Temuan COURSERA Ijazah Tak Lagi Penentu Utama, Ketua ICMI Jatim: Saatnya Anak Pesantren Tunjukkan Skill 

oleh

SURABAYA| DutaIndonesia.com – Pendidikan di Indonesia, khususnya perguruan tinggi, harus segera berubah seiring tuntutan zaman. Sesuai Laporan Dampak Micro Credentials 2026 yang diterbitkan Coursera, sekarang gelar dari kuliah di perguruan tinggi mulai kehilangan peran sebagai penentu utama proses rekrutmen tenaga kerja. Pasalnya, perusahaan kini lebih mengutamakan bukti keterampilan yang dimiliki pelamar dibandingkan indikator tradisional, seperti indeks prestasi kumulatif (IPK) maupun nama perguruan tinggi.

Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Timur, Pitono Nugroho, kepada DutaIndonesia.com, Rabu (15/7/2026), mengatakan, bahwa laporan Coursera 2026 itu sebenarnya bukan berita baru. Laporan  itu merupakan konfirmasi dari apa yang sudah terjadi di lapangan.

Faktanya sederhana, bahwa gelar bukan musuh tapi tidak lagi cukup. Di startup digital, misalnya, yang ditanya bukan “IPK berapa?” tapi “tunjukkan github kamu.” Begitu pula di UMKM Jatim, sertifikat bootcamp mengalahkan ijazah kalau skillnya langsung bisa dipakai.

“Kampus kita ada di persimpangan. Yang bertahan hanya yang berani berubah dari pabrik ijazah menjadi pabrik talenta — kurikulum bersama industri, dosen yang praktisi, output berupa ijazah plus portofolio plus sertifikasi skill. Dan inilah yang paling penting bagi saya sebagai Ketua ICMI Jatim: Ini momentum anak pesantren dan anak desa. Mereka kini bisa bersaing dengan lulusan PTN (perguruan tinggi negeri) bergengsi — cukup dengan skill, sertifikat, dan akhlak yang kuat,” kata pria yang baru terpilih sebagài Ketua ICMI Jatim pada Muswil yang digelar di Plaza Airlangga Kampus C Unair, Surabaya, Sabtu (4/7/2026) lalu.

Pitono menegaskan, saat ini yang dicari dunia kerja 2026 bukan gelar. Yang dicari adalah orang yang bisa kerja, terus belajar, dan bisa dipercaya. “Mengawal kampus agar melahirkan orang seperti itu — itulah salah satu tugas ICMI Jatim yang tidak bisa kita tunda,” katanya.

Ia mengatakan, tantangan zaman semakin besar seiring makin besarnya minat investor masuk Indonesia untuk mengembangkan industri lantaran kekayaan alam negeri ini yang melimpah. Ia memberi contoh kekayaan alam berupa lautan yang sangat besar, tapi orientasi pendidikan untuk menyiapkan SDM berkualitas dan kuat, tidak mengarah ke arah maritim tersebut. Begitu pula di dunia pertambangan, seperti tambang Nikel di Morowali, Sulawesi Tengah. “Belum lagi kalau bicara logam tanah jarang yang melimpah di bumi Indonesia. Itu gapnya besar sekali. Ini yang harus dijawab dunia pendidikan kita,” kata pria yang juga pengusaha ini.

Ia lalu mengingatkan saat B.J. Hababie merintis industri dirgantara pertama di Indonesia. Pesawat N-250 adalah pesawat penumpang pertama buatan anak bangsa di bawah arahan B.J. Habibie. Pesawat ini sukses melakukan penerbangan perdananya (take-off/landas) dari landasan pacu di Bandung pada 10 Agustus 1995. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional. “Era semacam itu harus terus berlanjut,” katanya.

Seperti diketahui, Laporan Dampak Micro Credentials 2026 yang diterbitkan Coursera menunjukkan 98 persen perusahaan di tujuh negara telah menerapkan perekrutan berbasis keterampilan untuk posisi entry level. Sebanyak 86 persen di antaranya mengaku menerapkan pendekatan tersebut secara luas.

“Sembilan puluh lima persen pihak pemberi kerja menyatakan bahwa micro credentials (sertifikat kompetensi/keahlian spesifik) merupakan pembeda kunci antara kandidat, dan 87 persen menilainya sebagai hal yang sangat penting dalam pengambilan keputusan perekrutan, melampaui kriteria tradisional seperti IPK dan almamater,” tulis laporan tersebut.

Perubahan pendekatan rekrutmen juga mulai memengaruhi kebijakan kompensasi perusahaan. Sebanyak 94 persen pemberi kerja menyatakan bersedia menawarkan gaji awal yang lebih tinggi kepada lulusan yang memiliki micro credentials.

Menurut Coursera, perusahaan semakin membutuhkan bukti keterampilan yang relevan dengan pekerjaan karena kebutuhan dunia kerja berubah semakin cepat. Sebanyak 61 persen pemberi kerja memperkirakan lebih dari 30 persen keterampilan inti dalam pekerjaan akan berubah sebelum 2030.Data tersebut menunjukkan bahwa pihak pemberi kerja memprioritaskan bukti keterampilan di atas bukti ‘kelulusan’, dan menyoroti hal yang harus dipenuhi universitas, bukan hanya pendidikan, tetapi juga bukti terverifikasi atas keterampilan siap kerja,” tulis laporan tersebut.

Menurun Laporan tersebut perekrutan berbasis keterampilan memberi manfaat bagi perusahaan. Sebanyak 58 persen pemberi kerja menyatakan micro credentials secara signifikan mengurangi risiko perekrutan. Kemudian, 73 persen menyebut pelamar yang memiliki micro credentials bergerak lebih cepat dalam proses rekrutmen.Dari sisi produktivitas, 92 persen perusahaan menyatakan karyawan entry level yang memiliki micro credentials menunjukkan kinerja lebih baik pada tahun pertama.

Sebanyak 73 persen juga menilai kelompok tersebut lebih cepat memperoleh promosi atau tanggung jawab yang lebih besar. Laporan itu juga mencatat dampaknya terhadap lulusan. Sebanyak 87 persen lulusan yang memiliki micro credentials mengaku memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang studinya dalam waktu 12 bulan setelah lulus. Sebanyak 83 persen lulusan yang telah bekerja menyatakan micro credentials berperan penting dalam memperoleh pekerjaan mereka. (gas)

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.