SURABAYA | DutaIndonesia.com – Sesungguhnya Allah menugaskan Muhammad Rasulullah Adalah untuk memperbaiki akhlaknya, dan dengan mengajak untuk menegakkan sholat, baik yang wajib maupun sunnah.
Hal ini di tegaskan oleh Prof DR KH Asep Syaifuddin Chalim MA, pendiri dan pengasuh Ponpes Ammanatul Ummah pada para santrinya, saat ngaji kitab kuning Senin subuh di Pondok Siwalankerto, Wonocolo, Surabaya, 7/9/2026.
“Bahkan Rasulullah bersabda dalam duaq hadist-nya yang popular,” tegas Kiai Asep sambil membacakan hadis dalam Bahasa Arab, yang kemudian ditirukan dan dihafalkan klangsung pada para santriwan dan santriwati.
Hadist pertama, Rasulullah bersabda; “Tuhanku memerintahkan aku untuk memperlakukan manusia dengan baik (lemah lembut/bermuka manis) sebagaimana Dia memerintahkan aku untuk menunaikan hal-hal yang wajib (termasuk shalat wajib).”
Sedang hadist ke dua, Rasulullah bersabda; “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada; iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya menghapusnya; dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi)
“Jadi anak-anak, kalian harus bisa beramaliah setiap hari untuk melakukan perilaku yang baik atau disebut ‘mudaaraatun’ (perintah berbuat baik / bermuka manis), pada siapa pun. Baik kepada saudara, teman yang jahat, teman yang nakal, pokonya siapa pun,” kata Kiai Asep.
“Memang befitulah akhlak seorang mukmin ! Sehingga banyak orang kafir, yang tersentuh dan terbuka hatinya, sehingga masuk Islam” kata Kiai Asep.
Meski demikian, sebagai seorang muslim yang cerdas, tetap harus berhati-hati atau waspada. Jangan sampai kebaikkan kita dimanfaatkan oleh mereka. Misalnya dengan menjebak kita, menipu kita, memfitnah kita, dan seterusnya.
WAKTU SHOLAT
Sementara perintah sholat, pada dasarnya untuk kepentingan manusia itu sendiri. Karena dengan sholat, manusia tersebut bisa terhindar dari perbuatan mungkar dan keji. Dan bisa juga melindungi mereka dari perbuatan mungkar dan keji itu sendiri.
Pada kesempatan tersebut, Kiai Asep mengatakan, sebagai seorang muslim, meski di zaman ini, ada jam, namun tetap harus bisa mengetahui kapan masukknya waktu sholat, dan kapan habisnya waktu sholat, tanpa melihat jam.
“Jadi sholat itu sudah ditentukan waktunya. Kita tidak bisa mengerjakan sholat, dengan waktu sesuka-sukanya. Untuk itu, kalian harus tahu Batasan-batasan waktu sholat, baik dengan melihat jam, atau tanpa jam dengan melihat gejala alam,” jelas Kiai Asep.
1. Waktu Sholat Dhuhur: mulai sejak tergelincirnya matahari hingga bayangan setiap benda sama seperti bendanya selain bayangan istiwa’ (bayang benda pada saat matahari berada pada pertengahan langit), shalat dhuhur lebibh baik dilakukan segera kecuali dalam kondisi yang sangat panas, sunnahnya diakhirkan sehingga panas menurun menjadi dingin, dikerjakan dengan empat rakaat.
2. Waktu Ashar: mulai sejak habisnya waktu dhuhur hingga matahari berwarna kekuning-kuningan. Dan waktu darurat (yaitu wajib dilakukan dengan segera) sampai terbenamnya matahari. Shalat ini disunnahkan agar segera dilaksanakan, dan jumlahnya empat rakaat.
3. Waktu Maghrib: mulai sejak terbenamnya matahari sampai hilangnya mega-mega merah, dan shalat ini dianjurkan untuk disegerakan, dan jumlahnya tiga rakaat.
4. Waktu Isya’: mulai dari hilangnya mega merah sampai pertengahan malam, adapun waktu darurat, hingga terbitnya fajar kedua, jika memungkinkan dianjurkan untuk mengakhirkannya sampai sepertiga malam, jumlahnya empat rakaat.
5. Waktu Subuh: mulai sejak terbit fajar yang kedua hingga terbitnya matahari, shalat ini lebih baik disegerakan, dan jumlahnya dua rakaat.
Qur’an Surat Al -Isra’/ 17: 78) menyebutkan: “Dirikanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh! Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).
Qur’an Surat Ar-Rum /30: 17-18) menyebutkan: “Bertasbihlah kepada Allah ketika kamu berada pada waktu senja dan waktu pagi. Segala puji hanya bagi-Nya di langit dan di bumi, pada waktu petang dan pada saat kamu berada pada waktu siang.(Moch Nuruddin)













