Warga Takut Sirine Mobil Pejabat, Polda Kerahkan Pasukan ke Bangkalan

oleh
Pos pantau larangan mudik di Bangkalan. (Sindonews)

Mencekam

Sekretaris MWC NU Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, Soepandi, saat dihubungi DutaIndonesia.com dan Koran Global News, Rabu 9 Juni 2021, membenarkan, bahwa petugas gabungan termasuk dari kepolisian gencar melakukan sosialisasi prokes khususnya kepada keluarga yang terkena Covid-19, agar bersedia di-tracking atau tracing. Tujuannya mendeteksi dan mencegah secara dini kemungkinan terjadinya penyebaran Covid-19.

“Kami warga NU sangat mendukung upaya semua pihak yang secara maksimal melakukan kegiatan itu agar situasi ini segera pulih. Kami dari MWC NU Arosbaya berharap masyarakat patuh dan disiplin menerapkan prokes, bermasker dan tidak keluar rumah kalau tidak ada kepentingan yang sangat memaksa. Kami imbau terus meningkatkan ibadah, berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar situasi ini segera pulih dan normal kembali seperti sedia kala. Tapi jangan cemas, jangan takut, cukup waspada dan hati hati saja,” katanya.

Sejumlah pihak mengkhawatirkan tradisi “toron” alias mudik saat Lebaran Idul Adha 1442 Hijriyah mendatang akan memicu lagi melonjaknya Covid-19 di Bangkalan. Namun Soepandi memastikan tradisi “toron” tidak akan banyak dilakukan oleh warga Arosbaya pada Lebaran Idul Adha 1442 Hijriyah kali ini. “Kalau di Arosbaya, saat Idul Adha cenderung tidak ada peningkatan orang toron,” ujarnya.

Di tempat terpisah Moch. Amin SAg M.Ikom, ketua PWI Bangkalan, menambahkan saat ini kondisi di Bangkalan cukup sepi. Tidak seperti biasanya. Kondisi itu membuat suasana bertambah mencekam. Terlebih dengan adanya hilir mudik mobil polisi bersirine yang mengawal petugas atau pejabat yang mengunjungi daerah zona merah.

“Warga takut keluar rumah sebab banyak mobil polisi mengawal pejabat, petugas, dan ambulans hilir mudik dengan bunyi sirinenya. Warga tidak takut virus Corona atau Covid-19, tapi takut ke aparat yang melakukan tes antigen di jalan-jalan kabupaten yang dilakukan secara masif. Ini juga membuat warga betah tinggal di rumah sebab keluar rumah memang sangat berbahaya,” kata Amin kepada DutaIndonesia.com dan Global News Rabu 9 Juni 2021.

Sebelumnya seorang pengendara asal Madura kembali berusaha melarikan diri saat akan dilakukan swab tes antigen di pos penyekatan Jembatan Suramadu sisi Surabaya. Berdasarkan informasi, pengendara tersebut diduga takut lantaran mengira akan disuntik petugas tenaga kesehatan. Padahal, petugas di sana hanya akan melakukan tes antigen kepada yang bersangkutan.

Sontak, aksi itu membuat petugas kalang kabut. Mereka langsung mengejar yang bersangkutan, kemudian menenangkannya sembari memberikan edukasi. “Dia lari takut. Dia bilang saya jangan disuntik. lho yang mau nyuntik itu siapa?” kata Camat Sawahan M Yunus kemarin yang ikut mengejar warga bernama Abdullah itu.

Yunus mengungkapkan, dirinya memberikan pemahaman kepada yang bersangkutan terkait pelaksanaan kegiatan penyakatan disertai tes antigen, di pintu masuk Jembatan Suramadu dari arah Madura menuju Surabaya. “Akhirnya walaupun berat, ya saya coba kejar. Saya sampaikan ke dia, ini pemerintah mau ngobatin panjenengan, bukan mau diapa-apain,” ujar Yunus.

Yunus kemudian juga memberikan pengertian kepada pengendara tersebut, bahwa di tempat isolasi yang disediakan pemerintah, dia akan dirawat dan diberikan makanan sehat serta vitamin. “Sampeyan di sana disuruh istirahat, makan enak, minum vitamin. Edukasi saja, kalau Covid-19 itu bukan disuntik,” kata Yunus. Pengendara itu, kata Yunus, merupakan warga dari Kecamatan Geger, Bangkalan. Saat dilakukan tes swab antigen, hasilnya reaktif Covid-19. “Hasilnya positif antigen, diisolasi,” ungkap dia.