SURABAYA | DutaIndonesia.com – Sholat lima waktu adalah kewajiban setiap Muslim dan Muslimah. Karena sholat merupakan tiang agama. Bila tiangnya rapuh, maka ambruklah semua bangunan agamanya.
Hal ini ditegaskan oleh Prof DR KH Asep Saifuddin Chalim MAg, Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, saat memberikan kuliah subuh, pagi tadi di Siwalan Kerto, Wonocolo, Surabaya.
“Setiap muslim wajib mengerjakannya dan tidak boleh menyia-nyiakannya. Dan dalam pelaksanaannya, harus menjaga waktu pelaksanaannya, thuma`ninahnya dan khusyu’nya.”
Dikatakan oleh Kiai Asep, bahwa kewajiban melaksanakan sholat itu sejak berumur tujuh tahun dan terus berlanjut sampai wafat. Jika shalat lima waktu ini dijaga dengan semua ketentuan di atas, maka dijamin masuk surga.
Adapun orang yang menyia-nyiakan shalat, terkadang dia shalat dan terkadang tidak, atau hanya sebagian shalat saja yang dikerjakan, atau dia shalat tetapi tidak thuma`ninah sama sekali dan mengerjakannya tidak sesuai dengan perintah Allâh Azza wa Jalla dan contoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka orang yang seperti ini tidak ada jaminan dari Allâh Azza wa Jalla. Jika Allâh kehendaki, Allâh akan adzab dia, dan jika Allâh berkehendak, Allâh bisa mengampuninya.
“Ingat anak-anak, orang yang meninggalkan shalat, berarti telah berbuat dosa besar, dosa yang paling besar, lebih besar dosanya dibanding dosa membunuh jiwa, mengambil harta orang lain. Lebih besar dosanya daripada dosa zina, mencuri dan minum khamr. Orang yang meninggalkan shalat akan mendapatkan hukuman dan kemurkaan Allâh di dunia dan di akherat,” kata Kiai Asep.
Dijelaskan Kiai Asep, bahwa pokok segala urusan itu adalah Islam, tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.
Rasulullah telah bersabda: “Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk, maka seluruh amalnya pun buruk.”
Yang perlu diperhatikan dalam mengamalkan shalat;
1. Wajib Dikerjakan pada Waktunya
Ketahuilah bahwa shalat fardhu itu wajib dikerjakan pada waktunya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diajarkan oleh Malaikat Jibril tentang waktu-waktu shalat, mulai dari shalat Shubuh sampai shalat ‘Isya’. Kemudian, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada ummatnya untuk mengerjakan shalat pada waktunya.
Karena, Allâh Azza wa Jalla telah menyuruh kita untuk mengerjakan shalat pada waktu yang telah ditentukan Allâh.
2. Wajib Mengerjakan Sesuai Contoh Nabi Muhammad
Laksanakanlah shalat lima waktu sesuai dengan tata cara yang dicontohkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
Kita wajib ikhlas dan mencontoh Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melakukan shalat sehingga shalat kita dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla : “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” [Al-Ankabût/29:45]
3. Shalat Harus Dikerjakan dengan Thuma`ninah dan Khusyu’
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menjaga shalat lima waktu: ruku’nya, sujudnya (dengan thuma’ninah), pada waktu-waktunya, kemudian ia mengetahui bahwa perintah ini benar-benar datangnya dari Allâh, maka ia akan masuk surga,” atau Beliau bersabda, “Wajib atasnya surga,” atau Beliau bersabda, “Ia diharamkan masuk neraka.”
Seseorang wajib thuma`ninah dalam semua gerak shalatnya, wajib thuma`ninah ketika berdiri, ruku’, i’tidâl (sesudah bangkit dari ruku’), sujud, duduk antara dua sujud, ketika duduk tasyahhud awal dan tasyahhud akhir.
Barang siapa yang tidak thuma`ninah maka tidak sah shalatnya.
Demikian juga khusyu’ dalam shalat. Khusyu’ adalah hati seseorang tunduk, patuh, merendah, dan tenang di hadapan Allâh Azza wa Jalla . Setiap Mukmin dan Mukminah wajib khusyu’ dalam shalatnya.
Bagaimana meraih khusyu’ dalam shalat? Berikut beberapa kiat untuk meraih khusyu’ dalam shalat.
1. Mengingat kematian
Dari Anas Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ingatlah kematian dalam shalatmu! Jika seseorang mengingat kematian dalam shalatnya niscaya ia akan melakukan shalatnya dengan baik.
Shalatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia akan melakukan shalat yang lainnya (karena meninggal).
2. Merenungkan makna dari bacaan-bacaan yang ada dalam shalat
Ketika seorang hamba sedang mengucapkan, “Allâhu Akbar,” dia akan selalu membayangkan makna kalimat tersebut dan segala sesuatu yang menyangkut keagungan-Nya.
Dengan mengerti dan memahami makna kalimat dalam sholat, maka kita meresapi dan menghayati setiap ucapan kita. Termasuk makna-makna yang terkandung di dalam basmalah, tasbîh, dan shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
3. Meninggalkan dosa dan maksiat
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
Sesungguhnya Allâh tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri [Ar-Ra’d/13:11]
Kemaksiatan merupakan penghalang yang merintangi kekhusyu’an dalam shalat, sebaliknya memperbanyak kebaikan dapat menjadikan shalat lebih baik dan lebih khusyu’.
4. Tidak banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Janganlah banyak tertawa karena banyak tertawa itu dapat mematikan hati.
5. Memilih pekerjaan yang sesuai
Hal ini dengan mempertimbangkan beberapa segi:
Pertama : Dari segi kehalalan, karena Allâh tidak menerima kecuali yang thayyib (halal), sedang makan barang yang haram menjadikan do’a tidak terkabul dan kekhusyu’an sirna.
Kedua: Pekerjaan tersebut tidak bentrok dengan waktu-waktu shalat.
Ketiga: Diusahakan mencari pekerjaan yang tidak terlalu melelahkan sehingga ketika tiba waktu shalat, ia pun dapat menghadap Rabb-nya dengan hati yang khusyu’.
6. Tidak terlalu sibuk dengan urusan dunia
Sibuk terhadap dunia dapat mengurangi perhatian terhadap akhirat. Ambillah dunia sekedar untuk menutupi kebutuhanmu dan keluarga. Jika pekerjaan pada waktu pagi sudah cukup, tidak usah bekerja pada waktu sore. Jika sudah sukses dalam bisnis tertentu, tidak usah sibuk dalam bisnis lain yang dapat menghilangkan konsentrasi pikiran dan membuat kita lupa kepada Allâh Azza wa Jalla , juga melupakan diri sendiri dan keluarga. (Moch. Nuruddin)













