Oleh: Ulul Albab
Akademisi Unitomo Surabaya
Ketua ICMI Jawa Timur
Ketua Litbang DPP AMPHURI
Menjelang Idul Adha, suasana keagamaan umat Islam biasanya dipenuhi semangat ibadah dan kepedulian sosial. Banyak orang mulai membicarakan hewan qurban, harga sapi, harga kambing, hingga pahala dan keutamaan qurban yang begitu besar di sisi Allah SWT. Namun di tengah semangat itu, ada satu pertanyaan yang sesungguhnya hidup diam-diam di hati sebagian masyarakat kecil dan kelas menengah kita.
Kemaren, ada yang bertanya kepada saya dengan nada yang sangat jujur dan terbuka. Orang tersebut mengaku telah membaca tulisan saya yang berjudul “Seekor Kambing Yang Dikorbankan Lebih Berat di Timbangan Akherat daripada Mobil Mewah kita” yang dimuat di media. Begini pertanyaanya: “Pak Ulul, saya memang punya rumah dan punya mobil. Tetapi terus terang, saldo rekening saya nyaris kosong. Saya hidup bergantung pada gaji bulanan yang pas-pasan. Apakah saya termasuk orang yang sangat dianjurkan berqurban, atau sebenarnya saya masih tergolong kurang mampu?”
Pertanyaan seperti ini sangat manusiawi. Dan justru karena itulah agama perlu dijelaskan dengan hati yang teduh, bukan dengan tekanan sosial yang membuat orang merasa bersalah.
Kita perlu memahami bahwa ukuran “mampu” dalam Islam tidak selalu identik dengan apa yang tampak di permukaan. Banyak orang terlihat mapan, tetapi sebenarnya sedang hidup sangat ketat secara ekonomi. Ada yang memiliki rumah karena cicilan panjang. Ada yang memiliki kendaraan untuk kebutuhan kerja. Ada pula yang penghasilannya habis untuk biaya pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, dan kewajiban hidup lainnya.
Karena itu, Islam tidak mengajarkan ibadah yang memaksa manusia hidup dalam kepayahan yang berlebihan. Mayoritas ulama memang menjelaskan bahwa qurban adalah sunnah muakkadah, yaitu ibadah yang sangat dianjurkan bagi mereka yang memiliki kemampuan. Tetapi kemampuan itu tentu harus dipahami secara bijak dan proporsional.
Jika seseorang harus memaksakan diri hingga membuat keluarganya kesulitan, dapurnya terganggu, atau hidupnya semakin tertekan hanya demi menjaga gengsi sosial, maka ruh spiritual qurban justru bisa kehilangan maknanya. Sebab qurban bukanlah panggung status sosial. Qurban bukan perlombaan pencitraan kesalehan. Qurban adalah ibadah keikhlasan.
Hari ini, kadang ada orang yang merasa malu jika tidak berqurban karena takut dianggap kurang religius atau kurang berhasil secara ekonomi. Padahal Islam tidak pernah mengukur kemuliaan manusia dari kemampuannya mempertontonkan ibadah di hadapan orang lain. Allah Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya.
Karena itu, seseorang yang saat ini benar-benar sedang sempit secara finansial tidak perlu merasa rendah diri bila belum mampu berqurban. Jangan sampai semangat ibadah justru berubah menjadi tekanan psikologis.
Namun di sisi lain, kerinduan untuk berqurban tetaplah sesuatu yang mulia. Keinginan untuk suatu hari bisa ikut berqurban adalah tanda hidupnya iman dan cinta kepada syariat Allah. Mungkin hari ini belum mampu. Tetapi bisa jadi dengan niat yang tulus, kerja keras, dan ikhtiar yang serius dan istiqomah, Allah justru akan membuka jalan menuju kelapangan rezeki di masa depan. Dan bukankah dalam Islam, Allah tidak pernah membebani manusia melainkan sesuai kemampuannya?
Pesan inspirasinya adalah, tetaplah niat untuk berqurban meskipun tidak untuk tahun ini. Dengan niat yang kuat insyaalloh tahun berikutnya Allah SWT akan memampukan kita untuk berqurban. Dan jika Allah sudah berkehendak, maka bisa jadi qurban kita tahun depan bukan seekor kambing tetapi seekor sapi. Amin. (*)














