Suka Duka Menikah dengan Pria Amerika: Harus Mandiri, Saat Musim Dingin Tiap Hari Keruk Salju Sendiri di Mobil

oleh
Joice Ardina Hanny
Joice Ardina Hanny bersama suami dan anaknya.

 

Pernikahan beda budaya merupakan fenomena yang sudah lama dan sering terjadi, karena jangankan di Amerika Serikat yang multi etnis, multi bangsa bahkan di Indonesia saja dengan banyaknya suku, dengan kebudayaannya masing-masing, tentu nikah beda budaya adalah keniscayaan. Seperti kisah saya merantau ke Amerika Serikat hanya bermodal niat dan tekad, hingga sekarang memilih pekerjaan yang bagus dan suami orang Amerika yang baik.

 

Oleh Joice Ardina Henny

 

SEPERTI pernikahan pada umumnya, menikah dengan seseorang dengan perbedaan latar belakang budaya dan negara tentu mengalami masa suka dan duka.

Banyak hal yang harus kami sesuaikan dengan pasangan agar dapat tercapai tujuan pernikahan yang selaras dan harmonis.

Awal menikah dengan pasangan beda budaya antara Indonesia dengan Amerika Serikat, tentunya kami menemukan banyak tantangan, namun kami harus saling menyesuaikan diri, saling beradaptasi, belajar budaya dan mengenal kebiasaan masing-masing baik dalam hal kehidupan sehari-hari, norma sosial, dan nilai-nilai tradisi sambil memperluas wawasan agar lebih memahami dan dapat menghargai perbedaan.

Apalagi dengan hadirnya buah hati kami, tentu saja saya lebih fokus untuk belajar budaya Amerika lebih jauh agar nantinya dalam membesarkan anak tidak canggung dengan lingkungan yang dihadapi.

BACA JUGA BERITA INI:

Laporan dari Amerika (1): Joice Bangga Bisa Promosikan Seni Budaya RI di Negeri Paman Sam

Laporan dari Amerika (2): Polisi Itu Pun Ingin Belajar Tari Remo

Hidup di Amerika Serikat khususnya di New Hampshire suatu kota yang relatif kecil untuk ukuran di sini, maka saya merasakan udara yang bersih dan sejuk serta lebih merasa nyaman lagi karena suasana kota teratur, penduduknya cukup disiplin dan ontime, jarang terlambat dalam hal appointmen, dan lain-lain, apalagi budaya antre sangat dijunjung tinggi, menjadikan kami nyaman tinggal di kota ini.

Joice Ardina Hanny
Joice Ardina Henny bersama suami dan anaknya.

Di samping itu karena multi etnis maka hampir tidak ada istilah body shaming, di mana orang – orang sangat memahami kekurangan masing-masing atau selalu menjaga perkataan agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Sungguh kota yang menyenangkan.

Kendala Bahasa

Masalah utama penikahan beda budaya pada umumnya ada di komunikasi, bahasa kami yang berbeda tentu menjadi kendala dalam kebiasaan sehari-hari, kadang kami tidak memahami maksud pasangan sebenarnya dengan gaya komunikasi dalam menyampaikan sesuatu sehingga timbul kesalahpahaman yang berujung perselisihan.

Hal ini kerapkali kami alami pada usia pernikahan yang masih baru, namun seiring berjalannya waktu lambat laun perbedaan-perbedaan ini mulai dapat diatasi dengan terus saling belajar dan saling beradaptasi agar tidak terjadi perselisihan yang lebih fatal.

Suami amerikaku
Suamiku bekerja sebagai polisi.

Selain masalah bahasa, kami juga menemui kendala dalam hal pola asuh anak. Bagaimanapun tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh yang diterapkan oleh kedua orang tuanya.

Suami saya yang terbiasa disiplin tentu menerapkan kebiasaan ini kepada anak-anak kami, sementara saya orangnya lebih santai dan lebih mengedepankan perasaan. Hal inilah yang menjadikan kami kadang sulit untuk mengambil keputusan.

Selain itu, karena karakter kami berdua secara pribadi juga berbeda. Suami cenderung pendiam dan bersikap lugas seperti umumnya pria Amerika Serikat sedangkan saya sebagai wanita Indonesia dikenal ramah dan luwes dalam pergaulan. Kadang ketika ada pertemuan dengan teman-teman entah di lingkungan rumah atau undangan-undangan di tempat lain, sering kali hanya karena hal-hal sepele karena salahpaham, akhirnya timbul perselisihan yang tidak perlu.

Pergantian Musim

Duka atau masalah yang sering dihadapi lainnya adalah karena di sini ada 4 musim yang silih berganti. Terutama pada saat WINTER sangat terasa dampaknya.

Udara sangat dingin ekstrem apalagi bila ada badai salju, praktis tidak dapat bepergian ke mana-mana, kalaupun harus keluar rumah maka kami harus membersihkan lapisan salju yang menutupi body mobil sendirian tanpa ada bantuan dari asisten rumah tangga dan ini cukup melelahkan apabila tiap hari harus dilakukan. Itulah mengapa ketika SUMMER tiba saya dan keluarga banyak melakukan liburan ke pantai, ke taman kota atau bahkan ke negara bagian lain di Amerika agar dapat memanfaatkan suasana segar tersebut dengan sebaik-baiknya.

