
Antusiasme pengunjung membuat Vanny ingin mengembangkan Rumah Singgah ini dengan aktivitas lain. Salah satunya pendidikan seni, budaya, dan bahasa Indonesia bagi anak-anak diaspora dan warga lokal yang ingin mendalami masalah Indonesia. Rumah Singgah ini bisa menjadi destinasi wisata keluarga sekaligus wisata edukasi.
“Ini akan kami olah juga bukan hanya sebagai boutique, tetapi juga tempat untuk berekreasi untuk keluarga, dan tenang untuk anak anak kami belajar bahasa Indonesia maupun belajar tarian dan kesenian daerah lain,” katanya.
Untuk itu Vanny mengaku membutuhkan dukungan dari semua pihak, khususnya Pemerintah Indonesia, untuk mensupport NYIFW dan Rumah Singgah tersebut.
“Harapan saya ke depannya agar bisa ada kerjasama dari Pemerintah Indonesia dengan kami New York Indonesia Fashion Week, yang mengelola Rumah Singgah ini. Kerjasamanya antara lain, ikut mensupport para UMKM yang ada di tanah air, supanya mereka bisa mendapatkan bantuan dana untuk mendongkrak produk mereka supaya bisa terkurasi dengan baik agar masuk pasar international, terutama pasar Amerika. Saya di sini pun siap membantu untuk mengkurasi dan menyediakan tempat di New York dan di New Jersey. Kunci utama memang melalui kurasi dari instansi atau pemda setempat,” katanya.
Rumah Kurasi
Vanny menyambut positif di Jawa Timur sudah ada rumah kurasi yang berada di Kediri. Bahkan, konon rumah kurasi di Kediri ini sebagai kurasi produk UMKM satu-satunya sebelum dikirim ke luar negeri.
“Kami sangat senang bila ada kerjasama baik dengan Pemprov Jatim maupun pemprov lain dan pemkab untuk program kurasi produk UMKM semacam ini di Amerika,” katanya.
Sebelumnya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan, rumah kurasi Kediri satu-satunya di Jatim bahkan Indonesia. Dengan itu, tentunya sangat membantu agar produk UMKM yang hendak dikirim ke luar negeri agar produknya bisa terstandar dengan baik dari sisi kualitas serta daya saingnya.












