SURABAYA|DutaIndonesia.com – Perseteruan antara pesulap Merah atau Marcel Radhival dengan Samsuddin Jadab akhirnya masuk ranah hukum. Konflik keduanya menyangkut masalah perdukunan Samsuddin yang disebut abal-abal. Kasus ini membesar hingga warga pun menutup Padepokan Nur Dzat Sejati di Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, milik Samsuddin. Dalam kaitan ini kalangan ulama juga turun tangan meminta agar masyarakat tidak tertipu oleh aksi perdukunan yang kiprahnya hanya untuk konten di media sosial.
Heboh kasus ini membuat Samsuddin melaporkan pesulap Merah ke Polda Jawa Timur (Jatim) di Surabaya Rabu (3/8/2022). Laporan itu dibuat karena Samsuddin merasa nama baiknya tercemar oleh ulah pesulap yang suka berpakaian dan berambut merah tersebut.
”Karena negara ini negara hukum. Berbicara tidak hanya bisa secara opini saja,” kata Samsuddin kepada wartawan di Polda Jatim.
Samsuddin yang dikenal sebagai ahli pengobatan itu juga mengancam akan melaporkan siapa pun yang mencemarkan nama baiknya. Terlebih lagi pihak-pihak tertentu yang menudingnya menipu warga.
”Apabila ada seseorang siapa pun yang menyatakan saya melakukan penipuan dan di situ tidak bisa membuktikan, hanya sebuah asumsi saja, ini akan kami laporkan secara hukum,” kata Samsuddin.
Ancaman dan laporan yang dilakukan itu, kata dia, sebagai bentuk pelajaran bagi Pesulap Merah serta netizen se-Indonesia. Masyarakat diharapkan lebih bijak menggunakan media sosial.
”Bila netizen bijak menggunakan sosmed, warga lebih mudah membedakan berita hoaks dan berita asli. Saya tak ingin netizen dan warga mendapatkan informasi hoaks. Ini pelajaran kepada masyarakat agar pintar bermedia sosial karena banyak berita-berita hoaks yang terjadi di situ, jangan sampai masyarakat jadi korban berita hoaks yang jadi opini tidak baik,” katanya.
Laporan tersebut, lanjut Samsuddin, juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk berbicara fakta dan kenyataan. Sehingga masyarakat tidak bicara dan mempercayai opini atau asumsi.
Kuasa hukum Samsuddin, Teguh Puji Wahono menegaskan, laporan itu dibuat karena Pesulap Merah dianggap melakukan penggiringan opini di akun YouTube miliknya. Di akun YouTube Pesulap Merah, Samsuddin dituding melakukan pengobatan berdasar sulap atau sebuah trik. Dari sini muncul istilah dukun abal-abal.
”Jadi kami proses sesuai hukum yang berlaku. Kami laporkan pasal 27 ayat 3 sama 28 ayat 2 Undang-Udang (UU) ITE,” terang Teguh.
Warga menuntut padepokan milik Samsuddin ditutup karena diduga melakukan penipuan bermodus pengobatan. Setelah mediasi antara warga dan Samsuddin, akhirnya padepokan itu pun ditutup pada Selasa malam.
Hal itu setelah pesulap Merah membongkar aksi spiritual Samsuddin. Bahkan Pesulap Merah terang-terangan meminta Samsuddin membuktikan kesaktiannya. Namun Samsuddin enggan menutup padepokannya. Warga lalu berdemonstrasi meminta agar padepokan Samsuddin ditutup. Alasan aspirasi mereka, padepokan itu banyak menipu warga dengan modus pengobatan, bukan karena soal viralnya perseteruan dengan Pesulap Merah. Mediasi di Polsek Lodoyo Barat tidak membuat Samsuddin mau menutup padepokannya.
“Kalau saya tidak melanggar hukum, saya tidak akan melakukan apa pun yang bertentangan dengan hukum. Saya akan berpijak dengan kaki saya sendiri,” kata Samsuddin seusai mediasi di Polsek Lobar, Minggu (31/7/2022). Namun media kedua memaksanya menutup padepokan tersebut.
Kasus ini berdampak pula pada Desa Rejowinangun sebab layanan onlinenya diretas orang dan tidak bisa digunakan sementara waktu. Si hacker menyampaikan pesan di laman situs desa yang diretas itu.
‘Hacked By Justicecrew,” demikian bunyinya, dilihat Senin (1/8). Kata si hacker, masyarakat Blitar mendukung pembuktian Marcel Pesulap Merah! Mereka memasang tagar save Marcel dan Rejowinangun Anarkis.
Namun pada Selasa (2/8), situs web desa itu kembali bisa diakses lagi. Hal ini dikonfirmasi oleh Kades Rejowinangun Bhagas Wigasto. “Alhamdulillah, tidak hanya website UMKM yang sudah pulih, tapi layanan online PTSP (surat menyurat) sudah bisa digunakan kembali,” terang Bhagas.
Marcel sendiri tidak tahu-menahu perkara peretasan ini. “Kenapa nggak Mas Udin (Samsudin) saja yang berusaha disetop kebohongannya dan pengobatan yang menggunakan trik itu?” kata Marcel, heran terhadap ulah hacker.
Marcel mengatakan belakangan Samsudin sudah mengaku bahwa hal-hal yang ditampilkannya di YouTube hanyalah akting belaka. Hal ini dikatakan oleh Marcel. Jadinya tak perlu lagi ada pembuktian dari Samsuddin.
“Untuk konten-kontennya sendiri, Mas Udin sudah mengakui bahwa kontennya hanya hiburan. Hanya setting-an alias sekadar akting doang, itu juga sudah dia akui di channel YouTubenya,” kata Pesulap Merah kepada detikJatim, Selasa (2/8/2022).
Sementara itu Ketua PBNU Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur) menyesalkan aksi Samsudin dari Blitar yang kerap menggunakan trik sulap dalam praktiknya. PBNU mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tertipu oleh penampilan Samsudin, yang mengenakan jubah dan serban.
Seperti dikutip dari situs NU Online, Selasa (2/8/2022), Gus Fahrur mengajak masyarakat bisa membedakan kiai dan dukun. Gus Fahrur juga memastikan aksi yang dilakukan Samsudin itu berbeda dengan sikap kiai ahli hikmah.
“Kita percaya memang doa-doa itu sangat bermanfaat. Tapi kalau yang sifatnya konten-konten, pamer-pamer, itu jelas sulapan. Karena tidak mungkin kiai seperti itu. Kiai itu justru sembunyi. Kiai nggak mau mempertontonkan yang seperti itu, takut riya,” ungkap Gus Fahrur.
Gus Fahrur mengatakan aksi Samsudin itu hanya untuk konten. Dia mengimbau masyarakat berhati-hati. “Itu (Samsudin) jelas (demi) kontenlah. Orang nggak bisa ngaji pakai serban, pakai jubah, itu kan jelas kontennya. Kita harus hati-hati,” ujar pengasuh Pesantren An-Nur 1 Bululawang, Malang, Jawa Timur, itu.
“Kalau dia kiai, ngajar di pesantren, salat lima waktu, hajinya bagus, itu doanya manjur, percaya kita, karena ibadahnya tertib. Tapi kalau orang itu nggak salat, nggak ibadah, terus kerjanya cuma ngonten, jangan dipercaya,” imbuhnya. (det/jpn/nuo)












