
Layak Dapat Penghargaan
Selama bertahun-tahun Fatimah mengabdi menjadi pemulasaran jenazah, tapi tidak pernah mendapat imbalan apa pun dari KJRI. Padahal, paling banyak yang dia tangani adalah jenazah WNI. Dan selalu saja bila ada WNI meninggal dunia, Fatimah lebih banyak berperan ketimbang empat seniornya yang semua sudah sepuh.
“Saya pernah minta bantuan masker, atau kain kafan, atau alat-alat lain untuk mengurus jenazah WNI, tapi sampai hari ini tidak diberi. Padahal, kadang saya harus mendatangkan dari Indonesia untuk bahan menangani jenazah bagi WNI tersebut. Para senior saya juga curhat, mengapa kita sering membantu menangani jenazah orang Indonesia, tapi kepingin makan masakan Indonesia saja tidak pernah merasakannya. Saya jadi tidak enak kan? Saya harap KJRI mengapresiasi kerja kami yang banyak menangani jenazah WNI ini,” katanya.
Dulu, kata dia, timnya pernah mendapat apresiasi dari Konjen Hongkong sekitar tahun 2012. Tim ini diundang berkunjung ke Indonesia. “Tapi sekarang tidak pernah. Padahal, untuk kegiatan lain, sering diberi penghargaan. Mestinya, misalnya, dalam rangka HUT RI, KJRI memberi penghargaan untuk pengabdian tim ini. Ya semacam memberi apresiasi-lah,” katanya.













