KUALALUMPUR| DutaIndonesia.com – Ketua Bidang Ekonomi dan Koperasi PCI Muslimat NU Malaysia, Ainul Mardiyah, resmi menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ekonomi, Bisnis dan Teknologi Digital pada September 2026. Pendidikan tersebut diselesaikannya dalam waktu satu tahun dengan capaian IPK 3,86.
Di usianya yang telah mencapai 50 tahun, Ainul tetap menjalani perkuliahan di tengah kesibukan pekerjaan dan aktivitasnya bersama Muslimat NU Malaysia.
Pendidikan yang dijalaninya juga menghasilkan karya ilmiah berjudul “Pengaruh Kompetensi dan Motivasi terhadap Kinerja Guru melalui Kepuasan Kerja di Sanggar Bimbingan Sungai Mulia 5.”
Setelah resmi menyelesaikan pendidikan, Ainul mengaku merasa gembira sekaligus lega.
“Ya pasti gembira dan lega,” ungkapnya.
Namun, perjalanan menyelesaikan kuliah tidak selalu mudah. Salah satu tantangan yang dihadapinya adalah benturan antara jam kerja dan jadwal perkuliahan melalui Zoom. Selain itu, ia juga harus menghadapi kelelahan fisik dan mental karena aktivitas yang berlangsung sejak pagi hingga malam.
“Adakalanya jam kerja bertembung dengan jam Zoom kelas dan lelah fizik dan mental double. Pagi petang otak dipakai untuk bekerja dan malam pula dipakai untuk kuliah. Lama-lama jadi burnout dan mudah emosi. Adakalanya mengalami jaringan internet juga,” tuturnya.
Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Ainul memilih segera menyelesaikan tugas setelah diberikan. Ia juga secara khusus menyediakan waktu untuk beristirahat agar tidak mengalami tekanan berlebihan.
“Saya akan mengerjakan tugasan sehari selepas diberikan dan dalam satu minggu saya akan kosongkan satu hari untuk diri saya dari segala kegiatan agar saya tidak stres dan burnout,” jelasnya.
Sementara dalam membagi waktu antara perkuliahan dan kegiatan Muslimat, Ainul menggunakan tiga prinsip yang ia sebut sebagai “Prioritas – Jadwal – Batasan.”
Lebih jauh, Ainul menjelaskan bahwa prinsip prioritas, jadwal, dan batasan diterapkannya dengan menyesuaikan kebutuhan yang sedang dihadapi. Ketika akan menghadapi ujian akhir semester (UAS), misalnya, ia menjadikan kuliah sebagai prioritas utama dan mengesampingkan sementara kegiatan lainnya.
Ia juga menyusun jadwal yang mencakup kuliah, pekerjaan, dan kegiatan organisasi Muslimat NU. Sementara itu, batasan diterapkan dengan memilih kegiatan yang akan diikuti apabila terdapat agenda Muslimat selama dua hari berturut-turut.
“Contohnya, sekiranya ada kegiatan Muslimat dalam dua hari berturut-turut, misalnya Sabtu dan Minggu, maka saya memilih salah satu dari hari tersebut,” jelasnya.
Strategi inilah yang kemudian mengantarkan Ainul mampu meningkatkan kapasitas dirinya di tengah berbagai tanggung jawab yang dijalankan.
Ketua Umum PCI Muslimat NU Malaysia, Dra. Mimin Mintarsih, yang merupakan pimpinan organisasi di mana Ainul bergabung, menyatakan rasa bangga. “Saya sebagai Ketua PCI Muslimat NU Malaysia merasa bangga karena meski sangat sibuk, Mbak Ainul ini masih semangat untuk mencari ilmu,” tuturnya. (Mimin/Aziz)













