Suka Duka Menikah dengan Bule (2): Mau Berantem Mikir Grammar, Marah Pun Hilang

oleh

Guyonan Garing

Ketiga, budaya yang beda. Hal ini kadang menimbulkan kelucuhan. Bahkan saat mau guyonan saja sering tidak nyambung sebab tidak mengerti kelucuhan yang disampaikan. “Suka gak nyambung pokoknya guyonannya pun garing (kering) gitu loh,” ujarnya. 

Keempat, mereka harus diberi tahu bahwa para istri walau sudah bekerja sendiri tapi harus tetap diberi nafkah. Karena dalam dunia bule itu tidak ada istilah nafkah untuk istri. Yang ada uang itu adalah milik bersama. “Padahal kan gak bisa gitu hehehe,” katanya.

Kelima, banyak bule yang ada penyakit kejiwaan juga. Jadi harus hati-hati bila berkenalan bule. Namun Felly merasa beruntung mendapat suami yang normal kejiwaannya. “Karena banyak wanita Indonesia yang end up kena KDRT oleh partner atau suaminya karena suaminya ada gangguan jiwa,” katanya.

Keenam masalah agama. Banyak bule itu atheis dan agnostic. Jadi kalau kita mengharap bule bakal dengan mudahnya ikut agama yang kita anut itu kadang susah. Banyak di antara mereka gampang saja pindah agama tapi selanjutnya tidak pernah melakukan ibadahnya seperti sholat atau puasa wajib. 

Ketujuh, kalau masuk objek wisata Indonesia dikasih harga turis yang mana 10 kali lipat dari harga normal. “Entah kenapa bisa demikian? Padahal gak semua bule itu banyak duitnya loh,” ujarnya. 

Kedelapan, istri bule sering dikira guide-nya. Bahkan, dituduh baby sitter anak-anak atau kadang dibilang gold digger. “Kadang kita dikatain nikah sama bule karena cuma pengin tinggal di luar negeri,” katanya.

Kesembilan, bule itu sering straight forward. Kalau tidak suka langsung bilang tidak suka. “Jadi kadang suka bikin emosi. Kesepuluh lebih berduka lagi tuh kalo tinggal di negara bule dan bareng sama mertua hahahah dukanya jauh lebih banyak ya,” katanya. 

No More Posts Available.

No more pages to load.