar 10 ribuan. Ada yang belum berangkat yang tertunda pada Februari, Maret dan April 2020,” ujarnya.