Rindu Pulang Kampung

Seperti sudah disampaikan di awal, tentu saja hidup di Amerika Serikat ada suka dan dukanya. Di Indonesia pun walau di negara sendiri sama saja. Tetapi sebagai negara yang sangat maju maka Amerika Serikat menawarkan berbagai kesempatan pendidikan dan pekerjaan, termasuk peluang di bidang teknologi, bisnis, dan akademik. Selain itu peluang untuk membangun kehidupan yang lebih baik, terutama bagi mereka yang memiliki visa kerja atau studi.

Diaspora Indonesia di Amerika
Menari melestarikan seni budaya Indonesia di Amerika.

Awal-awal berada di USA selain takjub dengan kemewahan, semua serba canggih & modern, serta kemajuan di segala bidang, namun tak dipungkiri rasa homesick sangat mengganggu hari-hari saya beraktifitas, rasanya sehebat apa pun negara orang tetap tak bisa menghilangkan rasa rindu saya terhadap kampung halaman, rindu akan keluarga, teman-teman dan kuliner khas Indonesia kesukaan saya seperti Gado-gado, Rawon, Pempek, Nasi Timbel, Tempe Mendoan, Gudeg, Siomay, Risoles, dan lain-lain cukup mengganggu pikiran saya.

Ada istilah yang sering dibahas yaitu CULTURE SHOCK di mana kita mengalami rasa terasing di negara orang, tetapi dengan berjalannya waktu tetap saja saya merasa bersyukur dan tidak pernah meninggalkan jatidiri saya sebagai orang Indonesia yang kaya akan budaya, tradisi serta nilai-nilai lokal yang telah membentuk identitas pribadi saya.

Di samping terkendala masalah waktu karena padatnya aktifitas saya sehari-hari, maka untuk mengatasi masalah rindu pulang kampung ini saya harus merencanakan dengan matang jauh-jauh hari sebelumnya karena menyangkut waktu yang tepat agar dapat berangkat bersama, mengingat biaya yang diperlukan pun tidak sedikit, serta kendala jarak yang jauh tentu harus siap dalam segala hal.

Untuk rencana pulang kampung ini biasanya saya diskusikan dengan anak-anak dan suami, setelah sepakat kemudian kami koordinasikan dengan saudara-saudara kami di Indonesia seperti menyangkut penjemputan, akomodasi, transportasi, lama tinggal, tujuan perjalanan/destinasi wisata selama berada di Indonesia, dan lainnya

Setelah lama tinggal di USA kami menjadi terbiasa dengan planning & tour programme pulang kampung ini, beruntung beberapa kakak saya cukup berpengalaman di bidang pariwisata. Hal ini sangat membantu dan mempermudah kami untuk melakukan perjalanan wisata ke mana pun.

Terakhir, untuk pengalaman pribadi di mana pada awalnya saya ketika datang pertama kali tidak memiliki apa-apa, tetapi sekarang sudah cukup lengkap yaitu punya rumah pribadi, dan finansial yang cukup memadai, di samping kemudahan untuk berinteraksi dengan berbagai budaya serta bangsa lainnya sehingga semakin banyak kesempatan untuk menikmati hiburan yang lebih variatif, sebab di Amerika Serikat banyak sekali jenis hiburan, seperti konser musik kelas dunia, acara olahraga, dan berbagai festival budaya lainnya.

Secara garis besar, menjadi pendatang apalagi dari Indonesia memang banyak suka dan dukanya.

Mungkin pengalaman di atas hampir rata-rata sama di alami oleh mereka yang merantau ke negara orang. Akan tetapi semua itu tergantung niat, daya tahan, dan daya juang seseorang agar berhasil mengejar cita-citanya.

Terlebih harus diakui bahwa potensi untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi diri sendiri dan keluarga sangat terbuka.

Demikian, kisah singkat saya selama berada di Amerika Serikat dari pertama datang tanpa membawa apa-apa kecuali tekad yang kuat untuk mencari kehidupan yang jauh lebih baik. Kemudian berjodoh dengan suami warga negara Amerika Serikat dan mendapat amanah 2 anak gadis yang sekarang beranjak dewasa, punya pekerjaan tetap yang terhormat dan hidup rukun damai dengan berbagai warga negara lain khususnya warga negara Indonesia di kota ini.

Semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi atau motivasi bagi diaspora atau sahabat-sahabat di Indonesia yang ingin merantau ke Amerika Serikat.

Satu kata…Kita Bisa Karena Kita Adalah Bangsa Petarung. Saya bangga menjadi wanita Indonesia yang bisa menjaga & melestarikan kekayaan seni dan budaya Indonesia di negara orang, terlebih dengan upaya inilah saya dapat tetap mencintai INDONESIA. Salam budaya! (*)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.