PWNU Jatim dan PBNU Haramkan Perdukunan, Bagaimana dengan Samsudin yang Padepokan Nur Dzat Sejati-nya Ditutup Warga?

oleh
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur (Jatim) selalu membahas masalah umat dalam forum bahtsul masail. Selain soal uang kripto, juga soal perdukunan yang meresahkan masyarakat.

SURABAYA|DutaIndonesia.com – Heboh Samsudin Jadab yang mengaku sebagai ahli pengobatan alternatif mendapat tanggapan dari PWNU Jatim. Heboh Samsudin yang mengklaim bisa menyembutkan sejumlah penyakit ini mendapat reaksi dari pria muda berjuluk Pesulap Merah. Nama asli pesulap ini adalah Marcel Radhival.

Kedua orang itu kemudian berkonflik dan viral di media sosial. Pro-kontra terjadi di masyarakat. Bahkan perseteruan antara pesulap Merah atau Marcel Radhival dengan Samsuddin Jadab akhirnya masuk ranah hukum.

Konflik keduanya menyangkut masalah perdukunan Samsuddin yang disebut abal-abal. Kasus ini membesar hingga warga pun menutup Padepokan Nur Dzat Sejati di Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, milik Samsuddin. Dalam kaitan ini kalangan ulama juga turun tangan meminta agar masyarakat tidak tertipu oleh aksi perdukunan yang kiprahnya hanya untuk konten di media sosial.

Peringatan agar masyarakat tidak tertipu oleh aksi dukun antara lain disampaikan ulama PWNU Jatim dan PBNU.

“Terkait dengan fenomena perdukunan, pengobatan alternatif, ramalan, jasa orang pintar atau lainnya, sebenarnya PWNU Jatim pernah membahasnya dalam forum bahtsul masail NU se-Jatim pada tahun 2010 yang lalu,” kata Kiai Haji Ashar Sofwan, Ketua PW Lembaga Bahtsul Masail Jatim kepada DutaIndonesia.com Rabu (3/8/2022) malam.

Intinya, Islam mengharamkan praktik perdukunan tanpa meminta pertolongan dari Allah SWT melalui doa-doa atau dzikir. “Begini, bahwa masyarakat yang mempercayai, membenarkan (tashdiq) kepada mereka dengan keyakinan bahwa mereka itulah sebagai penentu, pemberi (kesembuhan dll) dan seterusnya, maka itu tidak boleh atau haram. Bahkan bisa kufur. Namun jika sebatas minta arahan dan saran kemudian mintanya tetap kepada Allah SWT semata dengan tetap mentaati syariat dengan benar, seperti itulah seharusnya yang dilakukan. Singkatnya seperti itu,” katanya.

Sementara itu, Ketua PBNU Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur) menyesalkan aksi Samsudin dari Blitar yang kerap menggunakan trik sulap dalam praktiknya. PBNU mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tertipu oleh penampilan Samsudin, yang mengenakan jubah dan serban.

Seperti dikutip dari situs NU Online, Selasa (2/8/2022), Gus Fahrur mengajak masyarakat bisa membedakan kiai dan dukun. Gus Fahrur juga memastikan aksi yang dilakukan Samsudin itu berbeda dengan sikap kiai ahli hikmah.

“Kita percaya memang doa-doa itu sangat bermanfaat. Tapi kalau yang sifatnya konten-konten, pamer-pamer, itu jelas sulapan. Karena tidak mungkin kiai seperti itu. Kiai itu justru sembunyi. Kiai nggak mau mempertontonkan yang seperti itu, takut riya,” ungkap Gus Fahrur.

Gus Fahrur mengatakan aksi Samsudin itu hanya untuk konten. Dia mengimbau masyarakat berhati-hati. “Itu (Samsudin) jelas (demi) kontenlah. Orang nggak bisa ngaji pakai serban, pakai jubah, itu kan jelas kontennya. Kita harus hati-hati,” ujar pengasuh Pesantren An-Nur 1 Bululawang, Malang, Jawa Timur, itu.

“Kalau dia kiai, ngajar di pesantren, salat lima waktu, hajinya bagus, itu doanya manjur, percaya kita, karena ibadahnya tertib. Tapi kalau orang itu nggak salat, nggak ibadah, terus kerjanya cuma ngonten, jangan dipercaya,” imbuhnya. (gas/nuo)

No More Posts Available.

No more pages to load.