MOSKOW|DutaIndonesia.com – Udara dingin di The State Museum of Oriental Art kota Moscowberubah hangat dan terasa nuansa Indonesianya saat Sanggar Seni Binaan KBRI Moskow, Gamelan Dadali Moscow menampilkan pertunjukan wayang kulit dalam dua bahasa—Bahasa Jawa dan Bahasa Rusia. Pertunjukan wayang tersebut sukses memikat sekitar 150 penonton dari berbagai kalangan dan usia yang memenuhi ruang pertunjukan museum.
Pagelaran wayang tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan seni yang digelar oleh pihak museum untuk memeriahkan pameran “People, Puppets, Masks. Theatre of the Far East and Southeast Asia” yang telah digelar sejak Desember tahun lalu. Kehadiran wayang kulit Indonesia menjadi salah satu sorotan utama dalam upaya memperkenalkan kekayaan teater tradisional Asia Tenggara khususnya Indonesia kepada publik Rusia.
Lakon “Kumbayana” dibawakan dengan penuh penghayatan oleh dalang Ki Tri Koyo, yang juga merupakan pelatih Grup Gamelan Dadali Moskow. Cerita ini mengisahkan persahabatan antara Kumbayana, putra Resi Baratmaja dari Negeri Atas Angin dengan Sucitra. Persahabatan keduanya diuji oleh ego dan kesalahpahaman yang berujung konflik berkepanjangan. Dalam perjalanan mencari sahabatnya, Kumbayana bertemu Dewi Wilutama yang berwujud seekor kuda, yang membantunya menyeberangi lautan—sebuah simbol pertolongandan perjalanan manusia.
Keistimewaan pertunjukan ini terletak pada penyajiannya yang dwibahasa. Dialog dan narasi tidak hanya disampaikan dalam Bahasa Jawa, tetapi juga diterjemahkan secara langsung ke dalam Bahasa Rusia oleh Anastasia Sycheva, sehingga alur cerita dapat dipahami secara utuh oleh penonton lokal. Pertunjukan juga mengambil konsep pertunjukan wayang jaman dulu yaitu menyajikan pertunjukan bayangan.
Sebelum pertunjukan dimulai, Ulyana Klimenko, salah satu siswi dari Gamelan Dadali, memberikan pengantar mengenai wayang kulit serta memperkenalkan tokoh-tokoh yang akan tampil dalam lakon “Kumbayana”. Penjelasan ini membantu penonton memahami filosofi dan karakter dalam cerita, sekaligus memperkaya pengalaman menyaksikan pertunjukan.
Acara dibuka oleh Sofya Chertikhina selaku Penasihat Direktur Jenderal Bidang Kerja Sama Internasional museum. Sofya menyampaikan apresiasi atas kolaborasi budaya yang terjalin antara KBRI Moskow dan Museum Oriental. Sambutan kemudian dilanjutkan oleh pejabat KBRI Moskow, Erna Herlina, yang menegaskan komitmen KBRI dalam mendukung promosi budaya Indonesia di Rusia serta menyampaikan terima kasih kepada Museum Oriental atas kerja sama yang erat.
Pertunjukan semakin semarak karena iringan gamelan dimainkan oleh para generasi muda Rusia dan Belarus. Para pemain gamelan tersebut diantaranya, Ekaterina Makanina (Kendang), Julia Ryzhaya (Bonang Barung), Anastasia Khorina (Bonang Penerus), Aleksandra Fedorova (Demung), Ulyana Klimenko (Saron), Artem Enikeev (Saron), Gleb Zaharov (Saron), Widya Intoyo (Peking), Elena Govorova (Slentem), Dmitriy Koshkin (Kenong), serta Taufiq Maulana (Gong).
Kolaborasi lintas negara ini menghadirkan harmoni budaya yang memukau dan membuktikan bahwa seni tradisi mampu menjembatani perbedaan bahasa dan latar belakang.Dukungan penuh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Moskow menjadi kunci terselenggaranya kegiatan ini. Pertunjukan wayang kulit tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga wujud nyata diplomasi budaya Indonesia di Rusia.
Melalui kisah “Kumbayana” yang sarat nilai persahabatan, kesetiaan, dan refleksi diri, Gamelan Dadali Moskow sekali lagi menunjukkan bahwa warisan budaya Indonesia mampu berbicara lintas bahasa, lintas generasi, dan lintas bangsa. (Tri Koyo)












