
Seperti ajaran Islam, jenazah harus segera dimakamkan setelah yang bersangkutan meninggal dunia. Namun, dalam beberapa kasus, ada jenazah yang lama menunggu proses hukum atau proses administrasi, sehingga dimasukkan dulu ke dalam lemari es selama beberapa hari sampai ada kejelasan status jenazah tersebut. “Kasihan, kan. Secara umum butuh waktu seminggu,” katanya.
Dia juga teringat saat menangani jenazah WNI untuk dimakamkan di tanah air. Jenazah WNI tersebut sudah mendapat keterangan resmi negatif Covid-19 di Hongkong, tapi yang jadi masalah saat tiba di Indonesia ternyata harus dimakamkan dengan protokol Covid-19. “Jadi, kasihan keluarganya di Indonesia,” katanya.
Saat ini reputasi Fatimah sebagai petugas pemulasaran jenazah sudah terkenal. Tidak hanya di lingkungan diaspora Indonesia di Hongkong saja, tapi juga di kalangan muslim warga negara lain. Fatimah pun akhirnya menangani jenazah non-WNI dengan syarat harus perempuan dan muslimah.
Namun, Fatimah menolak tawaran memandikan jenazah non-muslim meski mendapat gaji lumayan besar. Pernah suatu ketika dia mendapat tawaran sebagai pengurus jenazah warga Hongkong. Dia menolak tawaran itu setelah mencermati para petugas pemulasaran jenazah warga setempat, terutama wajah mereka yang putih pucat, seperti mayat. Hal itu berbeda dengan petugas pemulasaran jenazah dari kalangan muslim yang wajahnya teduh menyejukkan.
Selain itu, tugas menangani jenazah non-muslim agak ribet sebab setelah memandikan jenazah juga harus meriasnya. “Ini tidak sesuai dengan ajaran Islam, sehingga saya tidak bisa menerima tugas itu, meski gajinya besar,” katanya.
Namun demikian, keluarganya di Surabaya tidak ada yang percaya bila dirinya menjadi modin yang bisa memandikan jenazah. Sebab, ketika di Surabaya, Fatimah dikenal sebagai seorang penakut. Karena itu, dia pun ingin membuktikan kepada saudaranya bila sekarang dia tidak lagi penakut.
Saat ibunya meninggal dunia, Fatimah pun memandikan sendiri jenazah sang ibunda. Dia menangis mengenang momen kesedihan itu. Namun dia bersyukur sebab di akhir hidupnya, sang ibu sudah menjadi muslimah. Fatimah menangis terharu bila mengenang ibunya.
“Saya membimbing ibu masuk Islam. Saya memandikan jenazah ibu saat Beliau meninggal. Sejak itu banyak yang tahu bila saya bisa memandikan jenazah dan banyak yang meminta saya memulasaran jenazah saat di Surabaya tapi saya tidak mau. Cukup ibu saya saja. Dan Fatimah akhirnya dikenal bukan lagi seorang penakut,” katanya.













