Regina Art Pentas Monolog Keliling Amerika: KJRI New York Hingga Produser NYIFW Memberi Dukungan

oleh

Regina Art memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) dengan pertunjukan keliling sejumlah kota di Amerika Serikat (AS). Setelah tampil di Kota New York, Regina Art menampilkan artis Joane Win dan sutradara Wawan Sofwan di Pusat Kebudayaan Indonesia di Chicago Selasa (14/3/2023) sore waktu AS atau Rabu pagi WIB.

Oleh Gatot Susanto

Regina Art di acara Indonesia Monologue Night itu disambut antusias publik Amerika. Baik saat tampil di New York pada tanggal 8 Maret 2023 maupun di Chicago Rabu kemarin, semua pengunjung terpukau oleh penampilan Joane Win, dengan sutradara Wawan Sofwan, lewat pementasan Tomorrow or Never (Besok Atau Tidak Sama Sekali) maupun Cotton Candy. 

Monolog Cotton Candy sendiri disadur dari lakon Ruang Arumanis yang naskahnya ditulis ED Jenura. Sebuah karya yang mengeksplorasi tema kekerasan seksual terhadap perempuan dalam suatu peristiwa kerusuhan.

Dalam kasus kekerasan seksual, perempuan masih menjadi kelompok  yang rentan untuk menjadi korban. Begitu pula dalam proses penegakan hukum seringkali mengabaikan kesehatan mental para penyintas.

Itulah yang digambarkan oleh Regina Art melalui tokoh Lisa dalam pementasan Cotton Candy. Lisa digambarkan tengah6 berjuang mengatasi traumanya di sebuah lembaga kesehatan mental. 

Ya, dengan fasilitas yang memadai ternyata tidak serta merta dapat menyembuhkan luka batin yang dirasakan oleh Lisa. Dan pada kenyataannya masih banyak korban kekerasan seksual yang tidak mampu menjangkau fasilitas kesehatan atau tidak mendapatkan pendampingan dari psikolog untuk menyembuhkan luka pada jiwanya.

Seperti dilansir dari website resmi International Women’s Day, tahun ini mengangkat tema Embrace Equity, yaitu memberi kesempatan dan dukungan bagi tiap perempuan sesuai dengan kondisi dan latar belakang tiap individu tersebut. Lisa diharapkan bisa menggugah kesadaran masyarakat untuk peduli kepada korban kekerasan terhadap kaum perempuan.

“Kami berharap kisah Lisa ini dapat mendorong banyak pihak untuk lebih memberikan dukunganya bagi pemulihan mental korban kekerasan seksual, sesuai dengan kondisi masing-masing korban. Karena mereka butuh penanganan yang tepat, dan harapan hidup yang masih panjang,” kata Joane Win, sang artis, setelah pementasan di Bowery Poetry, kota New York.

Dengan penjiwaan dan penguasaan panggung yang hebat, Joane Win berhasil menghantarkan pesan yang ingin disampaikan kepada para penonton. Penampilannya terasa sangat  menyentuh. Seperti disampaikan oleh Noemi dari Broadway League Administrators.

“Saya sangat menyukainya, terasa sangat intens, saya dapat merasakan rasa sakit yang dia alami, saya merasa Joane Win seperti benar-benar mengalami kejadian tersebut pada saat dia tampil tadi,” ujar Noemi.

Hal yang sama disampaikan oleh Leo Rubenfien seorang penulis buku dan fotografer terkenal di kota New York.

 “Pertunjukan yang bagus, Joane Win sangat berbakat dan bisa menampilkan semua momen secara bertahap, yang bagus untuk penampilannya, jadi saya sangat menikmatinya,”  katanya. 

Hadir pula Cathy, seorang perempuan Tionghoa yang kini berdomisili di New York. “Saya sampai terbawa suasana dan menangis sedih, karena teringat kerabat saya yang jadi salah satu korban di tengah kerusuhan yang terjadi di Jakarta dulu,” ujar Cathy.

Beberapa staf di KJRI New York pun turut memberi dukungan atas pementasan tersebut. Tampak hadir Ibu Marlene, Bapak Bayu, dan Bapak Ilham selama pertunjukan berlangsung.

 “Pementasan dari Regina Art ini sangat bagus untuk mengenalkan karya sastra dari Indonesia, dengan penjiwaan yang baik kami sempat ikut emosional, pasti akan kami dukung lagi untuk pementasan berikutnya,” kata Marlene dari KJRI di New York.

Founder dan Produser New York Indonesia Fashion Week, Vanny Tousignant, juga mendukung penuh pentas monolog Regina Art di Amerika. Vanny mengaku sempat berbincang dengan sang artis, Joane Win, sebelum dia bertolak ke Chicago untuk tampil di Pusat Kebudayaan Indonesia di kota tersebut. 

“Kami sempat dinner dengan artis Joane Win. Kalau dari saya sendiri, kebetulan saya punya background teater ketika masih remaja di Jakarta, makanya saya sangat senang yang mana mereka pun bisa tembus ke teater di New York.  Saya sangat mendukung dan ingin mensupport kegiatan seniman-seniman teater Indonesia untuk dapat berbicara di ajang international. Di sinilah kadang suara kita dapat didengar melalui event-event seperti ini,” kata Vanny Tousignant kepada DutaIndonesia.com dan Global News Rabu (15/3/2023).

Dukungan untuk Regina Art juga datang dari aktivis Perempuan dan Produser Dokumenter tanah air yaitu Olin Monteiro.  Dalam keterangan tertulisnya yang diterima Redaksi Global News, Olin menyatakan bahwa seni dengan perspektif gender dan empati terhadap perempuan sangat penting untuk menyuarakan isu kekerasan terhadap perempuan dan mengangkat harkat bagi perempuan.

 Ruang Arummanis/Cotton Candy berkreasi dalam monolog yang dengan nyata menjadikan seni lebih bermakna dengan penampilan yang menggugah penonton sekaligus berpihak pada suara korban yang selalu ditekan oleh suara-suara dalam pusaran  gerak teknologi dan informasi di Indonesia yang kadang belum memperjuangkan kepentingan perempuan survivor.

 “Semoga lebih banyak karya seni yang lantang menggali isu-isu perempuan seperti Ruang Arummanis/Cotton Candy,” katanya.(*)

Keterangan Foto:

ARTIS Joane Win bersama produser New York Indonesia Fashion Week Vanny Tousignant sebelum tampil di Chicago Rabu kemarin.

No More Posts Available.

No more pages to load.